Menilik Makna Tarian Suku Kamoro dan Eksistensinya yang Kian Tergerus

Endy Langobelen

Selasa, 30 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat Suku Kamoro di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Hendrikus Purnomo)

i

Masyarakat Suku Kamoro di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Hendrikus Purnomo)

“Kita harus bangga jadi anak Kamoro, bangga jadi anak Papua, bangga berambut keriting dan berkulit hitam, bangga dengan budaya kita, karena itu semua unik”.

Siang itu, Minggu (28/4/2024), langit tampak cerah. Di antara bayang-bayang rindang pepohonan, sosok budayawan Mimika Dominggus Kapiyau, tengah berdiri di depan rumahnya di SP 2, Jalan Cenderawasih, Kota Timika, Papua Tengah.

Tubuh tegap dengan secuil senyuman yang terlukis di wajahnya, Dominggus yang ramah langsung mengajak kami duduk di dalam teras rumahnya. Di sana, kami berbincang banyak hal tentang budaya khas Suku Kamoro.

Kamoro atau Mimika Wee adalah satu dari dua suku besar yang mendiami Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Suku Kamoro tersebar di bagian pesisir Mimika, daerah yang juga turut terkena dampak limbah perusahaan tambang emas terbesar di dunia, PT Freeport Indonesia.

“Kamoro memiliki arti manusia yang hidup. Manusia yang hidup menghormati dan menghargai orang lain lebih dari pada dirinya sendiri,” ujar Dominggus mengawali perbincangan kami di siang itu.

Sementara Mimika yang merujuk pada suatu tempat, jelas Dominggus, berasal dari kata Mimiyaika yang berarti banjir atau terusan arus yang sedang berjalan.

“Jadi waktu itu, Portugis datang naik di Kononao sana, di kepala air, mereka berada di tepi sungai. Kemudian, pada saat itu sedang terjadi banjir dan mereka tanya ini nama apa. Dijawablah Mimiyaika, banjir sedang berjalan,” terang putra asli Suku Kamoro itu.

Mimi, mumu, itu sama artinya, banjir. Sedangkan ika itu sedang berjalan, sehingga lambat laun dia berubah jadi Mimika. Kami pastikan bahwa Tuhan yang berikan nama itu, bukan manusia manapun. Mimika sendiri tidak ada artinya. Dia sesungguhnya dari kata Mimiyaika,” imbuhnya.

Pemaknaan Tari-tarian Suku Kamoro

Suku Kamoro memiliki sejumlah aneka ragam warisan budaya leluhur. Satu di antaranya tari-tarian tradisional. Hampir setiap kampung mempunyai tarian dan makna tersendiri.

Seperti di Miyoko dan Kokonao, itu ada tarian sukun. Kononao ada tarian ikan.

Kemudian ke arah timur, tepatnya di Sempan, terdapat tarian panen tembakau. Di Hiripau, ada tarian semut dan ular.

Tarian semut oleh masyarakat Suku Kamoro. Para semut berjuang mengusir ular (Foto: Istimewa/Onny Wiranda)

Di Kampung Atuka pun ada tarian yang dikenal dengan sebutan tarian setan. Lalu tarian kasuari di Iwaka.

“Jadi, setiap kampung ada tariannya masing-masing yang mana tidak boleh dimainkan oleh kampung lain,” tutur pendiri Sanggar Tari Amoro itu.

Tarian sukun, jelas Dominggus, merupakan tarian yang kerap dimainkan sebelum dan sesudah panen buah sukun. Tujuannya menyuburkan dan juga sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Miyoko dan Kokonao melimpah akan buah sukun. Mulai dari kepala air sampai Kokonao, pinggiran sungai itu dipenuhi pohon sukun saja. Miyoko juga begitu.

“Jadi, mereka biasanya menarikan tarian sukun ini di saat mau panen. Ketika panen pun, mereka menari karena senang sukun sudah berbuah,” jelasnya.

Setelah dipanen, lanjut Dominggus, sukun-sukun tersebut akan dibakar dan dibagi-bagikan kepada sesama di dalam sebuah pesta.

