MIMIKA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika merespons polemik berkepanjangan yang membelit tenaga pendidik di Sekolah Dasar (SD) Negeri Amamapare, Distrik Mimika Timur Jauh.
Sekolah yang berada di kawasan pesisir pinggiran ini kembali menjadi sorotan setelah terungkapnya berbagai hambatan struktural dan logistik yang dihadapi para guru dalam menjalankan tugas belajar-mengajar sehari-hari.
Berdasarkan penelusuran lapangan, potret ketimpangan layanan pendidikan di wilayah periferi ini terlihat jelas dari mobilitas para guru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap hari kerja, para pengajar harus berkejaran dengan jadwal operasional bus karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) demi mencapai lokasi sekolah di kampung tersebut.
Tak hanya itu, tantangan geografis memaksa mereka merogoh kocek pribadi sebesar Rp5.000 per orang untuk sekali menyeberang menggunakan perahu tradisional dari dermaga menuju kompleks sekolah.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyatakan bahwa jajaran pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan telah menggelar rapat khusus guna merumuskan solusi konkret.
Menurutnya, persoalan pelik yang telah berlangsung bertahun-tahun ini kini menjadi prioritas penanganan agar tidak terus-menerus menggerus kualitas dan efektivitas pengajaran di wilayah tersebut.
“Itu sudah kita diskusikan dengan Dinas Pendidikan, kita lagi cari solusi kira-kira seperti apa, karena ini bertahun-tahun seperti itu,” ujar Johannes Rettob, Senin, 2 November 2026.
Bupati Johannes mengakui bahwa dirinya baru mengetahui fakta lapangan bahwa sebagian besar tenaga pengajar tidak menetap di area sekitar sekolah, melainkan harus melakukan perjalanan pulang-pergi dari Timika setiap hari.
Kendala utama di balik mobilitas melelahkan ini adalah minimnya fasilitas hunian atau rumah dinas yang memadai di sekitar lokasi sekolah, di mana saat ini hanya tersedia dua unit rumah guru yang dinilai jauh dari kata cukup untuk menampung seluruh tenaga pendidik.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Pemkab Mimika berkomitmen untuk segera membenahi fasilitas penunjang, termasuk mempertimbangkan penambahan pembangunan unit rumah dinas guru serta merancang strategi distribusi tenaga pendidik yang lebih efektif dan berkeadilan.
“Saya malah berpikir guru-guru itu tinggal di Amamapare. Nanti kita atur itu dulu, pokoknya kita lagi atur strateginya sekarang sudah tahu dan sudah dilaporkan,” tegasnya.












