NDUGA – Sebuah rekaman suara yang bocor ke publik memperlihatkan sisi lain dari munculnya video pernyataan Edison Gwijangge yang sempat viral di media sosial pada pertengahan Juni 2025.
Mantan Penjabat Bupati Nduga itu menanggapi tuduhan serius dari juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom. Namun, fakta-fakta baru kini menyibak adanya skenario komunikasi yang disusun rapi—dan menimbulkan polemik lebih besar.
Rekaman yang Menguak Settingan
Dalam rekaman suara yang beredar luas, seorang yang diduga berinisial AS, yang disebut sebagai mantan aparat keamanan dan mantan pejabat di Nduga, terdengar memberikan arahan kepada seseorang terkait pembuatan dan publikasi video Edison Gwijangge.
“Pak Edi diancam, keluarganya diancam… Jadi saya mau dia bikin video, bilang ke Menhan, bantah isu Rp25 miliar, dan tegaskan tidak ada jabatan atau uang,” ujar AS dalam rekaman itu.
AS juga menyebut bahwa video tersebut rencananya akan disebarluaskan melalui YouTube, Instagram, hingga TikTok.

Bahkan, isi narasi telah disiapkan: mengucapkan terima kasih kepada Menteri Pertahanan, membantah isu perjanjian Rp25 miliar dengan Egianus Kogoya, dan menyerang balik pernyataan Sebby Sambom.
Tak hanya itu, dalam dialog tersebut muncul nama-nama lain seperti Sebby Sambom, Yanili, dan Nyamuk Karunggu—nama terakhir disebut sebagai pihak yang sering membuat tulisan mengatasnamakan jubir OPM, Sebby Sambom, meskipun klaim itu langsung dibantah oleh yang bersangkutan.
Pernyataan Edison: Membantah dan Mengancam Balik
Pada 17 Juni 2025, video Edison Gwijangge benar-benar muncul ke permukaan melalui akun TikTok @edison.nggwijangg.

Dalam video itu, Edison membantah tiga poin utama yang dilontarkan Sebby Sambom pada 6 Juni lalu. Tuduhan-tuduhan itu yakni sebagai berikut.
Pertama, tuduhan bahwa dirinya menjanjikan dana Rp25 miliar kepada Egianus Kogoya untuk membebaskan pilot Susi Air.
Kedua, penetapan dirinya sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh TPNPB-OPM.
Ketiga, ancaman pembunuhan terhadap dirinya, keluarga, dan tim kerja oleh Egianus atas perintah Sebby.
“Pernyataan itu tidak benar, dan sangat berbahaya bagi kedamaian di Tanah Papua,” tegas Edison.
Ia bahkan memperingatkan Sebby agar segera mencabut ancaman tersebut, atau akan mendapat “kutukan moral dan sosial.”
Sebby Sambom: “Itu Semua Paksaan”
Tak butuh waktu lama setelah rekaman suara AS beredar, juru bicara OPM Sebby Sambom merespons.
Ia menyebut seluruh pernyataan Edison di video tersebut bukan berasal dari hati nurani, melainkan hasil tekanan dan paksaan yang diskenariokan oleh AS.

“Semua pernyataan Edison Gwijangge adalah hasil settingan oleh anggota bernama AS,” kata Sebby dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (26/6/2025).
Sebby juga merujuk pada rekaman suara yang bocor sebagai bukti kuat adanya intervensi militer dalam upaya mengatur opini publik dan melemahkan perjuangan bersenjata mereka.
Nyamuk Karunggu: “Saya Difitnah”
Kecaman terhadap AS juga datang dari Nyamuk Karunggu—yang dalam rekaman disebut sebagai adik dari Yanili dan pihak yang aktif menyebarkan tulisan mengatasnamakan Sebby Sambom.

Melalui surat terbuka tertanggal 19 Juni 2025, Nyamuk membantah keras keterlibatannya. Ia mengaku tidak pernah menulis pernyataan atas nama Sebby Sambom, dan menyebut tudingan itu sebagai bentuk pelanggaran hak asasi serta privasi.
“Saya minta Bapak AS segera klarifikasi dan menghentikan fitnah serta intimidasi,” tulis Nyamuk.
Ia bahkan menyebut pernah menjadi target teror sejak masih menjadi mahasiswa di Universitas Mataram.
Nyamuk menuntut perlindungan dari lembaga HAM, baik nasional maupun internasional, menyusul meningkatnya tekanan yang ia alami sejak pernyataan AS beredar.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari AS, Edison Gwijangge, maupun pihak aparat keamanan terkait tuduhan dan rekaman suara yang beredar.
Laporan ini disusun berdasarkan transkrip rekaman suara yang beredar di publik, video pernyataan di media sosial, serta pernyataan tertulis dari berbagai pihak. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dari semua pihak yang disebutkan.










