MIMIKA – Alunan irama reggae yang identik dengan pesan perdamaian dan kebebasan bergema beda di Bandara Lama Nabire, Papua Tengah, pada 16–17 Oktober 2026.
Di panggung Papua Reggae Festival XI, genre musik asal Jamaika itu berkelindan erat dengan identitas budaya lokal: lirik-lirik berbahasa ibu menyuarakan identitas masyarakat adat Papua, khususnya suku Amungme dan Kamoro dari Mimika.
Ajang regional ini mengukir sejarah baru dalam perjalanan musik di Tanah Papua. Dua grup band asal Timika—Apokona Band yang mewakili suku Kamoro dan Pikol Nagal Band yang mewakili suku Amungme—tampil membawakan karya cipta orisinal dalam bahasa daerah mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua grup musik tersebut berangkat di bawah naungan Forum Komunikasi Musisi Mimika (Fomika) dengan fasilitasi Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif.
Penyelenggaraan festival selama dua hari tersebut bahkan diganjar rekor oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Pertunjukan Musik Membawakan Lagu Reggae Terbanyak di Indonesia. Tak kurang dari 100 lagu reggae berbahasa daerah dilantunkan oleh puluhan grup band se-Tanah Papua.
Mendobrak Sejarah di Tanah Amungsa
Bagi masyarakat adat di Mimika, keterlibatan Apokona Band dan Pikol Nagan Band pada ajang bergengsi ini bukan sebatas pertunjukan musik biasa, melainkan momentum historis.
Ketua Forum Komunikasi Musisi Mimika (Fomika), Arnold Beanal, mengungkapkan rasa bangganya atas terbukanya ruang ekspresi bagi para musisi muda indigenous Amungme dan Kamoro di kancah regional.
“Eee terima kasih atas kesempatannya. Eee jadi kami dari Timika, perwakilan dari Amungme Kamoro, sangat bangga dengan pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pariwisata yang mengakomodir kedua band ini bisa mengambil kesempatan. Ini sejarah pertama kali di tanah Amungsa. Mereka ini, Amungme Kamoro, tidak pernah naik di level itu selama ini,” kata Arnold, saat ditemui di bagian kedatangan Bandara Mozes Kilangin Timika, Senin (19/10/2026) setibanya dari Nabire usai mengikuti festival.
Dalam festival yang diikuti sekitar 35 hingga 36 grup band dari berbagai pelosok Tanah Papua tersebut, seluruh peserta diwajibkan menyanyikan lagu karya sendiri yang syarat utamanya memuat bahasa daerah masing-masing.
“Eee untuk ke depannya, eh untuk yang mereka yang sudah ee festival di sana itu memang mereka membawakan semua lagu hasil hasil karya ee sesuai dengan dia punya budaya masing-masing, dari bahasa masing-masing, dari suku masing-masing, dari Pengunungan sampai dengan Samaboe, sampai dengan seluruh tanah Papua ini mereka bawakan semua masing-masing dengan dia punya adat masing-masing. Sehingga kami juga kemarin hadirkan ee kami punya, sesuai dengan kami punya suku Amungme, suku Kamoro kami juga bawakan kemarin dengan bahasa masing-masing,” ujar Arnold.
Arnold merinci bahwa setiap band mendapat jatah membawakan hingga tiga lagu orisinal berbahasa ibu. “Iya. Jadi semua peserta yang kemarin masuk ikut ee festival ke-11 itu seluruhnya 35 jumlah totalnya. 35 yang masing-masing diwajibkan bawa lagu adalah dengan hasil ciptaan lagu sendiri dengan bahasa sendiri, paling banyak tiga. Tiga. Misalnya contoh dari suku Amungme tiga lagu, dari suku Kamoro tiga lagu. Ya, jadi kemarin mereka nyanyikan tiga-tiga lagu masing-masing,” katanya menambahkan.
Lagu Berbahasa Daerah Penembus Rekor MURI
Gaung kebudayaan lewat irama reggae ini mendapat pengakuan resmi MURI pada Sabtu (17/10/2026). Piagam penghargaan diserahkan di panggung festival kepada Komunitas Rasta Kribo Papua dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah sebagai penyelenggara.
