HUT ke-80 RI, Pengungsi Nduga: Di Mana Arti Kemerdekaan bagi Kami?

Endy Langobelen

Minggu, 17 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga pengungsian dari Paro hendak meninggalkan kampungnya pada awal Januari 2019. (Foto: Istimewa/Dok. Pengungsi Nduga)

Warga pengungsian dari Paro hendak meninggalkan kampungnya pada awal Januari 2019. (Foto: Istimewa/Dok. Pengungsi Nduga)

MIMIKA – Ketika di berbagai pelosok Indonesia masyarakat merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan upacara dan lomba penuh suka cita, ribuan warga asal Kabupaten Nduga masih hidup dalam pengungsian.

Sejak gelombang konflik yang meletus pada Desember 2018 dan kembali berulang pada 2023, mereka terpaksa meninggalkan kampung halaman. Hingga kini, sebagian besar belum bisa kembali.

“Ada kerinduan besar untuk balik ke kampung, tetapi kalau kita mau balik saat ini dan masih ada TNI-Polri, itu kami agak susah untuk balik ke sana,” kata Ipolus Gwijangge, seorang pengungsi dari Distrik Paro, Nduga, kepada Galeripapua.com, Sabtu (16/8/2025) malam di Timika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau mereka (TNI-Polri) mengosongkan Paro, baru kami mau balik ke sana, itu kami bisa hidup tenang,” imbuhnya.

Beberapa orang pengungsi Nduga yang menumpang tinggal di rumah keluarga di Timika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Sejak 2018 Mengungsi, Hidup Serba Kekurangan

Gelombang pengungsian besar-besaran dari Nduga bermula pada 18–19 Desember 2018, setelah terjadi kontak senjata antara kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya dengan TNI-Polri di Mapenduma.

Ratusan keluarga saat itu melarikan diri ke hutan, sebagian menuju Wamena, Jayapura, Nabire, dan Timika.

Salah satunya adalah Mama Oritkwe Nirigi, perempuan asal Mapenduma yang terpisah tanpa kabar dengan sang suami selama empat hari demi mengamankan diri ke Paro.

Mama Oritkwe mengaku hanya membawa pakaian di badan ketika kabur bersama anak-anaknya. Mereka sempat tidur sehari di bawah batu sebelum esok melanjutkan perjalanan ke Paro.

“Waktu keluar dari Mapenduma itu pakaian cuma di badan saja. Jadi semua uang, harta kekayaan, (ternak) babi itu semua tidak bawa. Makanya waktu itu saya mau kembali lagi ke Mapenduma, tetapi keadaan di sana tidak memungkinkan jadi saya kembali ke Paro lagi,” tuturnya dengan suara bergetar.

Baca Juga :  Ratusan Mahasiswa Kepung DPRK Mimika, Sampaikan 7 Tuntutan Soal Papua
Mama Oritkwe Nirigi, pengungsi Nduga asal Mapenduma yang saat ini menumpang tinggal di rumah keluarga di Timika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Sejak 2019, Mama Oritkwe menetap di Timika. Namun enam tahun berlalu, ia belum sekalipun kembali ke Mapenduma.

“Saya punya hati ini ada di Mapenduma sampai sekarang, karena selain saya punya kampung dan tempat tinggal di situ, banyak sekali kenangan, banyak sekali barang harta semua tertinggal. Jadi hati saya sampai sekarang ada di Mapenduma,” katanya.

Jalan Kaki Sebulan dengan Anak Kecil

Kisah lebih getir dialami oleh Ipolus Gwijangge. Ia bersama keluarga berjalan kaki selama satu bulan dari Paro hingga ke Yakapis, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, sebelum akhirnya dijemput perahu motor menuju Timika.

“Satu bulan jalan kaki dengan anak kecil, jadi jalan pelan-pelan. Sampai di Yakapis sana baru dijemput naik loangboat ke Timika dua malam dua hari. Itu kejadian tahun 2023 awal, bulan Februari,” kenangnya.

Di Timika, kehidupan jauh berbeda dengan kampung halaman. Di tanah asal, mereka bisa bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di pengungsian, semuanya terbatas.

Kehidupan normal warga masyarakat di Mapenduma sebelum peristiwa penyisiran oleh TNI-Polri pada Desember 2018 silam. (Foto: Istimewa/Dok. Pengungsi Nduga)

“Saya sebagai pengungsi hidup di Timika ini beda dari kampung. Jadi, mau bilang hidup baik-baik, tidak. Saya menderita hidup di sini,” ucap Ipolus.

Hidup “Kembali ke Nol”

Pale Gwijangge, tokoh pemuda Nduga di Timika, mengatakan pengungsian membuat kehidupan masyarakat hancur seketika.

“Jujur saja pengungsian ini memunculkan masalah-masalah baru, karena kehidupan yang sudah tertata dalam kehidupan masyarakat Nduga, puluhan ribu tahun yang sudah terpola dan terbangun, ini hancur hanya sekejap. Lalu mau merekonstruksi atau membangun kembali sebuah kehidupan baru dalam keadaan mengungsi ini sulit,” ujarnya.

Baca Juga :  286 Personel TNI-Polri Amankan Debat Publik Kedua Pilkada Mimika

Menurutnya, persoalan terbesar bukan hanya kehilangan rumah, tanah, dan harta benda, tetapi juga trauma berkepanjangan. Banyak pengungsi, kata Pale, masih takut dengan kehadiran aparat.

