MIMIKA – Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Marselino Mameyao, mendorong perubahan pendekatan dalam penanganan malaria dengan memperkuat intervensi sebelum masyarakat jatuh sakit.
Hal itu disampaikan setelah dirinya mulai menjalankan tugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika sejak dilantik pada 5 Oktober 2026.
Dalam wawancara pada Kamis (8/10/2026), ia menempatkan malaria sebagai salah satu fokus utama karena tingginya beban kasus di Mimika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mimika tinggi, penyumbang terbanyak. Jadi salah satu target malaria,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan malaria tidak cukup hanya dilakukan ketika warga sudah mengalami gejala atau dinyatakan positif.
Upaya pencegahan perlu diperkuat sejak awal melalui pemberian informasi kesehatan yang benar, perlindungan dari gigitan nyamuk, pemeriksaan dini, pengobatan yang tepat, serta keterlibatan masyarakat.
Ia menilai edukasi mengenai malaria harus dilakukan secara konsisten melalui fasilitas pelayanan kesehatan, kader, sekolah, komunitas, tempat kerja, media, dan berbagai ruang publik.
Masyarakat, kata dia, perlu memahami langkah-langkah sederhana untuk mencegah penularan, mengenali gejala malaria, segera memeriksakan diri ketika mengalami keluhan, serta mengikuti pengobatan hingga tuntas.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar pencegahan malaria tidak hanya menjadi respons ketika kasus meningkat, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Benahi Internal Dinas Kesehatan
Di tengah upaya memperkuat penanganan malaria, Plh. Kepala Dinas Kesehatan juga memprioritaskan pembenahan internal organisasi.
Menurutnya, koordinasi dan sistem kerja di lingkungan Dinas Kesehatan perlu diperkuat agar pelaksanaan berbagai program kesehatan dapat berjalan lebih efektif sebelum intervensi diperluas ke masyarakat.
“Saya harus perbaiki dulu. Saya kembalikan roh Dinas Kesehatan dulu. Setelah itu baru saya bergerak keluar,” tuturnya.
Selain malaria, ia menyebut sejumlah persoalan kesehatan lain yang menjadi perhatian, di antaranya kabut asap, stunting, dan tuberkulosis.
Namun, tingginya beban malaria di Mimika membuat penyakit tersebut menjadi salah satu isu yang membutuhkan penanganan lebih terarah dan berkelanjutan.
Target Eliminasi Malaria 2030
Upaya menuju eliminasi malaria pada 2030, menurutnya, tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah atau Dinas Kesehatan.
Tenaga kesehatan, kader, masyarakat, tokoh masyarakat, sekolah, dunia usaha, media, serta berbagai mitra lainnya perlu mengambil peran dalam menekan risiko penularan.
Ia menekankan, keberhasilan eliminasi malaria harus dibangun melalui kerja bersama, mulai dari pencegahan di lingkungan masyarakat, penemuan kasus secara dini, hingga memastikan pasien menjalani pengobatan dengan benar.
“Mari satukan langkah dan buktikan bahwa Mimika bisa bebas malaria. Keberhasilan itu bukan karena saya, tetapi karena kita bekerja bersama dan dibantu oleh masyarakat Mimika,” kata Marselino.
Dengan kolaborasi tersebut, intervensi malaria diharapkan dapat bergerak lebih awal, sebelum warga jatuh sakit.
Upaya itu sekaligus menjadi bagian dari langkah Mimika mempercepat pencapaian target eliminasi malaria pada 2030.













