MIMIKA – Ketelitian penyelam, kecepatan evakuasi, dan ketepatan menjalankan prosedur keselamatan menjadi tantangan utama dalam kategori Underwater Rescue & Recovery (UWRR) pada Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) ke-8 tahun 2026.
Selama dua hari, 28–29 Oktober 2026, sebanyak 13 tim mengikuti perlombaan penyelamatan bawah air di danau kawasan MP28, area operasional PT Freeport Indonesia (PTFI), Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Pada hari kedua, Kamis (29/10/2026), enam tim kembali menunjukkan kemampuan mereka dalam menghadapi simulasi penyelamatan korban di dalam air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sehari sebelumnya, Rabu (28/10/2026), tujuh tim telah lebih dahulu mengikuti kategori yang menguji keterampilan khusus personel tanggap darurat tersebut.
Pantauan Galeripapua.com pada hari kedua, para peserta tampak bersemangat mendayung perahu karet atau rubber boat dari tepi danau menuju titik simulasi.
Setibanya di lokasi, personel penyelam menjalankan strategi untuk menemukan, mengamankan, dan mengevakuasi korban yang diperagakan menggunakan boneka.
Setelah korban berhasil dievakuasi dari dalam air dan diangkat ke atas perahu karet, tim mendayung kembali menuju daratan untuk melanjutkan tahapan penanganan berikutnya.
Meski korban yang diselamatkan hanya berupa boneka peraga, setiap tim memperlihatkan keseriusan dan kehati-hatian.
Ketepatan posisi korban saat diangkat, koordinasi antarpersonel, serta kecepatan menyelesaikan setiap tahapan menjadi bagian penting dalam menguji profesionalisme tim penyelamat.
Ketua Panitia IFRC 2026, Periyadi, mengatakan kategori UWRR memiliki persyaratan khusus bagi peserta. Salah satunya, tim harus memiliki personel dengan sertifikat penyelaman yang dipersyaratkan untuk mengikuti simulasi penyelamatan bawah air.
“Sebagai syarat untuk mengikuti kegiatan atau event underwater ini, tim peserta seharusnya memiliki sertifikat public diving. Itu menjadi syarat utamanya,” kata Periyadi kepada wartawan di lokasi perlombaan, Kamis (29/10/2026) siang.
Menurut dia, terdapat empat perusahaan yang tidak dapat mengikuti kategori UWRR karena belum memiliki sertifikasi yang dipersyaratkan. Salah satunya PT Inalum, yang baru pertama kali berpartisipasi dalam IFRC.
Periyadi mengatakan, pengalaman mengikuti kompetisi ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi perusahaan untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan personel tanggap darurat, termasuk memenuhi kebutuhan sertifikasi yang diperlukan.
Menghadapi Korban Terperangkap di Kerangkeng
Periyadi menjelaskan, salah satu tantangan utama dalam kategori UWRR tahun ini adalah mengevakuasi korban yang disimulasikan terperangkap di dalam kerangkeng bawah air.
Skenario lainnya menggambarkan korban yang berada di permukaan air, tetapi kakinya tersangkut pada bagian kerangkeng.
Dalam situasi tersebut, penyelam tidak cukup hanya menemukan dan mengangkat korban. Mereka harus melakukan packing, yakni mengamankan dan membungkus korban sesuai prosedur agar dapat dievakuasi dengan benar.
“Korban yang ada di dalam kerangkeng itu statusnya sudah meninggal. Korban harus dipacking sedemikian rupa di dalam air dalam waktu secepat-cepatnya, dengan teknik dan metode yang benar. Kemudian diangkat ke dalam rubber boat dengan teknik yang benar juga,” jelasnya.
Ketepatan teknik pengangkatan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penilaian. Apabila posisi korban tidak terjaga hingga terjungkal atau kembali masuk ke dalam air saat diangkat, tim berisiko kehilangan nilai.
Selain teknik penyelaman, kecepatan membawa korban dari titik kejadian menuju daratan juga menjadi bagian dari tantangan. Setelah tiba di darat, peserta wajib melanjutkan simulasi dengan prosedur dekontaminasi.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penanganan untuk memastikan prosedur keselamatan diterapkan secara tepat.
