DEIYAI — Pemerintah Kabupaten Deiyai melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) resmi menetapkan tiga pemenang Sayembara Desain Batik Khas Suku Mee 2025.
Dari total 46 peserta, tiga karya terbaik dipilih oleh dewan juri dalam penjurian yang berlangsung di Kantor Bupati Deiyai, Selasa (25/11/2025).
Ketiga juara diumumkan oleh budayawan Papua sekaligus akademisi, Titus Pekei. Mereka adalah juara I Yosinta Douw dengan nomor desain 8.1, juara II Hana Reona Pakage dengan nomor desain 46, dan juara III Oktovina Mote dengan nomor desain 4.4.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyerahan hadiah akan dilakukan pada puncak HUT ke-17 Kabupaten Deiyai, Rabu (26/11/2025).
Penilaian Berbasis Filosofi, Warna, dan Nilai Jual
Desainer TIFA Creative sekaligus juri, Alfo Smith, menjelaskan bahwa penilaian tidak semata mempertimbangkan visual. Ia menekankan pentingnya narasi budaya serta filosofi yang diperkuat oleh komposisi warna.

“Penilaian dilihat dari bagaimana desainer memiliki kemampuan untuk mengembangkan narasi pandangan filosofi yang sudah ada secara umum. Kemudian bagaimana gradasi warnanya,” jelas Alfo.
Ia menyebut Papua identik dengan warna-warna mencolok, elegan, dan mewah, sehingga warna dalam desain harus memiliki makna.
“Misalkan dari desain ini dia perlu warna merah, nah warna merah dalam arti pengerti merah itu fungsinya apa, kuning fungsinya apa,” tambahnya.

Selain unsur budaya Deiyai, juri juga menilai potensi komersial desain. “Kami tidak bisa hanya bikin desain dan diproduksi terus tidak ada jualnya. Kita juga harus memikirkan masa jangka panjang, bisa mempromosikan Deiyai, sampai manca negara juga bisa tahu bahwa Deiyai ada batik,” ujarnya.
Senada dengan itu, juri Titus Pekei menegaskan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan konteks masyarakat Mee di Deiyai.
“Juara dinilai dari geografis, ekologis, dan humanis, manusia Mee di kabupaten Deiyai,” ungkapnya.

Dekranasda Siapkan Hak Paten dan Produksi Batik Deiyai
Ketua Dekranasda Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, mengatakan sayembara ini merupakan langkah awal untuk menghadirkan batik khas Deiyai yang autentik dan berbeda dari daerah lain.
“Kegiatan Sayembara Batik Suku Mee ini kami laksanakan supaya kami, Kabupaten Deiyai punya batik sendiri. Jadi batik yang tidak sama dengan batik-batik lain,” ujarnya saat diwawancarai Galeripapua.com usai acara berlangsung.

Ia memastikan tiga desain pemenang akan dibawa ke tahap berikutnya. “Kami akan urus dia punya hak paten supaya kalau bisa semua pegawai negeri yang ada di Kabupaten Deiyai ini, kami bisa cetak batik untuk mereka pakai di hari Kamis,” kata Fransina.
Bupati: Batik Mee Akan Jadi Identitas Resmi Deiyai
Bupati Deiyai, Melkianus Mote, menutup rangkaian kegiatan penjurian dengan menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya melalui simbol busana. Ia menyebut batik khas ini akan menjadi penanda kuat asal-usul masyarakat Mee dari Deiyai.
“Maka itu kami juga ingin menampilkan kami punya ciri khas. Jadi kalau orang sudah pakai baju itu, orang sudah tahu itu orang Deiyai,” tegas Bupati dalam sambutannya.

Ia juga mengungkapkan sejumlah program besar daerah yang berkaitan dengan pelestarian budaya, termasuk pendirian museum dan enam galeri yang akan menyimpan dan memamerkan beragam artefak budaya Mee. Proyek ini ditargetkan tuntas pada 2026.
“Nanti ada tour guide dari pariwisata akan stand by di situ. Selain itu kami punya pasar souvenir dan akan dikelola sama Dekranasda,” jelas Mote.
Desain Lain Tetap Punya Potensi
Dekranasda membuka peluang bagi desain-desain lainnya untuk diadopsi pada masa mendatang. “Mungkin nanti ke depannya kami akan berbicara, kami bisa pilih lagi batik yang lain,” ujar Fransina.
Dengan penetapan tiga desain terbaik ini, Deiyai memasuki tahap baru dalam membangun identitas visual budaya Mee melalui batik.

Produk ini diharapkan tidak hanya menjadi seragam pegawai, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat sekaligus komoditas budaya yang dapat mengharumkan nama Deiyai di tingkat nasional hingga internasional.