Pencatatan rekor dilakukan setelah tim MURI melakukan verifikasi ketat selama dua hari gelaran festival. Berdasarkan hasil verifikasi tersebut, para musisi membawakan tidak kurang dari 100 lagu reggae, termasuk lagu-lagu berbahasa daerah yang menampilkan kekayaan budaya Papua.
MURI menilai bahwa festival tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan bakat, mengembangkan kreativitas, serta memperkenalkan bahasa dan budaya daerah melalui musik.
Investasi Kaderisasi dan Panggung Dunia
Ke depan, Fomika berkomitmen menjadikan pencapaian di Nabire sebagai batu pijakan untuk membina musisi-musisi lokal secara berkelanjutan.
“Langkah-langkah dari kami Forum Musisi Kabupaten Mimika, di sini kami Al Musikia merangkul semua musisi yang ada di Kabupaten Mimika. Ada al-musik dari teman-teman Nusantara, terus dari Papua, terus dari anak Amungme Kamoro sendiri. Harapan saya dan tim pengurus Forum Musisi Mimika, kita akan ee mengembangkan sebanyak mungkin persiapan kaderisasi khusus untuk anak Amungme Kamoro maupun untuk Papua maupun dari mana-mana,” kata Arnold Beanal.
Ia pun berharap kemitraan dengan pemerintah daerah tidak berhenti pada ajang Papua Reggae Festival semata, melainkan terus membuka ruang hingga ke kancah internasional.
“Kami berharap untuk ke depannya bisa bekerja sama secara resmi dengan pemerintah daerah agar bisa melihat dalam hal ini bukan berhenti di festival ini saja tapi untuk ke depannya kami berharap ee di mana ada peluang-peluang yang memang di bagian-bagian seni budaya kami diberikan kesempatan lagi bisa ikut bukan di melalui festival saja tapi ada event-event di mana pun kami bisa bahkan di luar negeri, seperti itu,” pungkas Arnold.
Dukungan Pemerintah dan Rencana Tuan Rumah 2027
Keikutsertaan kontingen musisi Mimika mendapat pengawalan penuh dari pemerintah daerah. Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Benyamin Tandiseno, mengonfirmasi keberangkatan delegasi serta capaian rekor yang berhasil diraih.
“Jadi event yang kami ikuti di Nabire ini adalah kegiatan Festival Reggae yang ke, Fereme yang ke, yang ke-11. Yang ke-11 diikuti oleh 36 peserta dan itu setiap peserta membawakan tiga lagu daerah. Dan itu menjadi, menjadi masuk di dalam rekor MURI,” kata Benyamin.
Ia menambahkan, keterlibatan perwakilan Mimika merupakan bentuk fasilitasi nyata terhadap dua band yang dihimpun oleh Fomika. “Kami dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendukung sepenuhnya kegiatan festival wakil, wakil band yang ikut di festival ini. Kami utus ada dua band yaitu dari Apokona Band, perwakilan dari Kamoro dan Pikol Nagan Band, perwakilan dari Amungme. Itu semua yang mengumpulkan mereka ini dari Fomika… Forum Komunikasi Musisi Mimika, Forum Musisi Mimika. Mereka bernaung di bawah Fomika,” tutur Benyamin.
Melihat potensi besar serta dampak pelestarian budaya yang dihasilkan, Pemkab Mimika berencana membawa perhelatan ini ke Timika pada edisi mendatang.
“Harapan kami, semoga kalau saya pribadi dari Dinas Pariwisata, bagaimana kita mengembangkan bakat minat seni yang anak-anak daerah punya. Jangan cuman selesai event ini, stop, tetapi bagaimana kita merancang supaya event-event atau kegiatan-kegiatan yang berkelanjutan dan kami rencana kalau pemerintah daerah khususnya untuk event festival reggae ke-12 itu, bagaimana kita usahakan kita sebagai tuan rumah lagi nantinya di tahun 2027 untuk Timika,” ucap Benyamin.