Sewaktu sukun dibakar, orang kemudian datang beramai-ramai. Kedatangan mereka untuk makan bersama buah sukun yang telah dibakar.

“Setelah kenyang, dilakukanlah tarian sukun itu sebagai ucapan syukur,” lanjutnya.

Perihal tarian kasuari yang berasal dari Kampung Iwaka, Dominggus menjelaskan tarian tersebut mengisahkan cerita legenda tentang burung kasuari yang kehilangan sayapnya.

Berdasarkan kisah legenda, burung kasuari sesungguhnya memiliki sayap yang dapat digunakan untuk terbang. Sayangnya, sayap tersebut dicuri oleh burung taon-taon.

Burung taon-taon dikisahkan tidak memiliki sayap dan tinggal di hutan, di habitatnya sendiri, dan tidak bisa terbang.

Baca Juga :  Kantor DPRD Mimika Diserang, Diduga Ulah Anggota Dewan

Suatu ketika, burung kasuari sedang tidur. Burung taon-taon pun datang dan mencuri sayapanya. Kemudian dipasanglah sayap itu di badannya, lalu terbang.

“Saat kasuari terbangun, dirinya sudah tak bisa terbang. Cerita ini yang kemudian dikisahkan lewat tarian kasuari,” kisah Dominggus.

Selanjutnya mengenai tarian setan, dikatakan bahwa tarian setan digunakan untuk mencegah anak-anak muda keluar rumah pada malam hari.

Tarian setan disebutnya untuk memberikan edukasi kepada semua orang khususnya anak-anak muda bahwa setan itu memang eksis.

“Jahatnya setan itu seperti apa juga ditunjukkan, jadi kamu jangan jalan sembarang. Anak-anak kecil kalau sudah malam, jangan jalan-jalan lagi,” tuturnya.

Dominggus tidak menampik tarian setan itu bertujuan untuk menakut-nakuti supaya anak-anak tidak jalan sampai larut malam dan akhirnya tidak belajar.

“Jadi, dikasih tahu lewat tarian bahwa setan itu ada, dia jahat, dia bisa bunuh kamu. Dengan begitu, anak-anak akan tetap tinggal dalam rumah pada saat malam hari,” imbuhnya.

Masyarakat Suku Kamoro melakukan tarian penjemputan pada acara Misa Sakramen Krisma yang dipimpin oleh Uskup Timika Mgr. Jhon Philip Saklil di Miyoko. (Foto: Istimewa/Husyen Abdillah)
Masyarakat Suku Kamoro melakukan tarian penjemputan pada acara Misa Sakramen Krisma yang dipimpin oleh Uskup Timika Mgr. Jhon Philip Saklil di Miyoko. (Foto: Istimewa/Husyen Abdillah)

Semua tari-tarian tersebut, kata Dominggus, diiringi menggunakan alat musik tifa. “Berbeda dengan tarian penyambutan, itu ada pakai gong lagi. Bunyi gong sebagai tanda tamu sudah tiba,” jelasnya.

Tergerusnya Eksistensi Tari-tarian Suku Kamoro

Kendati memiliki aneka tarian yang begitu kaya, alangkah malangnya eksistensi dari tari-tarian Kamoro. Kini, tampaknya tarian-tarian itu mulai tergerus di tengah zaman yang kian berkembang.

Transfer pengetahuan dari orang tua kepada anak perihal budaya yang seharusnya terjadi secara turun-temurun pun mulai jarang dilakukan. Ditambah gempuran budaya luar yang masuk melalui media sosial diakui sangat memengaruhi ketertarikan generasi penerus Suku Kamoro akan budayanya sendiri.

Dalam hidup orang Kamoro, segala aspek budaya biasanya diturunkan secara natural. Anak akan lihat dan ikut melakukan apa yang dilakukan orang-orang tuanya.

Pada beberapa hal pun telah diatur dan dibagi berdasarkan tugas di dalam keluarga, seperti siapa yang bertugas di rumah adat, siapa pemegang tongkat komando, siapa yang masuk hutan, dan siapa yang mengukir.

