Pesan Damai dari Mimika di Panggung Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025

Endy Langobelen

Kamis, 4 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim peserta sendratari dari Kabupaten Mimika membawakan tarian perdamaian pada acara pembukaan Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025 di Lapangan Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Tim peserta sendratari dari Kabupaten Mimika membawakan tarian perdamaian pada acara pembukaan Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025 di Lapangan Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

NABIRE — Sore yang basah oleh rintik hujan di Lapangan Bandara Lama Nabire, Kabupaten Nabire, Rabu (3/9/2025), tak mengurangi semangat ribuan pasang mata yang menunggu penampilan demi penampilan di pembukaan Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025.

Dari arah panggung utama, 16 penari muda asal Kabupaten Mimika melangkah mantap, memasuki panggung, sebelum akhirnya membentuk dua barisan berhadap-hadapan.

Busana adat yang mereka kenakan mencerminkan dua wajah besar Papua: pegunungan dan pesisir. Di balik senyum gugup para penari, tersimpan sebuah kisah yang tak hanya soal gerak ritmis, melainkan juga tentang luka dan harapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Koreografi yang mereka suguhkan dimulai dengan adegan sehari-hari. Ada yang menirukan gerakan bercocok tanam, ada pula yang mengayunkan tombak seolah sedang berburu, sementara kelompok lain menirukan riuhnya melaut.

Namun, irama berubah ketika konflik diceritakan. Senjata-senjata simbolis diangkat, kedua kelompok saling beradu pandang, gerak tari kian menderu dan seketika tubuh-tubuh berguguran satu per satu.

Tim peserta sendratari dari Kabupaten Mimika membawakan tarian perdamaian pada acara pembukaan Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025 di Lapangan Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Hening sesaat. Lalu, seorang penari muncul membawa bendera Merah Putih. Ia memisahkan peralatan perang yang berserakan di panggung, di sisi para penari yang terbaring. Seolah menghidupkan untuk bangkit kembali.

Baca Juga :  GALERI FOTO: Kunjungan Kepala PKUB Kemenag RI di Mimika Papua Tengah

Mereka pun menutup kisah dengan menari bersama dalam lingkaran damai sembari mengibarkan sang saka merah putih.

“Jadi, tariannya itu menceritakan tentang dua suku besar di Papua. Secara umum, Papua pegunungan dan Papua pantai. Itu, mereka bertikai karena batas wilayah, sehingga terjadi peperangan,” ujar pelatih tim tari Kabupaten Mimika, Salju Sandalinggi, saat ditemui seusai penampilan.

Konflik dalam tarian, kata Salju, menggambarkan banyak korban yang berjatuhan. Tapi kemudian muncul satu tokoh pemuda, membawa pesan sederhana: bahwa kita sama-sama orang Papua, kenapa kita saling membunuh?

“Perdamaian itu lebih penting, damai itu lebih penting. Mari kita sama-sama berdamai, menari. Kita wujudkan Papua dengan damai, aman,” katanya.

Tim peserta sendratari dari Kabupaten Mimika membawakan tarian perdamaian pada acara pembukaan Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025 di Lapangan Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Dari Cerita Rakyat ke Istana Negara

Tarian perdamaian ini, menurut Salju, lahir dari cerita-cerita rakyat yang kemudian dibentuk menjadi sendratari.

“Itu kami ambil dari cerita-cerita rakyat, kemudian kami bentuk dalam sebuah tarian. Tarian ini sudah pernah tampil di istana negara,” katanya.

Meski baru pertama kali ikut dalam kategori sendratari, tim Mimika ini bukan pendatang baru di panggung tari.

Baca Juga :  KKSBT Bersatu Mimika Gelar Buka Bersama Ramadhan 1445 Hijriah

Mereka langganan juara di berbagai ajang, dari Palembang hingga Gorontalo, Makassar, bahkan mewakili Papua Tengah di Mandalika Festival Internasional yang diikuti 16 negara. Di sana, mereka membawa pulang juara pertama.

Hanya saja, yang biasa mereka bawakan adalah tari kreasi. Kali ini, mereka mencoba keluar dari pakem itu.

