MIMIKA – Bunyi bibit kopi yang jatuh ke sungai masih menjadi bagian penting dari ingatan Agustinus Kadepa. Bibit-bibit itu sengaja ia buang satu per satu, setelah berbulan-bulan berusaha mengajak masyarakat di kampungnya menanam kopi.
Ketika ajakannya tak kunjung mendapat sambutan, ia memilih melakukan sesuatu yang membuat orang-orang di kampung bertanya-tanya.
“Kenapa kau buang?” tanya mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Habis kan kamu tidak mau tanam, to. Saya sudah tanam, jadi yang lain ini saya buang,” jawab Agustinus.
Bibit yang dibuang itu bukan sekadar tanaman. Di balik tindakannya, ada kekecewaan seorang pemuda yang ingin mengubah cara masyarakat memandang kopi, sekaligus harapan agar kampungnya memiliki sumber pendapatan baru.
Agustinus, yang akrab disapa Agus Kadepa, adalah petani kopi asal Kabupaten Paniai, Papua Tengah. Dia merupakan seorang sarjana lulusan Universitas Cenderawasih yang memilih menjadi pegiat kopi.
Sejak akhir 2019 hingga awal 2020, ia mulai mengajak masyarakatnya di Kampung Tuguwai, Distrik Aweidah, untuk menanam kopi. Ia juga membangun usaha pengolahan dan pemasaran kopi melalui Koperasi Tani Papua Makmur.
Kini, hasil kerja itu mulai terlihat. Kebun-kebun yang mereka tanam bersama telah memasuki masa panen. Dari sana, lahir Ko Puaz, merek kopi yang dikembangkan untuk memperkenalkan cita rasa Paniai kepada pasar yang lebih luas.

Galeripapua.com menemui Agustinus di stan Ko Puaz dalam sebuah festival UMKM di Kabupaten Mimika pada Kamis (8/10/2026).
Di atas dua meja panjang, produk kopi Ko Puaz tersusun bersama beberapa makanan ringan. Sementara itu, foto-foto yang terpasang di sisi kiri dan kanan stan memperlihatkan perjalanan masyarakat mengolah tanah, menanam bibit, merawat pohon, memanen buah kopi, hingga mengolahnya menjadi produk siap jual.
Di luar stan, matahari hanya mengintip dari balik kabut asap yang menghiasi langit akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah Papua.
Di antara pengunjung yang datang melihat produk UMKM, Agustinus menawarkan sesuatu yang lebih panjang daripada secangkir kopi, yaitu cerita tentang tanah, kesabaran, dan usaha masyarakat kampung membangun masa depan mereka sendiri.
Ketika kopi tak lagi dianggap penting
Kopi sebenarnya bukan tanaman baru bagi masyarakat pegunungan Papua. Menurut Agustinus, tanaman ini telah lama hadir di Paniai, dibawa oleh para misionaris Kristen Protestan maupun Katolik.
Namun, keberadaan kopi tidak serta-merta membuat masyarakat menjadikannya sebagai sumber penghidupan yang serius.
Perubahan mulai terasa ketika kopi Paniai mengikuti Jakarta Coffee Week beberapa tahun silam. Produk kopi dari daerah itu masuk dalam jajaran 10 besar dan mendapat pengakuan sebagai kopi spesialti dengan cita rasa yang diperhitungkan.
Pencapaian tersebut memunculkan ketertarikan pasar. Permintaan meningkat, orang-orang mulai mencari kopi Paniai, dan perhatian terhadap potensi kopi dari wilayah pegunungan itu tumbuh. Namun, ada masalah mendasar, produksi yang tidak mencukupi.
Permintaan datang ketika kebun kopi masyarakat belum mampu menyediakan hasil panen dalam jumlah memadai. Potensi pasar terbuka, tetapi ketersediaan bahan baku menjadi penghalang.
Bagi Agustinus, keadaan itu menjadi pertanyaan sekaligus tantangan. Jika kopi Paniai memiliki kualitas dan diminati pasar, mengapa masyarakat tidak memperbanyak tanaman tersebut?