“Begitu juga di dalam tarian, siapa yang nanti pukul tifa dan sebagainya. Itu semua sudah ditentukan dan terus berlanjut secara turun-temurun,” ungkap Dominggus.

Tawareh, sebuah tarian persahabatan dari Suku Kamoro. (Foto: Istimewa/Nurulloh)

Namun saat ini, Dominggus melihat sudah begitu jarang bahkan hampir tidak ada lagi yang seperti itu. Anak-anak pun jarang bertanya kepada orang tua tentang budayanya sendiri.

“Tari ini seperti apa, sejarahnya bagaimana, maknanya apa. Begitu pun orang tua tidak lagi menjelaskan tradisi budayanya kepada anak. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa pemaknaan akan budaya kita ini sudah mulai hilang,” tandasnya.

Dominggus juga menilai saat ini, pemuda-pemudi lebih tertarik untuk mempelajari goyangan-goyangan modern dari media sosial ketimbang tarian tradisional yang mana merupakan bagian dari budayanya sendiri.

“Mungkin tidak semua begitu, tapi kalau kita lihat cukup banyak. Terlebih mereka yang sudah bersekolah di kota, sudah membaur dengan teman-temannya dari luar. Pakaian pun lebih tertarik yang modern, tidak mau lagi dengan pakaian adat. Entah karena apa, tapi dia lebih tertarik dengan budaya-budaya dari luar, seperti goyang Tiktok, goyang kontemporer,” tukasnya.

Parahnya lagi, dengan minimnya pengetahuan akan budayanya sendiri, beberapa tarian kerap disalahtafsirkan pemaknaannya. Tujuan dari tarian yang dimainkan sudah tak lagi dipedulikan.

Dicontohkan pada tarian seka yang kini esensinya telah berbeda jauh, tak lagi sesuai dengan tujuannya sebagai ajang menemukan jodoh. Akibatnya, formasi dan variasi yang ditampilkan dalam tarian seka pun sudah tak lagi bermakna.

Baca Juga :  Aparat Evakuasi 5 Jenazah yang Diduga Anggota KKB

“Jadinya ya agogo, asal goyang-goyang. Banyak juga artikel di internet yang menulis bahwa tarian seka adalah tarian adat untuk mengucap syukur. Padahal itu sama sekali bukan tarian adat. Itu tarian pergaulan muda-mudi untuk mendapatkan jodoh, sama dengan tarian yosim pancar. Tarian seka juga tidak boleh pakai pakaian adat, harus pakaian biasa” tandasnya.

Setiap Pihak Harus Berperan Aktif Lestarikan Budaya Kamoro

Selaku pegiat dan pemerhati budaya, Dominggus berharap adanya kepedulian dari semua pihak untuk berperan aktif melestarikan budaya adat-istiadat Suku Kamoro.

Terlebih Pemerintah Daerah dan juga lembaga adat yang sepatutnya memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai budaya itu agar tetap eksis.

Pasalnya sejauh ini, Dominggus melihat kurang adanya perhatian khusus dari pemerintah maupun lembaga adat terkait persoalan budaya ini.

“Sekarang kalau kita bicara dukungan pemerintah, saya lihat itu sudah mulai kendor untuk bagaimana membawa keluar masyarakat Mimika bisa menari di luar atau mempromosikan tradisi adat istiadat berupa tarian atau lain sebagainya,” kata dia.

Pengamat dan Pegiat Budaya Kamoro, Dominggus Kapiyau, S.Sos., M.Si. (Foto: Galeri Papua/Moh. Wahyu Welerubun)

Belasan tahun lalu, kenang Dominggus, sempat dilakukan kerja sama antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia untuk mengenalkan dan melestarikan budaya-budaya Suku Kamoro. Misalnya melalui pagelaran budaya Kamoro Kakuru yang pernah digelar di Lokpon sebanyak dua kali pada tahun 2002 dan 2003.

“Sekarang sudah agak sulit. Mereka sudah tidak perhatikan itu, sehingga tidak kontinu (berlanjut). Jangankan ke luar, di dalam saja sini agak sulit. Agak sulit untuk misalnya buat event-event budaya atau apa semacam itu, event khusus begitu. Saya beryukur kemarin ada HUT Mimika itu bisa dilakukan tari-tarian, kemudian dibarengi dengan pameran budaya dan seni. Itu syukur ada, tapi kalau tidak ya seperti begitu-begitu saja,” tuturnya.