“Mudah-mudahan ada harapan juara satu. Karena tarian yang dibawakan ini adalah tarian sendratari, ada cerita dramanya, ada tarinya,” kata Salju.

Salju Sandalinggi, pelatih tim tari Kabupaten Mimika. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Kekuatan tarian ini, menurut dia, terletak pada perpaduan gerak. Ada sekitar sepuluh gerakan yang mereka tampilkan. Mulai dari gerakan khas suku Asmat, hingga Yosim yang populer di pesisir. Semua digabungkan menjadi satu, menyulam pesan tentang keberagaman dan persatuan.

Pesan untuk Papua Tengah

Bagi Salju, tarian perdamaian ini bukan hanya sekadar ajang lomba. Ia ingin para penonton, terutama anak-anak muda Papua, menangkap makna yang terselip di balik setiap gerak tubuh.

“Karena kondisi di Papua terutama itu sering terjadi konflik, sehingga makna atau pesan dari tarian itu yaitu mari kita sama-sama orang Papua, mari kita menjaga kedamaian, sehingga Papua ini bisa maju. Itu maknanya,” ujarnya.

Tim peserta sendratari dari Kabupaten Mimika membawakan tarian perdamaian pada acara pembukaan Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025 di Lapangan Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Harapan serupa ia titipkan pada festival kali ini. “Dengan tarian perdamaian yang dibawakan tadi peserta dari Mimika, semoga Provinsi Papua Tengah ini selalu damai, maju terus bersatu membangun Papua Tengah.”

Di panggung Nabire sore itu, pesan damai dari Mimika bergema bukan hanya lewat hentakan kaki para penari, tapi juga lewat simbol bendera yang berkibar di tengah lingkaran. Sebuah pengingat bahwa di balik perbedaan, ada satu hal yang lebih penting: menjaga Papua tetap aman dan damai.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HPN 2026: Presiden Prabowo Soroti Tantangan AI dan Masa Depan Jurnalisme Indonesia
Lomba Tari Antarsekolah Warnai Dies Natalis ke-20 Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria
HUT BPOM ke-25, Loka POM Mimika Gelar Vaksinasi HPV untuk Cegah Kanker Serviks
TIFA Kembali Masuk KEN 2026, Siap Melompat ke Panggung Internasional Juli Mendatang
Etika Jurnalisme di Era AI, Lucky Ireeuw: Manusia Tetap di Kemudi
Fesmed Papua Hadirkan Seminar Keamanan Digital untuk Lawan Hoaks Lewat Jurnalisme Damai
Ketua AWP: Fesmed Jadi Ruang Peningkatan Kapasitas dan Literasi Media Papua
Fesmed Papua Raya Fokus Bekali Jurnalis dengan Keterampilan Investigasi, AI, dan Jurnalisme Damai

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 23:07 WIT

HPN 2026: Presiden Prabowo Soroti Tantangan AI dan Masa Depan Jurnalisme Indonesia

Jumat, 6 Februari 2026 - 18:28 WIT

Lomba Tari Antarsekolah Warnai Dies Natalis ke-20 Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria

Jumat, 6 Februari 2026 - 16:48 WIT

HUT BPOM ke-25, Loka POM Mimika Gelar Vaksinasi HPV untuk Cegah Kanker Serviks

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:19 WIT

TIFA Kembali Masuk KEN 2026, Siap Melompat ke Panggung Internasional Juli Mendatang

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:59 WIT

Etika Jurnalisme di Era AI, Lucky Ireeuw: Manusia Tetap di Kemudi

Berita Terbaru

Polisi melakukan olah TKP peristiwa penembakan sopir truk tangki air di Yahukimo. (Foto: Istimewa/Satgas Humas ODC)

Peristiwa

Polisi Ungkap Kronologi Penembakan Sopir Truk Air di Yahukimo

Kamis, 12 Feb 2026 - 23:51 WIT

Rapat koordinasi Satgas MBG di Lantai 3 Gedung A Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Kamis (12/2/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Pemerintahan

14 Distrik di Mimika Belum Tersentuh MBG

Kamis, 12 Feb 2026 - 23:33 WIT