LKC Dompet Dhuafa Papua Akhiri Program Kesehatan Empat Tahun di Holtekamp

Ikbal Asra

Kamis, 24 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Pemerintah Kampung Holtekamp Elke Elisabeth (tengah) bersama Koordinator LKC Dompet Dhuafa Papua Tumijan (kanan), perwakilan Dinas Kesehatan Kota Jayapura, perwakilan Puskesmas Koya Barat, kader posyandu, dan warga peserta program berfoto bersama dalam acara exit program Pos Sehat PTM Lestari di balai Kampung Holtekamp, Jayapura, Papua, Selasa, 22 September 2026. Galeripapua/ Ikbal Asra.

Sekretaris Pemerintah Kampung Holtekamp Elke Elisabeth (tengah) bersama Koordinator LKC Dompet Dhuafa Papua Tumijan (kanan), perwakilan Dinas Kesehatan Kota Jayapura, perwakilan Puskesmas Koya Barat, kader posyandu, dan warga peserta program berfoto bersama dalam acara exit program Pos Sehat PTM Lestari di balai Kampung Holtekamp, Jayapura, Papua, Selasa, 22 September 2026. Galeripapua/ Ikbal Asra.

LKC Dompet Dhuafa Papua resmi mengakhiri program Pos Sehat PTM Lestari di Kampung Holtekamp setelah empat tahun. Seluruh penderita yang terdiagnosa berhasil dikelola, tapi skrining belum menjangkau semua warga.

JAYAPURA – Muis masih ingat angka itu: 400-an. Begitulah kadar gula darahnya sebelum program kesehatan masuk ke Kampung Holtekamp, Jayapura, Papua.

Setelah mengikuti program Pos Sehat PTM Lestari yang dijalankan Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua, angka itu turun. Perlahan, tapi terukur. “Selama ada LKC Dompet Dhuafa Papua, paling tinggi 200-an, 250-an. Sekarang sudah turun sampai 150-an,” kata Muis, Ketua RT 02 RW 02 Kampung Holtekamp, Selasa, 22 September 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada hari yang sama, LKC Dompet Dhuafa Papua secara resmi mengakhiri program Pos Sehat PTM Lestari di kampung tersebut. Program yang berjalan sejak 2021 itu menyasar pencegahan dan pemantauan penyakit tidak menular, hipertensi, diabetes melitus, dan asam urat, di komunitas nelayan dan petani pinggiran Jayapura.

Koordinator LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan, mengatakan kasus penyakit tidak menular di wilayah dampingan mengalami penurunan selama program berlangsung. “Cukup menurun untuk penyakit tidak menular, terutama hipertensi, kemudian DM dan asam urat. Beberapa penyakit yang terkelola semakin menurun,” katanya.

Laporan capaian program 2023 – 2026 mencatat total 748 warga menjalani skrining selama empat tahun berjalan. Dari jumlah itu, seluruh penderita yang terdiagnosa berhasil dikelola setiap tahunnya: 82 orang pada 2023, 29 orang pada 2024, 33 orang pada 2025, dan 12 orang pada 2026. Tingkat pengelolaan penderita mencapai 100 persen setiap tahun.

Hasil skrining juga menunjukkan beban penyakit yang nyata. Pada 2023, dari 384 orang yang diperiksa, 48 orang positif hipertensi dan 34 orang positif diabetes melitus. Pada 2025, dari 142 orang yang diperiksa, 23 orang positif hipertensi dan 8 orang positif diabetes melitus.

Baca Juga :  Freeport Indonesia Apresiasi 25 Tahun RSMM Melayani Masyarakat Mimika

Partisipasi warga dalam aktivitas olahraga meningkat dari 27 orang pada 2023 menjadi 55 orang pada 2025, sebelum turun ke 34 orang pada 2026.

Data Puskesmas Koya Barat 2022 sebelumnya mencatat 328 kasus hipertensi di wilayah Kampung Holtekamp. Kampung ini dihuni 1.206 jiwa, 202 kepala keluarga, dengan satu puskesmas di Koya Barat sebagai fasilitas kesehatan terdekat.

Sekretaris Pemerintah Kampung Holtekamp, Elke Elisabeth, mengatakan hipertensi bukan lagi penyakit yang hanya menyerang lansia. “Darah tinggi itu cukup tinggi. Tidak hanya menyerang usia lansia, tapi sudah ada temuan di usia 20-an sampai 30-an,” katanya.

Sebelum program masuk, sebagian warga memilih mengandalkan ramuan tradisional ketika sakit, bukan fasilitas medis. Elke mengatakan program ini mengubah kecenderungan itu. “Semenjak ada program ini, perubahan pola pikir itu kelihatan sekali. Kesadaran melakukan pola hidup sehat dan bersih mulai ada peningkatan,” ujarnya.