Dominggus juga menyayangkan kehadiran lembaga adat yang terkesan kurang menaruh perhatian pada urusan kebudayaan tradisi adat istiadatnya.

“Lembaga adat juga tidak memperhatikan itu. Artinya tidak ada yang menjembatani. Ya kita mau bicara bagaimana, itulah yang terjadi. Mereka tidak bicara adat. Duduknya juga di kursi yang bagus-bagus, bukan alas tikar di lantai atau apa. Jadi, pikirannya sudah keluar. Malah kalau dilihat-lihat, lembaga ini hanya jadi wadah saja untuk bagaimana bisa mendapatkan uang,” sesalnya.

“Dulu pun meski tidak ada lembaga adat tapi begitu cepat kita bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan tradisi budaya adat istiadat. Ketika bunyi gong, pengumuman jalan, kita sudah langsung tahu sebentar akan ada pesta di sini atau ada tifa duduk di sini. Itu serempak semua datang. Sekarang tidak ada lagi. Anak-anak muda pun kalau kita tanya arti Kamoro pasti dia tidak tahu. Pengertian Eme Neme Yauware saja pasti tidak tahu,” tukasnya.

Oleh karena itu, Dominggus berharap adanya kerja sama dan dukungan dari pemerintah maupun lembaga adat dalam bentuk program atau event yang bisa membantu melestarikan budaya adat istiadat Suku Kamoro.

Dia juga berpesan kepada generasi muda Suku Kamoro agar lebih mendekatkan diri dengan orang tua sehingga proses menurunkan pengetahuan tentang adat istiadat bisa terjadi di dalam keluarga.

“Generasi muda harus lebih mendekatkan diri pada orang tua untuk bisa bertanya, tarian adat itu seperti apa, maknanya seperti apa, kenapa kami tidak pernah dilatih, atau seperti apa. Kami kenapa tidak tahu dan sebagainya,” imbaunya.

Begitupun orang tua, menurutnya, harus bisa mendidik anak untuk memiliki rasa bangga terhadap budayanya sendiri, terhadap identitasnya sebagai orang Kamoro.

“Kita harus bangga jadi anak Kamoro, bangga jadi anak Papua, bangga berambut keriting dan berkulit hitam, bangga dengan budaya kita, karena itu semua unik. Bilamana semua kita bisa berperan aktif untuk itu, kekayaan Suku Kamoro dalam hal tradisi adat istiadat tentunya tidak akan punah ditelan zaman yang begitu pesat berkembang,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Film “Teman Tegar Maira”, Suara Lirih Papua di Tengah Ancaman Deforestasi
Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”
Era Modern dan Peran Generasi Muda Lestarikan Budaya Kamoro
‘Tabola Bale’ Meledak di AMI Awards 2025: Lagu Cinta dari Timur yang Taklukan Panggung Nasional
Ratusan Pelajar Mimika Ikut Pembinaan Kesenian, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal
Mince Pakage dan Noken Agya: Menenun Kasih, Merajut Warisan dari Hutan Papua
Cipayung Mimika Serukan Persatuan KNPI Melalui Musdalub
Gelar Rapat Kerja, Dekranasda Kabupaten Mimika: Produk Budaya Lokal Harus Berdaya Saing

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 04:15 WIT

Film “Teman Tegar Maira”, Suara Lirih Papua di Tengah Ancaman Deforestasi

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:26 WIT

Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”

Rabu, 26 November 2025 - 01:33 WIT

Era Modern dan Peran Generasi Muda Lestarikan Budaya Kamoro

Kamis, 20 November 2025 - 09:14 WIT

‘Tabola Bale’ Meledak di AMI Awards 2025: Lagu Cinta dari Timur yang Taklukan Panggung Nasional

Senin, 17 November 2025 - 20:28 WIT

Ratusan Pelajar Mimika Ikut Pembinaan Kesenian, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT