MIMIKA – Lapangan SMA Negeri 1 Mimika yang biasanya riuh oleh derap langkah baris-berbaris atau gelak tawa jam istirahat, berubah menjadi panggung keberanian pada Jumat (23/10/2026).
Di bawah terik matahari, kepulan asap hitam dari dalam drum besi mendadak menyita perhatian ratusan pasang mata remaja berseragam pramuka.
Hari itu, bahaya kebakaran tak lagi sekadar cerita di layar ponsel atau bab-bab guram di buku pelajaran, melainkan lidah api nyata yang siap ditaklukkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui kegiatan Search and Rescue (SAR) Goes to School, Tim Emergency Response PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama PT Nusa Halmahera Minerals (NHM)—yang tengah bersiap dalam ajang 8th Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) 2026—turun gunung.
Mereka datang untuk membagikan jurus selamat: menundukkan si jago merah sebelum sempat melahap mimpi.
Dari Gurauan Calon Influencer hingga Sumpah Menjadi Pahlawan
Sesi edukasi dimulai di Aula SMAN 1 Mimika dengan suasana cair dan penuh kelakar. Manager Management Infrastructure System PTFI, Arief Wiryadinata, memecah kekakuan ruang rapat lewat interaksi segar saat menanyakan cita-cita para siswa di masa depan.
Saat Arief menanyakan siapa yang ingin menjadi content creator atau YouTuber, gemuruh tawa dan riuh sahut-menyahut memenuhi ruangan. Namun, suasana berubah hangat ketika pertanyaan bergeser ke profesi penyelamat.
“Bayangkan betapa membanggakannya jika kita bisa menyelamatkan nyawa orang,” ujar Arief di hadapan ratusan siswa.
Di tengah canda mengenai helm dan disiplin lalu lintas, Arief menyelipkan pesan krusial bahwa keselamatan tidak dimulai dari sirine mobil pemadam, melainkan dari kesadaran diri sendiri.
“Pahlawan sejati bukan hanya yang menyelamatkan nyawa, tetapi yang setiap hari mencegah bahaya. Jika kalian celaka, korban sesungguhnya adalah keluarga yang menanti di rumah,” tegas Arief.
Memeluk Takut, Menjinakkan Api
Usai teori pengenalan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jenis powder (P 300 ABC), panggung berpindah ke lapangan terbuka.
Tak sedikit siswa yang awalnya ragu saat mendekati tabung APAR merah yang berat. Namun, rasa penasaran perlahan membakar rasa takut mereka.
Dengan bimbingan ketat dari para personel rescue kawakan dari berbagai pelosok Nusantara—mulai dari Sumatra hingga Halmahera—beberapa siswa memberanikan diri maju.
Dengus gas penyemprot berpadu dengan sorak-sorai riuh penonton saat kobaran api di dalam drum padam seketika.
Bagi para pelajar, ini bukan sekadar simulasi, melainkan ruang pembuktian bahwa ketenangan adalah senjata utama saat bencana melanda.
“Perasaan saya senang karena dapat ilmu baru. Kalau terjadi kebakaran, yang pertama itu tetap santai, tidak panik,” tutur Sandra Revalina Krista Gwijangge, siswi kelas 10, yang mengaku kini tertarik mendalami dunia rescue.
Rekan sekelasnya, Yunifer Putri Selaka, mengamini hal tersebut. Ia menilai pengalaman praktis ini menjadi bekal berharga untuk melindungi keluarga di rumah.
“Sangat penting karena bisa menambah ilmu baru dan pelajaran bagi saya,” ujar Yuni.
Senada dengan Sandra, Leonardus Bobii, siswa kelas 10 lainnya, mengingat betul pesan yang diterimanya jika situasi darurat terjadi di rumah tanpa ketersediaan APAR.
“Tetap tenang, jangan panik. Bisa cari air atau kain basah untuk memadamkan api,” ujar Leonardus polos namun mantap.
Menanam Budaya Selamat di Episentrum Pendidikan
Program interaktif yang lahir atas kolaborasi Kementerian ESDM, Pertapindo, PTFI, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika ini dirancang bukan sekadar untuk menjadi atraksi sehari.
Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Simon Roda Patandianan, menegaskan bahwa edukasi mitigasi adalah bekal hidup (life skill) yang mutlak bagi generasi muda Papua yang hidup di berdampingan dengan kawasan industri skala besar.
“Kita ingin mengubah paradigma: keselamatan bukan lagi aturan yang dipaksakan, melainkan karakter dan gaya hidup. Generasi muda Papua tidak boleh hanya menjadi penonton,” tutur Simon.
Ketika matahari mulai condong ke barat, kepulan asap di lapangan SMAN 1 Mimika telah memudar.
Namun, di dada para siswa, percik keberanian dan kesadaran baru baru saja dinyalakan—bahwa untuk menjadi pahlawan bagi sesama, seseorang hanya perlu belajar bagaimana cara menjaga dirinya tetap selamat.













