MIMIKA – Hujan deras mengguyur Jalan Budi Utomo, Timika, Papua Tengah, pada Minggu (24/8/2025) sore. Meski begitu, Kafe Kopi Mulo tetap penuh sesak. Hampir semua meja terisi.
Ada yang sibuk mengetik di laptop, ada pula yang berkumpul rapat sambil menatap layar. Bukan hanya karena kopi hangatnya, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih langka belakangan ini yakni jaringan internet yang stabil.
Sejak 16 Agustus 2025, kualitas internet di Papua Tengah dan Papua Selatan menurun drastis. Dalam satu hari, koneksi bahkan sempat mati total, membuat masyarakat frustrasi.
Pihak penyedia layanan mengumumkan perbaikan baru akan selesai pada September. Di tengah situasi itu, seorang pemilik kafe di Timika melihat peluang.
“Pertama itu jaringan semua rusak. Saya coba pakai kartu 3, ternyata sama saja tidak bisa. Lalu ada teman saya yang sudah pakai Starlink. Dari situ saya langsung kepikiran,” kata Renzo Kalvien Palino Ada’, Owner Kopi Mulo kepada Galeripapua.com.
Awalnya ia ragu. Harga perangkat Starlink mencapai Rp6 jutaan, ditambah biaya bulanan Rp700-an ribu.
“Aduh, 6 juta ini mahal sekali. Takutnya pas baru beli tiba-tiba Indihome kembali bagus. Tapi setelah ada pemberitahuan kalau perbaikan baru selesai September, saya langsung putuskan beli. Puji Tuhan, dalam dua hari sudah kembali modal,” ujarnya.
Dari Gerobak ke Kafe Ramai
Perjalanan Kafe Kopi Mulo sendiri bukan instan. Ia memulai usaha kopi sejak 2019, dari sebuah gerobak kecil. “Dulu itu bisa dibilang hanya ada 1-2 meja. Sekarang bisa tampung 100–150 orang,” katanya.

Kenang Renzo, tiga bulan pertama ia mendorong gerobak keliling. Lalu beralih ke kontainer kafe, hingga akhirnya bisa membangun tempat permanen seperti sekarang.
Konsepnya sederhana: tempat nongkrong nyaman untuk semua kalangan. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, segmennya naik kelas.
“Dulu targetnya menengah ke bawah. Sekarang lebih ke menengah ke atas, banyak orang kantoran datang. Jadi anak-anak kecil sudah jarang,” jelasnya.
Starlink Bawa Keuntungan
Begitu Starlink terpasang pada 18 Agustus 2025, suasana kafe langsung berubah drastis. “Perbandingan omset naik hampir 5 kali lipat,” ungkapnya.
Namun, kesuksesan itu datang dengan konsekuensi. Lonjakan pelanggan membuat karyawan kewalahan.
“Ada plus minusnya. Plusnya omset naik. Minusnya karyawan kerja ekstra, banyak yang sakit. Saya sendiri sampai sakit, tapi masih paksa kerja. Orderan kadang sampai 500–600 per hari, padahal sebelumnya hanya 200,” katanya.
Saking ramainya, ia terpaksa menutup pagar kafe untuk mengendalikan jumlah pengunjung.
“Kita kasih masuk yang mau mengerti saja, bahwa orderan akan lama. Kadang orang dorong pagar juga masuk. Bahkan kita sudah close order, tetap ada yang memaksa,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari Nongkrong Jadi Kantor
Starlink di Kopi Mulo bukan sekadar fasilitas hiburan. Bagi banyak orang, ia jadi penyelamat aktivitas penting. Ada perusahaan yang menjadikan Mulo sebagai kantor darurat.
“Asrat Abadi itu, mereka 3 hari berkantor di sini. Besok Senin juga mereka sudah booking meja. Dari 10 pengunjung, 8 orang pasti kerja pakai laptop,” katanya.
Cerita-cerita darurat pun tak jarang muncul. “Hari kedua itu, ada yang mau naik pesawat tapi belum screenshot e-ticket. Ada yang mau transfer uang karena anak sakit. Sampai ada orang bandara bilang, kalau mau jaringan, pergi saja ke Mulo. Jadi saya harus cepat-cepat pasang Starlink meski belum buka kafe,” ujarnya.
Keluarga Turun Tangan
Ramainya pengunjung membuat hampir semua anggota keluarganya ikut membantu. “Saya bersaudara ada 4. Mama, bapak, semua turun tangan bantu di dapur. Ada juga teman-teman saya pekerjakan sementara. Saking ramainya, semua harus terlibat,” katanya.

Meski begitu, ia tetap berusaha menghargai tenaga karyawan. “Kita tidak naikkan gaji, tapi kasih bonus. Kalau target omset tercapai, pasti saya kasih. Karena mereka juga capek kan,” ujarnya.
Pesan untuk Pebisnis
Menurutnya, krisis jaringan ini memberi pelajaran penting bagi pelaku usaha. “Pesan saya, lebih pintar-pintar lihat peluang. Jaringan yang hilang ini memang bikin susah, tapi juga peluang. Kalau kita bisa ambil lebih dulu, pasti ada hasilnya,” katanya.
Meski nanti internet Telkomsel dan Indihome kembali normal, ia mengaku tetap akan mempertahankan Starlink.
“Indihome itu suka bermasalah. Jadi daripada saya bayar dua-dua, saya pertahankan yang paling bagus. Saya pilih Starlink,” ujarnya.
Dari Krisis Jadi Berkah
Bagi sebagian orang, internet mati berarti lumpuh aktivitas. Tapi bagi Kafe Kopi Mulo, situasi itu justru jadi momentum untuk melompat lebih jauh.
Dari sebuah gerobak kecil, kini kafe ini bukan hanya tempat nongkrong, tapi juga kantor dadakan bagi banyak pekerja di Timika.
Seperti kata pemiliknya, “Mungkin awalnya saya ragu. Tapi untung saya beli Starlink. Kalau terlambat, pasti sudah habis. Dan syukurlah, sekarang bisa jadi berkat buat banyak orang juga.”










