Ekspedisi Tiga Bulan, Tim Peneliti di Papua Temukan 12 Anggrek Baru dari 130 Jenis

Rachmat Julaini

Kamis, 8 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dendrobium Centrale. (Foto: Istimewa/Andre Schuiteman)

i

Dendrobium Centrale. (Foto: Istimewa/Andre Schuiteman)

MANOKWARI – Tim Peneliti yang terdiri dari Jimmy Frans Wanma dari Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA); Laura Jennings dan Dr. Andre Schuiteman dari Royal Botanic Garden, Inggris; Reza Saputra dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat; serta Haerul Arifin dan Ezrom Batorinding dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat melaksanakan eksplorasi anggrek di sejumlah daerah di wilayah Kepala Burung Papua.

Eksplorasi yang dipimpin Kepala BRIDA Papua Barat, Prof. Charlie Heatubun, tersebut memakan waktu selama tiga bulan sejak dimulai pada Oktober 2023 dan berakhir di Januari 2024.

Jimmy Frans Wanma, Kamis (25/1/2024) lalu, menerangkan eksplorasi anggrek dijalankan di sejumlah tempat, antara lain Danau Anggi dan Distrik Testega di Kabupaten Pegunungan Arfak; Ransiki di Kabupaten Manokwari Selatan; Kabupaten Teluk Bintuni; Lembah Kebar di Kabupaten Tambrauw; serta Urisa di Kabupaten Kaimana.

Penelitian sepanjang ekspedisi menemukan 130 tumbuhan anggrek berbeda jenis dalam keadaan berbunga. Berdasarkan penelitian yang terdahulu hingga terbaru, telah ada 600 jenis anggrek di mana jumlah itu diduga masih bisa meningkat hingga 1.000 jenis jika eksplorasi meluas se-tanah Papua.

“Dari 130 jenis yang kami temukan selama ekspedisi Oktober hingga Januari, 12 jenis anggrek temuan di antaranya kami pastikan baru. Baru dalam artian belum pernah dipublikasikan dan belum dikenal ilmu pengetahuan hingga kini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Papua Football Academy, Wajah Baru Pendidikan Sepak Bola di Bumi Cendrawasih

“Mungkin ada di antaranya yang sudah pernah dilihat orang, tapi kalau dideskripsikan secara ilmiah dan dikenal secara luas lewat publikasi, itu belum,” lanjut Jimmy.

Bulbophillum muricatum. (Foto: Istimewa/Andre Schuiteman)

Tim itu tidak mengungkapkan 12 anggrek jenis baru dan tidak memperlihatkan dokumentasinya. Jimmy mengatakan tidak diperkenalkannya anggrek jenis baru itu dikarenakan dalam penelitian lebih lanjut termasuk persiapan penamaan serta mempertimbangkan kode etik peneliti.

“Nanti setelah dipublikasikan baru kami sampaikan. Rencananya tahun ini juga dengan range waktu sekitar enam bulan ke depan,” jelas dia.

12 jenis anggrek baru itu kini disimpan di Laboratorium Biologi dan Perlindungan Hutan di Fakultas Kehutanan UNIPA. Spesimen anggrek itu sedang dikeringkan dan dikerjakan pengukuran serta deskripsinya.

Eksplorasi anggrek itu, kata Jimmy, turut didukung oleh sejumlah institusi besar untuk mendukung pelestarian alam sekaligus mengungkap biodiversitas di Papua Barat dalam proyek inisiatif Mahkota Permata Tanah Papua.

Jimmy menambahkan, di tahun 2024, ada rencana memperluas area penelitian ke Kampung Ayawasi, Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Namun, tim peneliti masih mempertimbangkan masalah keamanan yang membuat tim dengan peneliti asing itu belum mendapatkan izin untuk bergerak.

Baca Juga :  Papua Football Academy Umumkan 30 Peserta Terpilih Angkatan Kedua
Dari kiri ke kanan, Haerul Arifin, Prof. Charlie Heatubun, Dr. Andre Scuiteman, Jimmy Frans Wanma, dan Ezrom Batorinding. (Foto: Galeri Papua/Rachmat Julaini)

Dia percaya keanekaragaman anggrek di daerah Ayawasi akan menambah kekayaan jenis anggrek yang sudah ditemukan sejauh ini mengingat daerah tersebut merupakan wilayah dengan batuan berkapur.

Andre Schuiteman dalam keterangan berbahasa inggris menyatakan penelitian anggrek di wilayah Papua sudah dilakukan sejak 1820-an atau 200 tahun lalu. Hingga kini, peneliti telah mengetahui sekitar 3.000-an spesies dan terus menemukan yang baru.

“Apa yang kami temukan sepanjang ekspedisi, kita belum pernah temukan sebelumnya. Jadi, anggrek itu benar-benar baru kita temukan di tempat itu saja,” tutur Andre.

Dari 12 jenis anggrek baru yang ditemukan, satu jenisnya dipastikan bertumbuh di tanah. Sedangkan 11 lainnya tumbuh dengan menumpang pada pohon lainnya atau dalam istilah ilmiahnya epifit.

Sementara, Haerul Arifin menyebut penemuan anggrek itu membuktikan eksistensi tanah Papua dan Papua New Guinea sebagai pemilik keanekaragaman hayati berbunga yang luar biasa dan mengalahkan Madagaskar di benua Afrika. Dengan begitu, sumber daya alam fauna dan flora perlu dijaga dan dimanfaatkan dengan bijaksana.

“Karena kita tahu, kita sudah mendeklarasikan daerah kita sebagai provinsi pembangunan berkelanjutan dan salah satu targetnya adalah perlindungan keanekaragaman hayati. Kita butuh kolaborasi bersama,” tegas Haerul.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pendidikan Kunci Masa Depan, Pemprov Papua Tengah Bagikan 200 Laptop untuk Pelajar
Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”
Mahasiswa Pascasarjana UNAIM Wamena Sukses Tuntaskan Lokakarya Asia Tenggara
TIFA Creative Berbagi Inspirasi Seni dan Budaya Papua di Kampus STIS Mutiara Tual
Nurhaidah Nawipa Pimpin 8 Istri Bupati Papua Tengah Tuntaskan PR Fondasi Pendidikan
20 Sekolah di Mimika Jadi Sasaran Program Revitalisasi, Bupati Sesalkan Hal Ini
IMPAS Education ke-13 Hadir di Mimika: Dorong Transformasi Digital di Tanah Papua
600 OAP dan Labeti di Mimika Ikuti Pelatihan Kerja, Disiapkan Jadi Tenaga Kompeten

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 21:58 WIT

Pendidikan Kunci Masa Depan, Pemprov Papua Tengah Bagikan 200 Laptop untuk Pelajar

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:26 WIT

Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”

Minggu, 2 November 2025 - 11:10 WIT

Mahasiswa Pascasarjana UNAIM Wamena Sukses Tuntaskan Lokakarya Asia Tenggara

Jumat, 31 Oktober 2025 - 19:59 WIT

TIFA Creative Berbagi Inspirasi Seni dan Budaya Papua di Kampus STIS Mutiara Tual

Jumat, 3 Oktober 2025 - 16:17 WIT

Nurhaidah Nawipa Pimpin 8 Istri Bupati Papua Tengah Tuntaskan PR Fondasi Pendidikan

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT