Menjahit Nusantara 1000 Pulau: Perempuan Raja Ampat Menenun Harapan dari Tanah Papua

Endy Langobelen

Kamis, 20 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang perempuan dari Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

Seorang perempuan dari Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

RAJA AMPAT — Di kampung-kampung kecil yang tersebar di gugusan pulau Raja Ampat, suara mesin jahit kini menggema berdampingan dengan desiran ombak.

Perubahan pelan namun pasti itu lahir dari inisiatif Menjahit Nusantara 1000 Pulau, sebuah program pemberdayaan perempuan yang diinisiasi Fashion Crafty Jakarta bersama BLUD UPTD Konservasi Perairan Raja Ampat, Blue Abadi Fund, serta didukung Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.

Selama kurun waktu kurang lebih seminggu (10—17 November 2025), 30 perempuan dari Kampung Fam, Saukabu, dan Saupapir mengikuti pelatihan intensif: menjahit, membuat pola, teknik eco-print, hospitality, hingga pemasaran digital.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Puluhan perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Puluhan perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

Di tanah yang selama ini membesarkan mereka dengan laut dan tradisi, para perempuan itu menemukan ruang baru untuk berkarya—dan untuk bermimpi.

“Dulu saya hanya tahu laut dan hasil ikan. Sekarang saya bisa menjahit baju untuk anak saya sendiri,” tutur seorang peserta dari Fam.

Sebuah kalimat itu sederhana, namun menjadi penanda bergesernya peran perempuan pesisir dari sekadar penopang keluarga menjadi pencipta peluang ekonomi.

Dari Daun Lokal Menjadi Karya Fesyen

Dalam workshop eco-print, daun dan bunga yang tumbuh liar di hutan pulau menjadi motif pakaian.

Warna alami yang meresap ke kain bukan hanya estetika, tetapi jejak ekologis yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga :  Pesan Damai dari Mimika di Panggung Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025
Perempuan di Raja Ampat mengikuti workshop eco-print, yaitu membuat motif pakaian dari daun dan bunga yang tumbuh liar di hutan. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Perempuan di Raja Ampat mengikuti workshop eco-print, yaitu membuat motif pakaian dari daun dan bunga yang tumbuh liar di hutan. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

Limbah tekstil tidak dibuang; ia disulap kembali menjadi aksesori dan suvenir kreatif untuk wisatawan.

Hasilnya adalah lahirnya usaha mikro baru—outerwear eco-print, tas kain, pouch, dan produk ramah lingkungan lain yang merepresentasikan identitas Papua lewat sentuhan tangan perempuan.

Ketika Perempuan Menjadi Narator Budaya

Pelatihan ini menghadirkan para instruktur dari berbagai disiplin, mempertemukan dunia fesyen, komunikasi, dan digital dalam satu ruang belajar.

Sejumlah perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Sejumlah perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

Mawar Salem, Miss Tourism Indonesia 2019 dan Host Jejak Petualang, membekali peserta kemampuan hospitality dan public speaking. Ia mengajarkan cara menyambut wisatawan dan menyampaikan cerita budaya dengan percaya diri.

Fachrul Rozi, entrepreneur dan pemilik agensi Pro Management, membuka wawasan baru tentang digital branding—bagaimana memotret produk, membuat konten, hingga memasarkan dari pulau terpencil.

Megasandra Simanjuntak, Founder & CEO Fashion Crafty Jakarta, menjadi penggerak utama dalam pelatihan menjahit, pola, dan eco-print.

Perempuan di Raja Ampat mengikuti workshop eco-print, yaitu membuat motif pakaian dari daun dan bunga yang tumbuh liar di hutan. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Perempuan di Raja Ampat mengikuti workshop eco-print, yaitu membuat motif pakaian dari daun dan bunga yang tumbuh liar di hutan. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

Kolaborasi lintas profesi ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat lahir dari pertemuan sederhana antara pengetahuan dan kemauan untuk berbagi.

Baca Juga :  Polres Mimika Kerahkan 120 Personel Amankan Aksi Hari HAM, Massa Bergerak ke DPRK

Jejak Kolaborasi yang Mengakar di Raja Ampat

Program ini didorong oleh kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak yaitu Fashion Crafty Jakarta, Blue Abadi Fund, BLUD UPTD Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat, dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.

Foto bersama dalam pelatihan yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Foto bersama dalam pelatihan yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

Dukungan sponsor seperti Asia Pacific Rayon (APR), Citilink Indonesia Group, Valora House, Pro Management, serta media partner Galeri Papua, Farah Magazine, dan Green Network Asia menguatkan pesan bahwa pendidikan perempuan adalah investasi jangka panjang.

