RAJA AMPAT — Di kampung-kampung kecil yang tersebar di gugusan pulau Raja Ampat, suara mesin jahit kini menggema berdampingan dengan desiran ombak.
Perubahan pelan namun pasti itu lahir dari inisiatif Menjahit Nusantara 1000 Pulau, sebuah program pemberdayaan perempuan yang diinisiasi Fashion Crafty Jakarta bersama BLUD UPTD Konservasi Perairan Raja Ampat, Blue Abadi Fund, serta didukung Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.
Selama kurun waktu kurang lebih seminggu (10—17 November 2025), 30 perempuan dari Kampung Fam, Saukabu, dan Saupapir mengikuti pelatihan intensif: menjahit, membuat pola, teknik eco-print, hospitality, hingga pemasaran digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tanah yang selama ini membesarkan mereka dengan laut dan tradisi, para perempuan itu menemukan ruang baru untuk berkarya—dan untuk bermimpi.
“Dulu saya hanya tahu laut dan hasil ikan. Sekarang saya bisa menjahit baju untuk anak saya sendiri,” tutur seorang peserta dari Fam.
Sebuah kalimat itu sederhana, namun menjadi penanda bergesernya peran perempuan pesisir dari sekadar penopang keluarga menjadi pencipta peluang ekonomi.
Dari Daun Lokal Menjadi Karya Fesyen
Dalam workshop eco-print, daun dan bunga yang tumbuh liar di hutan pulau menjadi motif pakaian.
Warna alami yang meresap ke kain bukan hanya estetika, tetapi jejak ekologis yang lebih ramah lingkungan.

Limbah tekstil tidak dibuang; ia disulap kembali menjadi aksesori dan suvenir kreatif untuk wisatawan.
Hasilnya adalah lahirnya usaha mikro baru—outerwear eco-print, tas kain, pouch, dan produk ramah lingkungan lain yang merepresentasikan identitas Papua lewat sentuhan tangan perempuan.
Ketika Perempuan Menjadi Narator Budaya
Pelatihan ini menghadirkan para instruktur dari berbagai disiplin, mempertemukan dunia fesyen, komunikasi, dan digital dalam satu ruang belajar.

Mawar Salem, Miss Tourism Indonesia 2019 dan Host Jejak Petualang, membekali peserta kemampuan hospitality dan public speaking. Ia mengajarkan cara menyambut wisatawan dan menyampaikan cerita budaya dengan percaya diri.
Fachrul Rozi, entrepreneur dan pemilik agensi Pro Management, membuka wawasan baru tentang digital branding—bagaimana memotret produk, membuat konten, hingga memasarkan dari pulau terpencil.
Megasandra Simanjuntak, Founder & CEO Fashion Crafty Jakarta, menjadi penggerak utama dalam pelatihan menjahit, pola, dan eco-print.

Kolaborasi lintas profesi ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat lahir dari pertemuan sederhana antara pengetahuan dan kemauan untuk berbagi.
Jejak Kolaborasi yang Mengakar di Raja Ampat
Program ini didorong oleh kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak yaitu Fashion Crafty Jakarta, Blue Abadi Fund, BLUD UPTD Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat, dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.

Dukungan sponsor seperti Asia Pacific Rayon (APR), Citilink Indonesia Group, Valora House, Pro Management, serta media partner Galeri Papua, Farah Magazine, dan Green Network Asia menguatkan pesan bahwa pendidikan perempuan adalah investasi jangka panjang.
Peluang Baru dari Pulau yang Terpencil
Dampak pelatihan segera terasa. Selain munculnya usaha lokal berbasis kerajinan, peserta juga mulai melihat peran mereka dalam ekosistem pariwisata berkelanjutan.
Dari hospitality hingga storytelling budaya, perempuan kini menjadi narator yang memperkenalkan Papua kepada dunia.

“Sekarang saya tahu bahwa menjahit bisa bantu wisata di pulau kami. Kami bisa bikin oleh-oleh sendiri dan bercerita tentang budaya kami,” ujar seorang peserta dari Waigeo.
Menata Masa Depan, Menjaga Budaya
Menjahit Nusantara 1000 Pulau adalah bagian dari gerakan lebih besar: Threads of Hope – Women Empowerment in Raja Ampat, sebuah upaya jangka panjang membuka akses keterampilan bagi perempuan di wilayah terpencil Indonesia Timur. Program ini akan diperluas ke Papua dan daerah kepulauan lainnya.

Bagi Mawar Salem, kekuatan perempuan Papua terletak pada keteguhan hati.
“Perempuan Papua punya kekuatan yang lembut tapi tak tergoyahkan. Ketika mereka diberi ruang, mereka tidak hanya berkembang, mereka memajukan seluruh komunitas,” ujarnya.
Sementara Megasandra Simanjuntak percaya bahwa perempuan adalah penjaga peradaban.

“Perempuan Indonesia adalah penjaga budaya sekaligus pencipta masa depan. Dengan kesempatan dan ilmu, mereka mampu menjahit perubahan bagi generasi berikutnya,” tutur Megasandra.
Di antara pulau-pulau yang diikat laut biru Raja Ampat, 30 perempuan kini membawa benang-benang baru: benang harapan, kemandirian, dan masa depan yang mereka rajut sendiri.










