Kabut Asap Karhutla Merauke Ganggu Penerbangan Mimika, Berpotensi hingga Oktober

Ahmad

Senin, 28 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Stevan, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Stevan, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

MIMIKA – Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan mulai berdampak terhadap jarak pandang di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Mozes Kilangin hingga Oktober.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Stevan, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Mimika dalam beberapa hari terakhir berasal dari karhutla yang terjadi dalam skala besar di wilayah Papua Selatan, terutama Kabupaten Merauke.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan analisis citra satelit, BMKG mendeteksi ribuan titik panas (hotspot) di wilayah Papua Selatan. Sekitar 3.000 titik terdeteksi dengan tingkat kepercayaan sedang, sedangkan sekitar 200 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

“Kalau kita lihat peta sebaran khusus Papua Selatan, itu titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang mencapai 3.000, dan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 200 titik panas,” kata Stevan saat ditemui di Timika, Senin (28/9/2026).

Menurut dia, asap karhutla di Merauke terbawa pola angin dari arah timur hingga tenggara. Kondisi tersebut menyebabkan kabut asap menyebar ke sejumlah wilayah di pesisir selatan Papua, termasuk Mimika, Asmat hingga Kaimana, Papua Barat.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 6,6 Guncang Nabire, Tak Berpotensi Tsunami

Di Mimika, dampak paling signifikan terlihat pada penurunan jarak pandang. Pada pagi hari, jarak pandang sempat turun hingga di bawah 2 kilometer.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi operasional penerbangan, terutama pesawat berbadan besar.

“Jarak pandang di bawah 2 km, sehingga untuk pesawat-pesawat berbadan besar mungkin terjadi delay atau ditunda penerbangannya. Atau dialihkan sementara ke bandara lain sambil menunggu perkembangan jarak pandang,” ujar Stevan.

Ia mengatakan jarak pandang sekitar 2.000 meter menjadi salah satu batas yang perlu diperhatikan dalam aktivitas lepas landas maupun pendaratan pesawat.

Meski demikian, BMKG tidak mengambil keputusan terkait operasional penerbangan. BMKG hanya menyediakan data pengamatan cuaca dan jarak pandang secara berkala sebagai bahan pertimbangan AirNav dan pengatur lalu lintas udara (ATC).

Berpotensi Bertahan hingga Oktober

Stevan mengatakan kabut asap masih berpotensi menyelimuti Mimika selama kebakaran di Merauke belum mereda dan pola angin masih bergerak dari arah timur.

“Selama kebakaran hutan masih terjadi di Merauke dan arah anginnya masih bertiup dari timuran, mungkin masih akan terjadi hingga Oktober,” ucapnya.

Baca Juga :  Ngebut Subuh Hari, Pengendara Motor Tewas Tabrak Pagar di Mimika
Kondisi Mimika diselimuti kabut asap pada 26 September 2026. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Kondisi Mimika diselimuti kabut asap pada 26 September 2026. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Kondisi tersebut diperkirakan mulai berubah ketika pola angin monsun bergeser dari timuran ke baratan pada akhir Oktober hingga November.

Karhutla di Merauke menjadi salah satu faktor utama munculnya kabut asap yang terbawa hingga wilayah pesisir Papua. Kondisi kering dan banyaknya vegetasi yang mudah terbakar membuat kebakaran lahan dapat meluas dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.

BMKG juga mencatat kondisi kekeringan di Papua Selatan turut meningkatkan risiko kebakaran. Fenomena iklim yang memengaruhi pola curah hujan dapat memperpanjang kondisi kering dan meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Di Mimika, BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi asap meningkat. Warga juga disarankan menggunakan masker, terutama masyarakat di wilayah pesisir seperti Poumako yang terpantau memiliki konsentrasi asap lebih pekat.

Sementara itu, kondisi gelombang laut di perairan luar Laut Arafuru berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter. Untuk wilayah pelabuhan, kondisi relatif tenang dengan ketinggian gelombang sekitar 0,5 meter.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Freeport Sebut Kebakaran Hutan Tembagapura di Luar Area Operasionalnya
Kebakaran Hutan Melanda Pegunungan di Tembagapura Mimika
Pelajar di Mimika Ditemukan Meninggal di Kamar Kos, Polisi Usut Penyebab Kematian
TNI Sebut 2 Anggota OPM Kodap Sorong Raya Tewas dalam Kontak Tembak di Maybrat
Honor Nakes Tertunggak Lima Bulan, Pelayanan RSUD Elvrida Sara Nduga Ditutup
Seorang Pria Ditemukan Tewas dalam Mobil di Alun-alun Kuala Kencana Mimika
Pendaratan Dua Pesawat di Bandara Mozes Kilangin Dialihkan Akibat Kabut Asap
Seorang Pria Ditemukan Tewas di SP 3 Mimika

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:43 WIT

Freeport Sebut Kebakaran Hutan Tembagapura di Luar Area Operasionalnya

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:19 WIT

Kebakaran Hutan Melanda Pegunungan di Tembagapura Mimika

Rabu, 7 Oktober 2026 - 00:18 WIT

Pelajar di Mimika Ditemukan Meninggal di Kamar Kos, Polisi Usut Penyebab Kematian

Minggu, 4 Oktober 2026 - 20:53 WIT

TNI Sebut 2 Anggota OPM Kodap Sorong Raya Tewas dalam Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:57 WIT

Honor Nakes Tertunggak Lima Bulan, Pelayanan RSUD Elvrida Sara Nduga Ditutup

Berita Terbaru

Kebakaran hutan terjadi di kawasan pegunungan di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Facebook Anak Tambang Papua)

Peristiwa

Kebakaran Hutan Melanda Pegunungan di Tembagapura Mimika

Rabu, 14 Okt 2026 - 22:19 WIT