Perubahan perilaku itu juga terlihat pada kebiasaan memeriksakan diri. Sebelum program masuk, warga mengandalkan puskesmas keliling yang datang sebulan sekali. Pemeriksaan rutin bukan kebiasaan. “Kalau sebelum ada PTM di Lestari, baru ada gijalah baru mau periksa. Selama ada posyandu, tanpa gijalah kita periksa setiap bulannya,” kata Isa Karya, kader posyandu RT 1 RW 1 yang aktif sejak awal program.

Selama empat tahun, program menjalankan lima intervensi: senam sehat, edukasi kesehatan, demo masak diet penyakit tidak menular, skrining, dan monitoring rutin. Untuk menjangkau warga RW 2, pelayanan diperluas ke masjid setempat setiap bulan. Bagi lansia yang tidak bisa bepergian, program menyediakan kunjungan rumah.

Baca Juga :  Kelanjutan Operasional Pusling Jalur Udara Masih Menunggu Hasil Investigasi

Pemerintah Kampung Holtekamp ikut mendukung program dengan menyediakan dana operasional dan dana makanan tambahan untuk posyandu Bindu, Lansia, dan Bayi Balita. “Pemerintah kampung secara terbuka mendukung segala bentuk kolaborasi yang mendukung pertumbuhan kesejahteraan masyarakat,” kata Elke.

Meski demikian, program belum menjangkau semua warga. Kelompok usia produktif masih yang paling sulit didorong untuk memeriksakan diri. Tumijan mengakui skrining belum merata. “Bisa jadi di RT-RT yang lain ada penyakit yang tidak terdeteksi karena tidak ikut ter-skrining,” ujarnya. Ia menyebut skrining masif di seluruh wilayah kampung masih menjadi pekerjaan yang belum selesai.

Tantangan lain adalah stigma sosial. Sebagian warga enggan memeriksakan diri karena khawatir dikaitkan dengan kepercayaan lokal. “Kalau ada yang sakit tiba-tiba meninggal, mungkin dibilang karena suangi. Stigma-stigma itu masih jalan di masyarakat,” kata Tumijan.

Setelah LKC resmi keluar, Elke berharap pengetahuan yang sudah dimiliki kader di satu posyandu dapat diteruskan ke dua posyandu lain di kampung ini. “Semoga program ini bisa dilakukan lagi di posyandu yang lain sehingga data dan pertumbuhan kesehatan masyarakat secara menyeluruh dapat terukur dengan baik,” katanya.

Tumijan berharap kampung dapat meneruskan layanan secara mandiri, terutama untuk pemeriksaan gula darah, asam urat, dan kolesterol. “Mudah-mudahan setelah kami sudah tidak berprogram di sini, kampung mempersiapkan itu semua,” ujarnya.

Muis meminta program serupa dilanjutkan. “Kalau bisa dilanjutkan lagi supaya masyarakat bisa merasakan semua manfaatnya,” katanya.

Program Pos Sehat PTM Lestari dimulai pada 2021 melalui kemitraan dengan Unilever, sebelum dilanjutkan secara mandiri oleh LKC Dompet Dhuafa Papua pada 2023 hingga Juli 2026.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

67 Kasus Kusta Ditemukan di Mimika hingga Agustus 2026
Menahan Gelombang Malaria di Mimika
Pemkab Mimika Siapkan Tim Percepatan Penanggulangan TBC
Evaluasi Program Pusjaki dan Kaka Sehat, Dinkes Mimika Tekankan Hal Ini
Dinkes Mimika Perkuat Mutu Layanan Kesehatan Melalui Pelatihan ILP dan Orientasi Keselamatan Pasien
6 Puskesmas Pelosok Mimika Lulus Penilaian BLUD
Dinas Kesehatan Mimika Uji Kelayakan 6 Puskesmas Pesisir dan Pegunungan Jadi BLUD
Tekan Risiko Kanker Serviks, Loka POM Mimika Tuntaskan Vaksinasi HPV bagi 300 Perempuan

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 12:34 WIT

LKC Dompet Dhuafa Papua Akhiri Program Kesehatan Empat Tahun di Holtekamp

Rabu, 23 September 2026 - 15:11 WIT

67 Kasus Kusta Ditemukan di Mimika hingga Agustus 2026

Selasa, 22 September 2026 - 23:15 WIT

Menahan Gelombang Malaria di Mimika

Kamis, 17 September 2026 - 19:14 WIT

Pemkab Mimika Siapkan Tim Percepatan Penanggulangan TBC

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:02 WIT

Evaluasi Program Pusjaki dan Kaka Sehat, Dinkes Mimika Tekankan Hal Ini

Berita Terbaru

Ilustrasi penyakit kusta. (Foto: Istimewa)

Kesehatan

67 Kasus Kusta Ditemukan di Mimika hingga Agustus 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 15:11 WIT