Pertanyaan itulah yang mendorongnya mempelajari budidaya kopi, mulai dari penanaman hingga pengolahan pascapanen.
Ia kemudian mengajak orang-orang di kampungnya menanam kopi. Pada tahap awal, hanya 12 orang yang bersedia bergabung. Jumlah itu perlahan bertambah, meskipun membangun kepercayaan masyarakat tidak semudah menyampaikan ajakan.
Agustinus sendiri baru kembali ke kampung setelah sekitar 15 tahun hidup di luar. Kepulangannya membuat ia merasa seperti orang asing di tanah sendiri.
Selama hampir setahun, ia lebih banyak diam dan mengamati. Ia belajar tentang kopi sekaligus memahami kehidupan masyarakat sebelum memutuskan bagaimana harus memulai.
Baginya, mengajak orang menanam kopi tidak cukup hanya dengan berbicara tentang peluang ekonomi. Ia harus menunjukkan bahwa tanaman tersebut benar-benar dapat memberikan hasil.
“Jadi kalau kita hanya sebatas bicara saja lalu kita mengajak orang, itu sangat tidak mungkin. Mereka tidak akan ikut. Mereka akan bilang ‘kau tidak ada bukti baru kau bicara saja, masa kita mau ikut kau?’ Kan begitu to,” kata Agustinus.
Maka itu, ia memilih memulai dari kebunnya sendiri.

Bibit yang dibuang, komitmen yang tumbuh
Setelah mempelajari budidaya kopi, Agustinus bersama adik laki-lakinya mulai membuat bibit. Pada tahap awal, mereka menghasilkan sekitar 5.000 bibit untuk ditanam.
Bibit itu kemudian menjadi bagian dari upayanya mengembangkan kebun kopi bersama masyarakat. Namun, sebagian orang belum menunjukkan minat untuk ikut menanam.
Sampai suatu sore, Agustinus mengambil satu karung berisi bibit kopi di belakang rumah laki-laki, tempat masyarakat biasa berkumpul. Ia lalu membuang bibit-bibit tersebut ke aliran sungai di dekat rumah tersebut.
“Saya buang satu per satu bunyi puk-pak, puk-pak, puk-pak,” kenang Agustinus.
Tindakan itu mengundang perhatian. Orang-orang keluar dan bertanya mengapa bibit kopi dibuang, padahal tanaman itu telah dibuat dengan susah payah.
Malam harinya, persoalan tersebut dibicarakan di rumah laki-laki. Agustinus dipanggil dan diingatkan bahwa usahanya membuat bibit kopi merupakan pekerjaan baik.
Percakapan itu kemudian berujung pada kesepakatan. Masyarakat bersedia membentuk kelompok dengan syarat setiap anggota menyediakan sebidang lahan untuk ditanami kopi.
Mereka juga sepakat bekerja bersama, berpindah dari satu kebun ke kebun lain untuk membantu membuka lahan, menanam, dan perawatan tanaman.
Bagi Agustinus, kesepakatan tersebut menjadi titik awal yang penting. Ia tidak lagi berjalan sendirian.

Dari kelompok kecil yang semula hanya beranggotakan belasan orang, usaha itu berkembang menjadi bagian dari Koperasi Tani Papua Makmur. Kini, koperasi tersebut memiliki 50-an petani yang sekaligus menjadi anggota.
Mereka telah memproduksi sekitar 18.000 bibit kopi. Menurut perkiraan Agustinus, sekitar 65 persen tanaman mulai memasuki masa produksi, sementara sisanya masih dalam tahap pertumbuhan.
Setiap kebun memiliki jumlah tanaman yang berbeda. Ada petani yang menanam sekitar 200 pohon, tetapi ada pula yang memiliki 1.000 hingga 3.000 pohon.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kopi mulai mendapat tempat di tengah masyarakat. Namun, perjalanan mereka belum selesai.
