MIMIKA — Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menyatakan bertanggung jawab atas penembakan terhadap aparat militer Indonesia di wilayah Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada 11 Februari 2026.
Hal itu disampaikan melalui siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang diterima Galeripapua.com, Kamis (12/2/2026).
Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, mengatakan bahwa TPNPB telah melakukan penyerangan yang menyebabkan satu prajurit meninggal dunia dan dua orang lainnya mengalami luka-luka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menegaskan penyerangan itu dilakukan oleh pasukan TPNPB dari Timika dan TPNPB Kodap VIII Intan Jaya.
Selain itu, Sebby juga mengungkapkan TPNPB berhasil merampas dua pucuk senjata laras panjang beserta amunisinya.
“Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari pasukan TPNPB dari Tembagapura bahwa kami bertanggung jawab atas penembakan tiga orang aparat militer Indonesia serta perampasan 2 unit Senjata SS2, 2 unit magazin dan 50 butir amunisi, kini menjadi aset TPNPB,” ujar Sebby.
Lebih lanjut Sebby juga menyampaikan tuntutan politik yang ditujukan kepada Pemerintah Indonesia dan pihak internasional, khususnya terkait keberadaan PT Freeport Indonesia di Papua.
“Kami juga mengimbau kepada Presiden Prabowo Subianto dan Amerika Serikat untuk segera menutup PT Freeport Indonesia di atas tanah leluhur kami, Tanah Papua. Jika tidak, maka TPNPB akan tetap melakukan penyerangan dan penembakan di areal PT Freeport Indonesia hingga Amerika, Indonesia, dan Belanda dapat menyelesaikan akar persoalan konflik di atas Tanah Papua selama 63 tahun lebih,” tegasnya.
Sebby juga menyinggung sejarah pengelolaan PT Freeport Indonesia sejak 1967 serta mengaitkannya dengan dinamika politik sebelum dan sesudah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.
TPNPB menilai keberadaan perusahaan tambang tersebut menjadi salah satu pemicu konflik bersenjata yang terus berlangsung di Papua.
“Terkait dengan hal tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengimbau kepada Presiden Donald Trump untuk meninjau kembali sejarah Papua dan konflik yang berkepanjangan yang sedang terjadi di atas Tanah Papua antara TPNPB dengan aparat militer Indonesia yang mengakibatkan terjadinya banyak korban jiwa antara warga sipil dan kedua belah pihak,” katanya.
Sebby pun menegaskan bahwa aksi penyerangan akan terus dilakukan apabila tuntutan politik mereka tidak direspons.
“Penyerangan terhadap aparat militer Indonesia di wilayah PT Freeport Indonesia akan terus terjadi jika Pemerintah Indonesia, Amerika, dan Belanda tidak dapat menyelesaikan akar persoalan konflik,” tandasnya.
“Dan pertempuran akan terus meningkat di seluruh wilayah Papua jika negara Indonesia tidak membuka diri dalam penyelesaian masalah politik antara negara kolonial Indonesia dengan orang Papua,” pungkasnya.