Periyadi menegaskan, aspek medis tetap menjadi perhatian karena personel tanggap darurat harus menjaga kondisi yang aman dan higienis saat melakukan kontak langsung dengan korban.
Dengan demikian, kategori UWRR tidak hanya menguji kemampuan menyelam, tetapi juga koordinasi tim, ketepatan teknik evakuasi, kecepatan bertindak, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Bagi perusahaan yang baru pertama kali mengikuti IFRC, tantangan dalam kategori UWRR juga menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan personel sekaligus mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas.
Periyadi menyebutkan, partisipasi PT Inalum merupakan langkah awal untuk membangun kesiapan tim tanggap darurat agar memiliki kompetensi yang lebih baik pada masa mendatang.
“Ini juga menjadi suatu pembelajaran yang sangat penting bagi tim tanggap darurat PT Inalum ke depannya. Ini adalah awal yang baik untuk bisa memperbaiki dan meningkatkan kesiapsiagaan tim tanggap darurat,” ujarnya.
Evaluasi melalui kompetisi seperti ini penting karena operasi penyelamatan di lingkungan kerja membutuhkan personel yang terlatih, peralatan memadai, koordinasi yang solid, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat dalam situasi berisiko tinggi.
Melalui simulasi yang dirancang menyerupai kondisi darurat, peserta juga dapat menguji penerapan prosedur, mengidentifikasi kekurangan, dan meningkatkan kesiapan menghadapi insiden nyata.
Bagian dari IFRC ke-8 di Mimika
Kategori UWRR merupakan salah satu dari delapan kategori yang dipertandingkan dalam IFRC ke-8 tahun 2026. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Tanggap Darurat Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (PERTAPINDO) bersama PT Freeport Indonesia sebagai tuan rumah.
IFRC 2026 resmi dibuka di Mimika Sport Complex (MSC), Kabupaten Mimika, pada Sabtu (24/10/2026). Sebanyak 17 tim dari 16 perusahaan sektor pertambangan dan energi mengikuti ajang nasional tersebut.
Selain UWRR, kategori yang dipertandingkan meliputi Firefighter Competency Test (FCT) dan Individual Skills (IDS), Road Accident Rescue (RAR), Confined Space Rescue (CSR), High Angle Rescue (HAR), Collapsed Structure Search and Rescue (CSSR), Structural Fire Fighting (SFF), serta Firefighter Combat Challenge (FCC).
Berbagai kategori tersebut menguji kemampuan personel dalam menghadapi beragam skenario keadaan darurat, mulai dari kebakaran, kecelakaan kendaraan, penyelamatan di ruang terbatas dan ketinggian, pencarian korban di reruntuhan, hingga penyelamatan di bawah air.
Mengusung tema “Tumbuh Bersama Papua, Berkarya untuk Indonesia”, IFRC 2026 juga diarahkan untuk memperkuat budaya keselamatan kerja, meningkatkan kompetensi personel, dan memperluas pertukaran pengetahuan antartim penyelamat dari berbagai perusahaan.
Penyelenggaraan di Mimika turut dilengkapi kegiatan edukasi keselamatan bagi masyarakat, termasuk program Search and Rescue Goes to School yang memberikan pengenalan mengenai kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat kepada pelajar SMA Negeri 1 Mimika.
Selain itu, PTFI meresmikan fasilitas fireground di Kuala Kencana pada Minggu (25/10/2026) sebagai sarana latihan pemadaman kebakaran dan penyelamatan. Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas personel tanggap darurat di lingkungan operasional perusahaan.
Melalui rangkaian kompetisi dan kegiatan edukasi tersebut, IFRC 2026 diharapkan dapat memperkuat kesiapan personel dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, baik di lingkungan industri pertambangan dan energi maupun dalam operasi penyelamatan yang membutuhkan keterampilan khusus.
Kompetisi ini menjadi ruang bagi para personel tanggap darurat untuk menguji kemampuan, berbagi pengalaman, dan meningkatkan profesionalisme demi mendukung keselamatan kerja serta kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.