Bertahun-tahun merawat sebelum memanen
Tidak seperti tanaman pangan yang dapat dipanen dalam waktu relatif singkat, kopi menuntut petani bertahan selama bertahun-tahun sebelum memperoleh hasil.
Agustinus menyebut masa menunggu sebagai salah satu tantangan terbesar. Setelah bibit ditanam, petani harus kembali ke kebun untuk membersihkan gulma, merawat tanaman, dan memastikan pertumbuhannya berlangsung baik.
Pekerjaan itu harus dilakukan berulang kali, sementara hasilnya belum bisa dinikmati.
“Kemudian kita juga sudah terlanjur dengan budaya minum kopi sembarang. Itu tantangan di tingkatan bagaimana orang minum kopi. Kita belum pernah minum kopi sehat,” katanya, menjelaskan persoalan lainnya yang ia hadapi dalam membangun usaha kopi.
Tak hanya itu, tantangan juga soal mengajak masyarakat memperluas kebun ketika permintaan kopi mulai meningkat. Membuka lahan baru dan merawat tanaman membutuhkan tenaga, waktu, serta komitmen yang tidak sedikit.
Di Paniai, masyarakat memiliki lahan untuk berkebun dan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Agustinus melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan kopi tanpa harus meninggalkan tanaman pangan.

Ketika satu lahan ditanami kopi, lahan lain dapat digunakan untuk menanam ubi atau sayuran. Dengan cara itu, kebutuhan pangan keluarga tetap dapat dipenuhi sambil menunggu kopi menghasilkan.
Meski demikian, ia memahami bahwa keputusan menanam kopi berarti bersedia menunda sebagian hasil. Petani harus terus merawat tanaman yang belum menghasilkan, bahkan ketika pendapatan dari kebun tersebut belum tersedia.
Kesabaran itu mulai terbayar pada 2025, ketika kebun-kebun yang mereka bangun bersama memasuki panen awal. Pada tahun tersebut, hasil panen mereka mencapai lebih dari 300 kilogram.
Pada 2026, panen kembali berlangsung dan menunjukkan perkembangan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Agustinus belum dapat memastikan total produksi hingga akhir tahun karena pemanenan masih berjalan.
Ia memperkirakan hasilnya akan meningkat seiring bertambahnya jumlah pohon yang memasuki masa produktif.
Bagi Agustinus, kopi menawarkan sesuatu yang penting bagi keluarga petani yakni kesempatan memperkirakan pendapatan dengan lebih terukur.
Petani dapat menghitung jumlah tanaman, memperkirakan hasil panen, lalu menyusun rencana penggunaan uang untuk kebutuhan keluarga.
Berbeda dengan hasil kebun yang nilainya sulit dipastikan sebelum panen, kopi memberikan peluang untuk merencanakan pendapatan berdasarkan jumlah produksi dan harga jual.
Namun, peluang itu baru akan terasa jika tanaman dirawat dengan baik dan hasil panen dapat diolah menjadi produk yang memenuhi kebutuhan pasar.
Ko Puaz dan cerita dari kebun
Dari kebun-kebun di Tuguwai, perjalanan kopi tidak berhenti setelah buah dipetik.
Petani mengumpulkan buah kopi merah atau ceri, kemudian membawanya ke koperasi untuk diproses. Tahap berikutnya meliputi pengeringan, pengupasan kulit, hingga menghasilkan biji kopi mentah atau green bean.
Agustinus mempelajari proses pascapanen secara mandiri dan melalui pengalamannya terlibat dalam pengembangan koperasi kopi di Paniai bernama Koharu.
Setelah keluar dari koperasi tersebut, ia bersama kelompoknya mulai mengembangkan pengolahan sendiri dengan peralatan yang tersedia.
Untuk proses sangrai atau roasting, ia belajar dari para pelaku kopi yang lebih berpengalaman. Mereka bertukar pengetahuan melalui telepon dan panggilan video, termasuk mengenai teknik menyangrai biji kopi.
Dari proses belajar itulah Ko Puaz mulai dikembangkan sebagai merek kopi asli Paniai.

