MIMIKA – Sebanyak 17 tim penyelamat dari 16 perusahaan sektor pertambangan dan energi mengikuti Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) ke-8 tahun 2026 di Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti tiga kategori perlombaan di Fireground Kuala Kencana pada 26–27 Oktober, yaitu Road Accident Rescue (RAR), Confined Space Rescue (CSR), dan High Angle Rescue (HAR).
Penilaian mencakup kemampuan medis, teknik penyelamatan, komando operasi, koordinasi, serta ketepatan dan efisiensi tim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Komite Teknik Kompetisi IFRC 2026, Wiyono Minarno, menyampaikan pandangannya tentang tujuan kompetisi ini.
“Kompetisi ini menjadi sarana untuk mengevaluasi kemampuan tim sekaligus memperbarui teknik penyelamatan agar personel bekerja secara efisien, teliti, dan sesuai standar,” kata Wiyono.
Salah satu simulasi memperagakan penyelamatan korban tidak sadarkan diri di ruang terbatas. Peserta harus memeriksa kondisi atmosfer menggunakan detektor gas, memasang ventilasi, lalu memasuki area menggunakan Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA).
Setelah memberikan pertolongan pertama, tim mengevakuasi korban menggunakan peralatan khusus menuju zona medis.
Simulasi tersebut menuntut komunikasi yang efektif, koordinasi yang solid, dan kepatuhan ketat terhadap prosedur keselamatan.
Selain menguji keterampilan, IFRC 2026 menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai perkembangan teknologi penyelamatan, termasuk pemanfaatan virtual reality untuk pelatihan, kamera pencitraan termal, serta perangkat penyangga yang lebih praktis dan aman.
IFRC 2026 Dukung UMKM dan Promosi Budaya Mimika
Selain menguji kemampuan penanganan darurat, kompetisi ini menjadi ajang pemberdayaan UMKM lokal dan promosi budaya Papua.
Di luar arena kompetisi, PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai tuan rumah menghadirkan pameran yang melibatkan UMKM binaan, paguyuban, dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Mimika.
Sebanyak 16 stan menampilkan produk kerajinan, kuliner, dan ekonomi kreatif lokal, termasuk Kopi Amungme Gold.
Ketua Panitia IFRC 2026, Periyadi, mengatakan pameran tersebut menjadi bagian dari upaya PTFI memperluas manfaat penyelenggaraan kompetisi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha lokal.
“Melalui pameran ini, kami ingin membuka ruang yang lebih luas bagi UMKM lokal untuk memperkenalkan produknya sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat,” katanya.
Pameran juga memperkenalkan seni dan budaya Kamoro, salah satu masyarakat adat di wilayah dataran rendah Mimika.
Sejumlah paguyuban dan lembaga binaan PTFI turut berpartisipasi dengan menampilkan produk dan kegiatan unggulan masing-masing.
PTFI juga menghadirkan stan interaktif PTFI yang memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal lebih dekat operasi tambang bawah tanah, mencoba simulator alat berat, dan berfoto menggunakan teknologi kecerdasan buatan dengan tampilan pakaian kerja pertambangan.
IFRC merupakan kompetisi dua tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Tanggap Darurat di Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (Pertapindo) di bawah koordinasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kompetisi ini menjadi wadah evaluasi, pembelajaran, dan pertukaran praktik terbaik untuk meningkatkan profesionalisme serta kesiapsiagaan tim penyelamat.
Melalui IFRC, PTFI berkomitmen mendukung penguatan budaya keselamatan sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat Papua, sejalan dengan semangat “Tumbuh Bersama Papua, Berkarya untuk Indonesia”.













