TERNATE — Sekelompok mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di Kota Ternate, Maluku Utara, menyampaikan keluhan sekaligus seruan terbuka kepada pemerintah daerah dari enam provinsi di Tanah Papua.
Seruan itu disampaikan melalui sebuah video yang beredar di berbagai grup WhatsApp publik, termasuk Kanal WhatsApp Pantau Pemberitaan Daerah Papua Tengah pada 15 November 2025.
Video tersebut direkam saat para mahasiswa melakukan aksi pencarian dana di salah satu ruas jalan di Kota Ternate.
Dalam video itu, seorang mahasiswa menyampaikan bahwa keberadaan mahasiswa Papua di Ternate masih minim mendapat perhatian dari pemerintah daerah masing-masing.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak memiliki asrama atau tempat tinggal permanen, sehingga harus berpindah-pindah dari kos ke kontrakan.
“Kami berharap para pemerintah dari 6 provinsi yang ada di Papua tolong perhatikan kami, mahasiswa Papua yang ada di Maluku Utara,” ujar pria berbaju putih di dalam video berdurasi 1 menit 52 detik itu.
Ia menambahkan bahwa kondisi tempat tinggal mahasiswa Papua di Maluku Utara cukup memprihatinkan.
“Bahkan tempat tinggal, karena di sini rata-rata teman-teman Papua yang kuliah di Indonesia Timur, kami terlebih khusus di wilayah Maluku, belum memiliki yang namanya kontrakan atau asrama permanen. Kami hanya tinggal kos-kosan dan kontrakannya juga tidak selalu menetap,” katanya.
Seruan mereka ditujukan kepada pemerintah provinsi Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua.
Mahasiswa berharap agar akses bantuan studi, dukungan proposal, hingga fasilitasi tempat tinggal dapat diberikan lebih merata, tidak hanya terpusat pada mahasiswa yang kuliah di Jawa dan Jakarta.
“Jadi kami meminta kepada pemerintah daerah, mohon memperhatikan kami yang ada di sini juga. Jangan semua bantuan hanya lari kepada teman-teman di bagian Jawa, Jakarta dan lain sebagainya,” ucapnya.
Menariknya, dalam aksi pencarian dana tersebut, para mahasiswa secara tidak terduga bertemu dengan anggota DPRK dari Nabire, Papua Tengah, yang saat itu berada di Ternate.
Para mahasiswa pun legislator pun diberi dukungan langsung berupa bantuan finansial.
“Di sini kami juga bersama-sama dengan kakak Dewan dari Papua Tengah, dari Nabire. Mereka berjumpa langsung dengan kami di sini dan mereka memberikan sumbangan berupa finansial kurang lebih Rp1 juta di tangan kami di sore hari ini,” ungkap mahasiswa tersebut.
Mahasiswa berharap pertemuan tersebut menjadi momentum bagi pemerintah daerah di Tanah Papua untuk lebih memperhatikan kebutuhan mahasiswa perantau, khususnya yang berada di wilayah Indonesia Timur.
Mereka menilai dukungan yang merata akan membantu memastikan keberlanjutan pendidikan generasi muda Papua di berbagai daerah.