Nama Ko Puaz juga membawa permainan kata yang dekat dengan percakapan sehari-hari masyarakat setempat: “Ko su puas kah?”
Bagi Agustinus, merek tersebut bukan hanya identitas dagang. Ia ingin orang mengenal kopi yang berasal dari kebun masyarakat Paniai, mengetahui bagaimana tanaman itu dirawat, dan memahami proses yang dilalui sebelum tersaji dalam cangkir.
Karena itu, ketika mengikuti festival UMKM di Timika, ia membawa dokumentasi perjalanan kopi dari kebun hingga menjadi produk.
Foto-foto yang dipajang di stan memperlihatkan petani yang menanam dan merawat tanaman, proses panen, serta pengolahan hasilnya. Ia ingin pengunjung melihat bahwa di balik satu kemasan kopi terdapat pekerjaan banyak orang dan perjalanan panjang sebuah komoditas.
Menurut Agustinus, sebagian pengunjung mengapresiasi kehadiran kopi dari Paniai. Namun, ia juga melihat bahwa kopi lokal masih harus diperkenalkan lebih luas kepada konsumen yang terbiasa membeli kopi dalam kemasan tanpa mengetahui asal-usulnya.
Ia ingin kebiasaan minum kopi tidak berhenti pada rasa. Konsumen juga perlu mengetahui dari mana kopi berasal, siapa yang menanamnya, dan bagaimana produk itu dihasilkan.
Kopi, dalam pandangannya, membawa cerita yang layak dikenal.
Pasar terbuka, produksi masih terbatas
Festival UMKM di Timika menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kegiatan serupa di kota itu. Sebelumnya, Agustinus telah dua kali mengikuti kegiatan di Nabire.
Ia datang dengan dua tujuan: memperkenalkan Ko Puaz kepada masyarakat dan membuka peluang kerja sama dengan para pelaku usaha kopi, terutama pemilik kedai atau coffee shop.
Selama mengikuti kegiatan tersebut, satu hingga dua pengunjung telah mengambil kartu namanya. Agustinus berharap komunikasi dapat berlanjut menjadi kerja sama pemasaran.
Namun, ia tidak ingin terburu-buru menerima pesanan dalam jumlah besar.
Produksi kopi mereka masih terbatas. Sebagian tanaman belum memasuki masa produktif, sedangkan biaya transportasi dari Paniai ke daerah pemasaran menjadi beban tersendiri.
Agustinus mengatakan, dalam kondisi tertentu, ongkos pengiriman bahkan bisa mencapai dua kali harga kopi yang dikirim.
“Meskipun ada saja permintaan dari luar tapi memang terkendala dengan transportasi. Jadi harga kopi dengan harga pengiriman itu justru dua kali lipat harga pengirimannya. Jadi kalau kita bicara tol laut juga, ah yang benar saja? Kadang juga pikir-pikir begitu,” keluhnya.
Kondisi tersebut membuat perluasan pasar menjadi persoalan yang tidak sederhana. Produk yang baik belum tentu mudah dijual ke luar daerah apabila biaya distribusinya terlalu tinggi.
Untuk saat ini, Agustinus dan kawan-kawan koperasi memilih memprioritaskan pasar lokal. Dia mengembangkan pemasaran melalui kedai milik mereka di Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai.
Ia ingin masyarakat Paniai terlebih dahulu mengenal dan mengonsumsi kopi dari daerahnya sendiri sebelum produk tersebut dipasarkan lebih jauh.
Baginya, akan terasa janggal jika kopi Paniai lebih dahulu dikenal di luar daerah, sementara masyarakat di daerah asalnya belum menjadikannya pilihan.
Ia tetap membuka peluang untuk memperluas pemasaran secara bertahap. Akan tetapi, pesanan dalam jumlah satu hingga dua ton per bulan belum dapat dipenuhi.

Kapasitas produksi perlu dibangun sejalan dengan pertumbuhan tanaman, kesiapan pengolahan, dan kemampuan distribusi.
