NABIRE – Ribuan pasang mata warga Nabire tak bergeser dari layar panggung ketika sebuah film pendek berjudul Darurat Kelas diputar pada pembukaan Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025 yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Rabu (3/9/2025) sore.
Di hadapan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, jajaran pejabat, dan masyarakat umum, film berdurasi 18 menit itu menghadirkan kisah sederhana namun sarat makna, yakni tentang perjuangan seorang anak kecil bernama Yosia yang tak pernah lelah menuntut ilmu meski sekolah di kampungnya nyaris kosong akibat konflik berkepanjangan.
Para penonton tampak begitu terpukau ketika melihat setiap scene yang ditampilkan dan alur cerita yang dikisahkan. Pendek kata, film tersebut sangat menyentuh masyarakat.

Bahkan ada warga yang mengaku teringat masa kecilnya saat bersekolah di kampung, ketika layar memunculkan adegan Yosia bersama satu-satunya guru relawan, Pak Leo, yang mendirikan kelas darurat bagi anak-anak.
Pendidikan dan Luka Konflik
Film produksi Artha Media ini merekam denyut nadi persoalan pendidikan di Papua Tengah. Bukan sekadar soal infrastruktur atau kualitas tenaga pengajar, tetapi juga tentang bagaimana konflik sosial menjadi penghalang terbesar anak-anak untuk bersekolah.
“Kesadaran akan pendidikan itu penting, bukan hanya sekadar menciptakan sumber daya manusia yang baik untuk pengembangan Papua Tengah ke depan, tapi bagaimana menyadarkan orang bahwasannya berkonflik itu hanya merugikan,” jelas Koordinator Kegiatan Pembuatan Film Pendek dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Umar Rahaded, kepada Galeripapua.com, Jumat (5/9/2025).
Menurut Umar, film ini diharapkan bisa menggugah masyarakat agar tidak lagi terjebak dalam konflik yang justru memperburuk masa depan anak-anak.

“Kita harus support mereka untuk tetap sekolah… sehingga anak-anak generasi yang akan tercipta itu dia mampu meminimalisir konflik yang ada di daerah pegunungan,” ujar Umar.
Diangkat dari Realitas Sehari-hari
Produser film, Joe, menegaskan bahwa Darurat Kelas memang sengaja menampilkan sisi gelap sekaligus keindahan Papua Tengah.
“Film kan harus ada konflik ya, kalau nggak ada konflik itu bukan film,” tutur Joe saat diwawancarai Galeripapua.com, Jumat (5/9/2025).
Joe bilang, proses produksi film berlangsung selama 13 hari dengan lokasi utama di Nabire dan Paniai. Pemilihan lokasi pun bukan tanpa risiko.
“Kenapa harus pilih Paniai? Menurut saya tuh, kalau kita cuma ngambil di daerah aman saja, orang nantinya nggak tahu pendalaman itu seperti apa… Bahkan di Nabire saja, waktu proses syuting di SD Inpres Kaliwadio, kita sempat dapat gangguan eksternal,” jelas Joe.

Gangguan yang dimaksud, kata dia, datang dari seorang warga dalam kondisi mabuk yang masuk ke area sekolah.
“Posisi anak masih sekolah, ada orang mabuk masuk ke dalam sekolah, oknum ya, masyarakat yang kurang bertanggung jawab,” katanya.
Selain itu, perjalanan menuju Paniai juga menjadi ujian tersendiri. “Ekstremnya itu di samping jalannya naik turun, ada isu keamanan juga, terus waktu itu longsor, hampir gagal kita ke sana,” tambahnya.
Dukungan Masyarakat Lokal
Meski penuh tantangan, proses produksi film ini ternyata mendapat dukungan luas dari masyarakat setempat. Semua pemeran dalam film adalah warga asli Nabire, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Menurut Joe, pengalaman syuting di Paniai meninggalkan kesan mendalam. “Sebenarnya masyarakat Papua tuh welcome. Cuma pandangan dari luar saja yang kurang tepat… Mereka kerja kolektif sangat bisa. Dan mereka mendukung untuk film ini dari teman-teman Papua sendiri, masyarakat Paniai mendukung.”
Film ini juga menampilkan keindahan lanskap Papua, dari Danau Tigi di Paniai hingga Pantai Borotai Nabire. Bagi produser, itu bagian penting untuk menunjukkan sisi lain Papua Tengah yang jarang terekspos.

“Kita nggak cuma menampilkan pendidikan, tapi juga pariwisatanya,” kata Joe.
Relasi personal dan refleksi kolektif
Lebih dari sekadar tontonan, film Darurat Kelas berhasil memantik memori kolektif penonton. Joe menyebut sejumlah pejabat bahkan terlihat emosional saat menyaksikan film ini.
“Oh iya kemarin saya sempat lihat para pejabat juga, dia seling di tengah itu, dia jadi ingat waktu dia sekolah di sana. Sehingga jadi relate gitu akhirnya,” tuturnya.
Bagi banyak orang, film ini menjadi pengingat bahwa perjuangan pendidikan di Papua bukan hal baru. Namun, ketika ditampilkan dalam medium sinema, kisah itu mendapat ruang refleksi yang lebih dalam.
Pesan untuk Masa Depan
Harapan besar pun disematkan kepada film ini. Joe menekankan, Darurat Kelas bukan sekadar hiburan, tetapi juga ajakan untuk ikut menjaga dan melindungi proses belajar anak-anak di Papua Tengah.

“Mungkin kesadaran ya, kesadaran masyarakat tentang belajar itu seperti apa, dan kesadaran masyarakat ikut mendorong dan membantu, melindungi anak-anak yang lagi belajar ini, bukan malah mengganggu,” ujarnya.
Baginya, hasil dari pendidikan tidak bisa dilihat instan. “Itu butuh bertahun-tahun, puluhan tahun mungkin, untuk menuai hasil,” pungkasnya.
Credit Title Film Darurat Kelas
Film Darurat Kelas dibintangi oleh Siktus Gobay sebagai Yosia, Ronny Muyapa sebagai Pak Guru Leo, serta Hasiana Ruban sebagai Mama Helda. Peran Kepala Kampung dimainkan oleh Viktor Gobay.
Di balik layar, film ini digarap oleh Febian Kakisina (Sutradara), Joe (Produser), dan Fx Yogi (Line Produser).
Visual sinematiknya dipercantik oleh Jo (Penata Kamera), sementara audio ditangani oleh Richo (Sound Engineer) dan Van Parensen (Penata Musik & Audio Scoring).

Proses penyuntingan dilakukan oleh Yonri, Revolt, dengan color grading oleh Rifna.
Lokasi syuting berlangsung di sejumlah tempat ikonik Papua Tengah, di antaranya SD Negeri Inpres Kaliwadio Nabire, SMP St Antonius Nabire, Pantai Sowa, Pantai Borotai Nabire, serta Danau Tigi Paniai.
Di akhir pemutaran, tepuk tangan panjang mengiringi deretan nama-nama tersebut muncul di layar. Sore itu, di Lapangan Bandara Lama Nabire, Darurat Kelas menjelma lebih dari sekadar karya sinema—ia menjadi simbol harapan baru bagi generasi Papua Tengah.










