MALUKU TENGGARA — Hujan yang sempat mengguyur pesisir Pantai Hoar, Kampung Danar, pada Minggu (26/10/2025) siang, tak mampu memadamkan semangat sepuluh penari muda asal Mimika.
Di bawah langit kelabu yang perlahan cerah, langkah-langkah kaki mereka menandai awal dari sebuah pertemuan budaya yang menggetarkan hati: tarian Pangkur Sagu oleh TIFA Creative.
Festival Pesona Meti Kei 2025 siang itu seakan berhenti sejenak ketika suara musik mulai menggema di udara lembap. Para penari dari Papua Tengah itu menari dengan penuh totalitas—mengisahkan kisah kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari sagu, sumber pangan yang sarat makna di tanah Papua.
Tak lama, lingkaran penonton semakin rapat. Warga Maluku Tenggara dari berbagai kampung mendekat, mengelilingi para penari yang tubuhnya telah basah oleh peluh dan hujan.
Tatapan mata mereka penuh rasa kagum, terpukau oleh gerak tubuh yang kuat namun lembut, penuh harmoni antara manusia dan alam.
“Begitu mereka tampil, setelah itu masyarakat langsung membaur pada tarian selanjutnya yaitu seka. Bahkan masyarakat ikut menarikan tarian Seka bersama-sama. Itulah Indonesia—berbeda tapi satu,” ujar Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, saat diwawancarai usai menyaksikan penampilan tersebut.

Panggung Kolaborasi Timur
Penampilan TIFA Creative bukan sekadar hiburan. Ia menjadi jembatan, mempertemukan dua wilayah di gugusan timur Nusantara—Papua dan Kei—melalui bahasa universal: seni dan tari.
Kelompok TIFA Creative sendiri diundang secara khusus oleh Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara untuk mengisi rangkaian acara, salah satunya Wet Warat, sebuah tradisi menarik tali di pesisir pantai saat laut surut.
“Konsepnya kami sesuaikan dengan semangat festival. Kalau Meti Kei berbicara tentang laut dan ikan, maka kami hadir dengan Pangkur Sagu, simbol kehidupan masyarakat pesisir Papua. Laut memberi ikan, tanah memberi sagu—dua hal yang menyatukan kami,” ujar Alfo Smith, Art Director TIFA Creative.
Tak berhenti di situ, TIFA Creative menutup penampilannya dengan mengajak masyarakat menari bersama dalam tarian Seka, tarian khas Suku Kamoro dari pesisir Mimika.
“Kami ingin masyarakat merasakan sendiri sukacita yang terkandung dalam gerak tarian Papua,” lanjut Alfo.

Dan benar saja, Pantai Hoar di siang itu berubah menjadi ruang perayaan. Gelak tawa bercampur dengan ritme musik pertunjukan tarian Pangkur Sagu dan sorakan penonton.
“Panitia bahkan sampai kewalahan karena masyarakat terus meminta foto bersama. Itu bentuk cinta dan rasa penasaran mereka terhadap kami TIFA Creative,” kata Alfo bangga.
Seni Sebagai Bahasa Persaudaraan
Festival Pesona Meti Kei 2025 menjadi momentum penting bagi kolaborasi lintas wilayah timur Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Bupat dan Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Emanuel Kemong, hadir langsung bersama rombongan dari Mimika untuk memperkuat kerja sama antar-daerah di bidang pariwisata dan budaya.
“Kami ingin membangun ekosistem wisata di pantai selatan Papua dan Maluku. Festival seperti Meti Kei dan Festival Bakau di Mimika bisa menjadi simpul yang menghidupkan UMKM dan ekonomi kreatif,” ujar Johannes Rettob dalam video wawancara yang diterima Galeripapua.com, Minggu sore.
Ia juga menuturkan rencana besar untuk menyinergikan berbagai festival budaya di wilayah timur—dari Festival Asmat, Festival Biak, hingga Meti Kei—agar bisa dipromosikan secara bersama sebagai satu paket wisata budaya timur Indonesia.

Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, menyambut gagasan tersebut dengan antusias.
“Kita akan saling mengunjungi dan mengangkat potensi daerah masing-masing. Ini langkah yang baik untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memperkenalkan warisan budaya kita,” ujarnya.
Dari Mimika untuk Indonesia Timur
Bagi TIFA Creative, panggung di Pantai Hoar hanyalah awal. Mereka akan kembali tampil pada puncak Festival Pesona Meti Kei 2025 di Ohoililir pada Senin (27/10/2025) siang, membawakan tarian Papuan Body—sebuah karya yang merepresentasikan keberagaman budaya dari seluruh Tanah Papua.
“Besok kami ingin memberikan sesuatu yang lebih besar. Papuan Body ini tentang identitas, tentang manusia Papua dari timur sampai barat. Kami ingin masyarakat Kei merasakannya,” tutur Alfo Smith.

Di balik setiap langkah tarian, tersimpan pesan yang lebih dalam: tentang persaudaraan, tentang semangat lintas laut, dan tentang bagaimana kesenian bisa menjahit kembali jalinan kebinekaan.
Sore itu di Kampung Danar, di antara pasir basah dan sorak bahagia penonton, tarian Pangkur Sagu bukan hanya sebagai tarian biasa, tapi sebagai jantung dari sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan yang membuktikan bahwa di ujung timur Nusantara, budaya bukan sekadar warisan—ia adalah jembatan yang menyatukan.