Karena itu, Agustinus memandang perluasan pasar bukan hanya persoalan promosi. Petani juga membutuhkan dukungan agar produksi dapat meningkat tanpa mengorbankan kualitas.
Mesin mahal bukan pemborosan
Salah satu persoalan yang disoroti Agustinus adalah kualitas peralatan pengolahan kopi yang digunakan petani.
Menurut pengalamannya, sejumlah mesin bantuan pemerintah tidak berfungsi sebagaimana diharapkan. Ada mesin yang akhirnya hanya tersimpan di gudang karena tidak dapat digunakan secara optimal.
Ia mencontohkan mesin pengupas kulit kopi yang justru merusak biji ketika digunakan. Padahal, petani telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk merawat tanaman, memanen buah, serta mengolah hasilnya melalui tahapan pascapanen.
Kerusakan pada tahap akhir dapat menurunkan kualitas produk yang seharusnya memiliki nilai jual lebih tinggi.
Agustinus juga menyinggung pengalaman di kabupaten tetangga. Ia mengingat sebuah tempat pengolahan yang memiliki beberapa mesin pengupas kulit, mesin huller, dan mesin sangrai, tetapi kualitas peralatannya menjadi persoalan.
Baginya, pengadaan mesin tidak seharusnya hanya berorientasi pada jumlah barang yang disalurkan. Peralatan harus sesuai dengan kebutuhan petani dan mampu menghasilkan produk berkualitas.
“Kualitas mesinnya itu sudah harus mahal. Ini kan kita mau jual nama daerah, nama kampung ke luar,” katanya.
Pernyataan tersebut berangkat dari kekhawatiran bahwa kualitas pengolahan dapat menentukan kepercayaan pasar terhadap kopi dari suatu daerah.
Ketika petani berusaha memperkenalkan produk ke luar Paniai, mereka sekaligus membawa nama kampung dan daerah asalnya. Kualitas yang buruk bukan hanya merugikan satu kelompok petani, tetapi juga dapat memengaruhi penilaian konsumen terhadap produk lokal secara keseluruhan.
Karena itu, dukungan pemerintah, menurut Agustinus, perlu diwujudkan melalui pengadaan peralatan yang benar-benar dapat digunakan dan memenuhi standar pengolahan.
Dukungan tersebut penting agar usaha petani tidak berhenti pada produksi buah kopi, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
Kopi, hutan, dan warisan keluarga
Di balik perhitungan hasil panen dan peluang pemasaran, Agustinus melihat manfaat lain dari kopi yaitu perubahan cara masyarakat memandang lingkungan.
Tanaman kopi yang tumbuh bersama pohon penaung membuat kebun menjadi lebih rindang. Burung-burung mulai terlihat di sekitar tanaman, menciptakan suasana yang berbeda dari lahan yang minim pepohonan.
Baginya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga alam, terutama ketika budidaya dilakukan dengan mempertahankan pohon penaung dan merawat lingkungan kebun.
Ia ingin masyarakat melihat pohon bukan hanya sebagai sesuatu yang dapat ditebang ketika dibutuhkan, tetapi juga sebagai bagian dari sumber penghidupan yang bisa dirawat dalam jangka panjang.
Kopi, menurutnya, dapat menjadi tanaman yang diwariskan. Ketika pohon mulai menua, petani bisa melakukan peremajaan agar kebun tetap produktif.

Agustinus mengingat sejumlah kebun kopi yang ditanam orang-orang tua sejak dekade 1980-an. Sebagian tanaman itu masih bertahan hingga sekarang dan telah dilanjutkan perawatannya oleh generasi berikutnya, bahkan oleh cucu pemilik kebun.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa manfaat kopi tidak harus berhenti pada orang yang pertama kali menanamnya.
Tanaman yang dirawat dapat menjadi warisan bagi keluarga, sekaligus sumber penghidupan bagi generasi selanjutnya.
Dalam pandangan Agustinus, nilai itulah yang membuat kopi berbeda dari sekadar komoditas perdagangan. Ia menghubungkan pendapatan keluarga, keberlanjutan kebun, dan tanggung jawab merawat lingkungan.
