INTAN JAYA — Insiden rusaknya atap Gereja Katolik Santo Bernardus Tipunggau, Paroki Bilogai, di Kampung Jalai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, memantik perhatian publik.
Kerusakan bangunan rumah ibadah itu diduga terjadi usai sebuah helikopter mendarat di halaman gereja pada Jumat (30/1/2026) pagi, sekitar pukul 09.00 WIT.
Peristiwa tersebut pertama kali disoroti Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang menyebut helikopter itu sebagai helikopter militer Indonesia yang melakukan pendaratan sekaligus pendoropan logistik di area gereja.
Aktivitas tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius karena dilakukan di kawasan rumah ibadah dan pemukiman warga sipil.
Dalam Siaran Pers Ke II Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal Jumat, 30 Januari 2026, disebutkan bahwa laporan resmi diterima dari Panglima TPNPB Kodap VIII Intan Jaya, Kolonel Apeni Kobogau.
Disebutkan, helikopter mendarat tepat di halaman Gereja Katolik Santo Bernardus Tipunggau dan mengakibatkan kerusakan fisik pada bangunan gereja.
“PIS TPNPB juga melaporkan bahwa pendaratan helikopter militer Indonesia di halaman Gereja Katolik Santo Bernardus tersebut tidak adanya ijin untuk melakukan pendropan logistik militer dihalaman Gereja tetapi aparat militer indonesia secara tiba-tiba mendarat sementara wilayah tersebut adalah wilayah misi dan pemukiman warga sipil,” ujar Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom.
Akibat pendaratan itu, atap gereja dilaporkan rusak, termasuk lantai, papan, dan sejumlah fasilitas lainnya. TPNPB menyebut logistik yang diturunkan selanjutnya akan dipindahkan ke Pos Militer Jalai untuk mendukung operasi di sekitar pemukiman warga.
Atas insiden tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyerukan penghentian seluruh aktivitas militer di gereja, sekolah, dan pemukiman warga sipil di Tanah Papua.
“Dalam hal tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menegaskan kepada Presiden Prabowo Subianto, Menhan RI dan Pangkogapwilhan 3 untuk hentikan aktivitas militer di gereja-gereja, sekolah, dan pemukiman warga sipil di seluruh tanah Papua dan hentikan meneror warga sipil dengan peralatan tempur di pemukiman warga sipil dan dengan tegas mengutuk Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya yang terlibat melakukan pendoropan logistik militer indonesia di halaman Gereja Katolik Santo Bernardus yang mengakibatkan gereja rusak,” tegas Sebby.
Kesaksian Warga: Salah Koordinasi Titik Pendaratan
Sementara itu, salah satu narasumber masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa insiden tersebut diduga kuat terjadi akibat kesalahan koordinasi titik pendaratan.
“Kronologinya jam 09.00 pagi karena adanya bendera merah putih TNI mereka tanam di halaman Gereja Santo Bernadus Tipunggau sehingga helikopter yang pilotnya dari Rusia itu mendarat di Gereja Stasi Tipunggau lalu seng gereja terbongkar bagian kanan jumlah 63 lembar seng aluminium,” ujarnya kepada Galeripapua.com melalui pesan WhatsApp.
Ia menambahkan, kesalahan itu terjadi akibat miskomunikasi antara komandan pos dan pilot helikopter.
“Dan katanya salah kordinasi antara Danpos dengan pilot Rusia sehingga salah mendarat kronologis nya seperti itu,” imbuhnya.

Warga tersebut memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Meski bangunan gereja mengalami kerusakan, aktivitas ibadah tetap direncanakan berjalan.
“Tidak ada korban cuma gereja saja. Rencananya akan ada perbaikan. Tapi besok umat tetap adakan misa di dalam gereja yang rusak itu. Para TNI mengatakan maaf karena kesalahan titik koordinat,” tuturnya.
Senada dengan itu, salah satu pejabat di lingkungan Pemkab Intan Jaya pun menyatakan telah melakukan komunikasi langsung dengan pihak satgas keamanan di lapangan.
“Ijinkan saya untuk menyampaikan info terkait kejadian ini. Jadi, pagi jam 11.50 setelah saya lihat foto ini di Group WA langsung saya komunikasikan dengan Pimpinan Danyon satgas Yunif 744 yang saat ini bertugas di Intan Jaya menggantikan Satgas yunif 500/Sikatan,” jelasnya.
Ia menuturkan, aparat keamanan di Pos Jalai telah menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen melakukan perbaikan.
“Akhirnya Anggota Pos Jalai sudah komunikasi dengan umat di Gereja Tipunggau lalu sudah bicarakan. Anggota akan tutup kembali atap setelah helikopter yang sama antar seng besok dan juga sudah menyampaikan permohonan maaf oleh Anggota kepada masyarakat di Tipunggau karena tadi pendaratan tidak sesuai lokasi titik koordinat ata salah tempat. Jadi Info ini sudah saya tindak lanjut ke pimpinan Apkam Satgas 744 di Sugapa,” pungkasnya.
TNI Bantah: Disebut Hoaks dan Bukan Helikopter TNI
Di sisi lain, Pangkoops TNI Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, membantah keras tudingan bahwa helikopter TNI salah mendarat dan merusak atap gereja.
“Hoax, gak ada Heli TNI yang salah mendarat,” tegasnya.
Saat ditanya penyebab rusaknya atap gereja, ia menyatakan helikopter tersebut bukan milik TNI. “Info di lapangan heli sipil. Bukan heli milik TNI.”
Menanggapi dugaan bahwa helikopter itu membawa logistik untuk aparat di Pos Jalai, ia menegaskan, “Logistik TNI dibawa gunakan heli TNI.”
Ia juga meminta publik tidak mudah mempercayai pernyataan dari OPM. “Setiap berita yang direlease oleh OPM tidak usah dipercaya.”
Dia pun menegaskan sikap institusi TNI. “TNI Manunggal bersama bersama rakyat. Semoga keberadaan kami bisa membantu menciptakan keamanan dan kesejahteraan di Papua.”
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden rusaknya atap gereja ini kembali membuka ruang diskusi publik tentang sensitivitas aktivitas keamanan di wilayah konflik Papua, khususnya ketika bersinggungan langsung dengan fasilitas keagamaan dan ruang hidup warga sipil.