Peluang Baru dari Pulau yang Terpencil

Dampak pelatihan segera terasa. Selain munculnya usaha lokal berbasis kerajinan, peserta juga mulai melihat peran mereka dalam ekosistem pariwisata berkelanjutan.

Dari hospitality hingga storytelling budaya, perempuan kini menjadi narator yang memperkenalkan Papua kepada dunia.

Seorang perempuan dari Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Seorang perempuan dari Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

“Sekarang saya tahu bahwa menjahit bisa bantu wisata di pulau kami. Kami bisa bikin oleh-oleh sendiri dan bercerita tentang budaya kami,” ujar seorang peserta dari Waigeo.

Menata Masa Depan, Menjaga Budaya

Menjahit Nusantara 1000 Pulau adalah bagian dari gerakan lebih besar: Threads of Hope – Women Empowerment in Raja Ampat, sebuah upaya jangka panjang membuka akses keterampilan bagi perempuan di wilayah terpencil Indonesia Timur. Program ini akan diperluas ke Papua dan daerah kepulauan lainnya.

Sejumlah perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Sejumlah perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

Bagi Mawar Salem, kekuatan perempuan Papua terletak pada keteguhan hati.

“Perempuan Papua punya kekuatan yang lembut tapi tak tergoyahkan. Ketika mereka diberi ruang, mereka tidak hanya berkembang, mereka memajukan seluruh komunitas,” ujarnya.

Sementara Megasandra Simanjuntak percaya bahwa perempuan adalah penjaga peradaban.

Sejumlah perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)
Sejumlah perempuan Raja Ampat mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Fashion Crafty Jakarta. (Foto: Istimewa/Dok. Fashion Crafty Jakarta)

“Perempuan Indonesia adalah penjaga budaya sekaligus pencipta masa depan. Dengan kesempatan dan ilmu, mereka mampu menjahit perubahan bagi generasi berikutnya,” tutur Megasandra.

Di antara pulau-pulau yang diikat laut biru Raja Ampat, 30 perempuan kini membawa benang-benang baru: benang harapan, kemandirian, dan masa depan yang mereka rajut sendiri.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HPN 2026: Presiden Prabowo Soroti Tantangan AI dan Masa Depan Jurnalisme Indonesia
Lomba Tari Antarsekolah Warnai Dies Natalis ke-20 Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria
HUT BPOM ke-25, Loka POM Mimika Gelar Vaksinasi HPV untuk Cegah Kanker Serviks
TIFA Kembali Masuk KEN 2026, Siap Melompat ke Panggung Internasional Juli Mendatang
Etika Jurnalisme di Era AI, Lucky Ireeuw: Manusia Tetap di Kemudi
Fesmed Papua Hadirkan Seminar Keamanan Digital untuk Lawan Hoaks Lewat Jurnalisme Damai
Ketua AWP: Fesmed Jadi Ruang Peningkatan Kapasitas dan Literasi Media Papua
Fesmed Papua Raya Fokus Bekali Jurnalis dengan Keterampilan Investigasi, AI, dan Jurnalisme Damai

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 23:07 WIT

HPN 2026: Presiden Prabowo Soroti Tantangan AI dan Masa Depan Jurnalisme Indonesia

Jumat, 6 Februari 2026 - 18:28 WIT

Lomba Tari Antarsekolah Warnai Dies Natalis ke-20 Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria

Jumat, 6 Februari 2026 - 16:48 WIT

HUT BPOM ke-25, Loka POM Mimika Gelar Vaksinasi HPV untuk Cegah Kanker Serviks

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:19 WIT

TIFA Kembali Masuk KEN 2026, Siap Melompat ke Panggung Internasional Juli Mendatang

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:59 WIT

Etika Jurnalisme di Era AI, Lucky Ireeuw: Manusia Tetap di Kemudi

Berita Terbaru

Sejumlah karyawan yang hendak naik ke Tembaga diperintahkan kembali pulang akibat adanya penembakan di area PT Freeport Indonesia, Mile Point 50, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

Freeport

Freeport Tutup Jalan Utama ke Tembagapura Pascapenembakan

Kamis, 12 Feb 2026 - 01:06 WIT

Pesawat PK-SNR milik PT Smart Air Aviation yang ditembak saat menjalankan rute Tanah Merah menuju Danawage/Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Tengah, Rabu (11/2/2026). (Fotoo: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

Peristiwa

Pesawat Smart Air Ditembak di Boven Digoel, Dua Pilot Gugur

Rabu, 11 Feb 2026 - 19:13 WIT