“Dengan kopi itu justru mengajarkan kita. Hari ini kan mereka bicara tentang ekologi, mereka bicara tentang bagaimana kita menjaga hutan, alam, lingkungan. Dan melalui kopi ini menantang kita untuk berpikir oh tidak, lingkungan yang ekonomis itu ini,” ujarnya.
“Jadi sambil kita tanam pohon yang menghasilkan seperti kopi, kemudian dirawat sampai usia tua bisa kita bikin peremajaanan, dan itu tetap bisa dinikmati nanti oleh kita punya anak cucu ke depan,” imbuhnya.
Agustinus menyadari bahwa semua itu tentu membutuhkan kesabaran dan komitmen. Kebun tidak dapat dibangun hanya untuk memenuhi permintaan pasar sesaat. Tanaman harus dirawat, kualitas dijaga, dan masyarakat dilibatkan agar manfaatnya dapat berlangsung lama.
Menghadirkan cerita lain tentang Paniai
Agustinus berharap Ko Puaz dapat membuka jalan bagi munculnya cerita-cerita baru tentang Paniai.
Selama ini, menurut pengalamannya, daerah tersebut kerap dikenal melalui pemberitaan konflik. Ia ingin masyarakat di luar Paniai juga mengenal kehidupan warga yang bekerja membangun kebun, mengembangkan usaha, dan menghasilkan produk lokal.
Baginya, kisah petani yang menanam kopi, belajar mengolah hasil panen secara mandiri, lalu mencoba memasuki pasar merupakan bagian penting dari wajah Paniai yang belum banyak diceritakan.
Ia juga mengingat kopi Moanemani, yang dahulu dikenal di kawasan pegunungan Meepago. Agustinus memandang pengembangan kopi saat ini sebagai kesempatan untuk menjaga tradisi perkebunan sekaligus membangun kembali kebanggaan terhadap hasil produksi masyarakat setempat.
Harapan itu belum sepenuhnya terwujud. Kebun masih berkembang, kapasitas produksi masih terbatas, dan pasar di luar Paniai masih harus dijajaki.
Namun, perjalanan Ko Puaz telah menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: belajar, menanam, merawat, dan mengajak orang lain bekerja bersama.
Dari 12 orang yang mula-mula bersedia menanam kopi, kini ada puluhan petani yang tergabung dalam koperasi. Dari ribuan bibit yang pernah dibuat, sebagian telah tumbuh dan mulai menghasilkan. Dari kebun yang dibangun dengan kesabaran, lahir produk yang kini dibawa ke festival UMKM di Timika.

Di stan sederhana itu, Agustinus memperkenalkan Ko Puaz kepada pengunjung dan membuka kemungkinan kerja sama dengan kedai-kedai kopi.
Ia belum dapat menjanjikan pasokan dalam jumlah besar, tetapi ia membawa sesuatu yang tidak kalah penting, bahwa masyarakat kampungnya sedang membangun sumber penghidupan baru.
“Harapannya ke depan, kami berharap itu semoga kopi ini menjadi sebuah pendapatan baru. Dan melalui kopi ini juga kita bangun cerita-cerita positif yang baik, yang betul-betul lahir dari kampung dan kemudian dikenal oleh orang-orang di luar,” ujarnya.
Kopi Ko Puaz masih bertumbuh, sebagaimana pohon-pohon yang ditanam masyarakat Tuguwai sejak enam tahun lalu. Hasilnya belum sepenuhnya terlihat. Sebagian tanaman masih menunggu waktu untuk berbuah, sementara para petani terus merawat kebun dan menjaga harapan.
Bagi Agustinus, perjuangan itu bukan semata-mata tentang menjual kopi. Ia ingin memastikan bahwa dari kampung di pedalaman Paniai, masyarakat dapat membangun masa depan dengan tangan mereka sendiri—dan bahwa dunia luar mengenal mereka melalui cerita yang juga mereka bangun sendiri.