“Trauma ini bukan terjadi sekali, tetapi ada sebabnya. Tahun 1977 pernah ada operasi besar-besaran, kemudian 1995-1996 penyanderaan tim Lorenz. Sekarang 2018 kembali lagi terjadi. Jadi, masyarakat ini trauma yang berkepanjangan, dan rasa tidak senang terhadap keberadaan TNI-Polri,” katanya.

Pale Gwijangge, tokoh pemuda Nduga asal Mapenduma yang saat ini berdomisili di Timika. Rumahnya menjadi salah tempat untuk menampung para pengungsi dari Nduga. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Ia menambahkan, negara selama ini hanya memberi bantuan pangan seadanya, tetapi belum hadir secara serius menyelesaikan akar masalah.

“Negara tidak bisa hanya memberikan beras, super mie, bantuan-bantuan yang sifatnya makan untuk kepentingan hari ini. Negara harus hadir untuk menyelesaikan masalah yang dia timbulkan,” tegas Pale.

Merdeka yang Belum Dirasakan

Dalam suasana perayaan kemerdekaan, Pale menyampaikan refleksi yang tajam: “Ketika negara tidak hadir sebagai negara bagi masyarakatnya, maka kemerdekaan ini tidak ada artinya.”

Bagi para pengungsi, kemerdekaan bukan sekadar seremoni pengibaran bendera, melainkan kepastian untuk hidup aman di tanah leluhur mereka.

“Masyarakat hidup di bawah trauma, hidup di bawah pengungsian, hidupnya tidak menentu, tidak diperhatikan. Jadi mereka tidak merasakan namanya kemerdekaan itu,” ujarnya.

Ribuan Warga Masih Mengungsi

Untuk diketahui, data dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat, sejak 2018 hingga 2023, puluhan ribu warga Nduga mengungsi ke berbagai daerah.

Sebagian besar pengungsi masih menetap di Wamena, Timika, Jayapura, Nabire, dan kota-kota lain di Papua.

Para pengungsi Nduga di Wamena. (Foto: Istimewa/Dok. Pengungsi Nduga)

Hingga kini, tidak ada kepastian kapan mereka bisa kembali. Banyak rumah, gereja, dan fasilitas umum di kampung telah hancur.

Sementara anak-anak kehilangan hak pendidikan yang layak, sebagian besar hanya menumpang sekolah di kota.

Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, kisah pengungsi Nduga mengingatkan bahwa masih ada warga Indonesia yang belum merasakan arti merdeka: bebas dari rasa takut, trauma, dan kehilangan kampung halaman.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aksi 1.000 Lilin di Timika, Desak Pengusutan Kasus Andrie Yunus
Soroti Aksi Mogok, Pemuda Mimika Usul Petugas Sampah Diangkat Jadi PPPK
Masyarakat Distrik Konda Pasang Patok Adat, Tolak Kehadiran Sawit di Hutan Ulayat
Marga Beanal Tegaskan Larangan Pembukaan Jalur Pendakian Ilegal di Puncak Carstensz
Terima Jenazah Korban, Keluarga Eanus Mom Minta Aparat Tanggung Jawab
Keluarga Bantah Korban Operasi di Mimika Terlibat TPNPB-OPM, Minta Jenazah Segera Dipulangkan
Kepala Suku Yahukimo Minta Semua Pihak Jaga Keamanan dan Kedamaian
Koordinator Pendulang Mimika Buka Suara soal Toko Emas Tutup dan Isu Deal-dealan

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 19:40 WIT

Aksi 1.000 Lilin di Timika, Desak Pengusutan Kasus Andrie Yunus

Senin, 9 Maret 2026 - 15:12 WIT

Soroti Aksi Mogok, Pemuda Mimika Usul Petugas Sampah Diangkat Jadi PPPK

Jumat, 6 Maret 2026 - 04:59 WIT

Masyarakat Distrik Konda Pasang Patok Adat, Tolak Kehadiran Sawit di Hutan Ulayat

Rabu, 4 Maret 2026 - 04:52 WIT

Marga Beanal Tegaskan Larangan Pembukaan Jalur Pendakian Ilegal di Puncak Carstensz

Rabu, 4 Maret 2026 - 01:17 WIT

Terima Jenazah Korban, Keluarga Eanus Mom Minta Aparat Tanggung Jawab

Berita Terbaru

Kader HMI Cabang Jayapura berfoto bersama di belakang spanduk kegiatan berbagi takjil di Kota Jayapura, Papua, Minggu, 15 Maret 2026. Foto: dok. HMI Cabang Jayapura.

Organisasi

HMI Jayapura Gelar Bagi Takjil di Dua Titik Kota

Senin, 16 Mar 2026 - 23:10 WIT

*Stadion Wania Imipi Diasesmen Polda untuk Liga 4 PSSI Papua Tengah* MIMIKA – Menjelang bergulirnya kompetisi Piala Gubernur Liga 4 PSSI Papua Tengah musim 2025/2026 pada 9 Maret 2026 mendatang, kesiapan Stadion Wania Imipi SP... _Baca selengkapnya:_ https://galeripapua.com/stadion-wania-imipi-diasesmen-polda-untuk-liga-4-pssi-papua-tengah/