Home / DPR

Reses di Tengah Trauma: Seruan Pulang dari Pengungsi Nduga

Endy Langobelen

Rabu, 30 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto bersama kegiatan reses anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan, Mile Gwijangge, di titik kumpul pengungsian masyarakat Nduga di Kabupaten Mimika. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

i

Foto bersama kegiatan reses anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan, Mile Gwijangge, di titik kumpul pengungsian masyarakat Nduga di Kabupaten Mimika. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA — Di halaman Gereja GKII Jemaat Betesda, Lorong Arena Lama, Jalan Hasanudin, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (30/7/2025) siang, suasana haru bercampur semangat mengiringi kegiatan reses anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan, Mile Gwijangge.

Reses kali ini tidak dilaksanakan di dapil asalnya, Kabupaten Nduga, melainkan di pengungsian—tempat ribuan warga Nduga dari Distrik Alama, Yenggelo, Geselma, Klimid, hingga Koroptak kini bermukim sejak konflik bersenjata pecah pada 2018.

Selain mendengarkan aspirasi masyarakat, Gwijangge juga membawa bantuan bahan makanan dan peralatan berkebun. Sebagai ungkapan syukur dan penerimaan, masyarakat menggelar tradisi bakar batu—simbol kekeluargaan dan kebersamaan dalam budaya Papua.

Anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan, Mile Gwijangge, menyerahkan bantuan bahan makanan dan peralatan kerja kebun kepada masyarakat Nduga yang mengungsi di Kabupaten Mimika. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Namun di balik perjamuan itu, terselip derita bertahun-tahun yang belum berujung.

“Jadi masyarakat kami ini tersebar dari bagian utara sampai sekarang ada di laut, sampai di pantai. Jadi tulang belulang orang Nduga itu dari gunung sampai di pantai hari ini ada,” ujar Pale Gwijangge, tokoh pemuda pengungsi Nduga yang menyampaikan aspirasi mewakili para pengungsi di Mimika.

Baca Juga :  Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”

Menurut Pale, masyarakat mengungsi bukan hanya karena konflik 2018, melainkan juga trauma berkepanjangan sejak tragedi penyanderaan Mapenduma pada 1995–1996.

Ia menyayangkan minimnya perhatian dari pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun Kabupaten Nduga, terhadap nasib ribuan warganya yang tercerai berai.

“Setelah mengungsi, tidak ada perhatian pemerintah Indonesia, tidak ada perhatian pemerintah provinsi dan tidak ada perhatian pemerintah Nduga. Walaupun ada, itu sifatnya sementara, tidak permanen,” katanya lantang.

Pale Gwijangge, tokoh pemuda pengungsi Nduga yang menyampaikan aspirasi mewakili para pengungsi di Mimika. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Poin utama yang disampaikan masyarakat, kata Pale, adalah permintaan agar pemerintah segera memulangkan para pengungsi ke kampung halaman mereka. Namun pemulangan ini bukan tanpa tantangan.

“Banyak tempat tinggal mereka, rumah mereka, sekolah mereka, gereja mereka itu hancur,” ucapnya.

Anggota DPR Papua Pegunungan, Mile Gwijangge, yang hadir langsung di tengah masyarakat, tak menampik betapa rumitnya persoalan ini.

“Setelah mereka keluar dari Kabupaten Nduga, itu banyak, kematian banyak. Jadi mereka mati lapar, mati sakit, dan lain-lain,” kata Mile, yang juga anggota Komisi IV DPR Papua Pegunungan dari Fraksi PKS.

Gwijangge berjanji akan memperjuangkan aspirasi masyarakat ke pemerintah provinsi maupun pusat. Ia juga menyebut bahwa Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo, telah menaruh perhatian terhadap persoalan pengungsi Nduga sebagai salah satu program prioritas.

Baca Juga :  Istri Korban Ungkap Kronologi Sebelum Suaminya Ditemukan Tewas Tanpa Kepala di SP9 Mimika

“Tapi itu program utama Gubernur Bapak John Tabo untuk memperhatikan pengungsi masyarakat Nduga dan itu akan ada tim yang akan upayakan supaya masyarakat ini nanti dikembalikan ke distrik masing-masing. Saat ini belum ada tindakan, sehingga kami akan upayakan komunikasi,” ujarnya.

Anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan, Mile Gwijangge, menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan reses. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Tak hanya masalah pengungsi, masyarakat juga meminta perhatian terhadap infrastruktur dasar, khususnya bandara perintis di distrik-distrik Nduga. Mengingat akses ke wilayah ini hanya bisa ditempuh melalui udara.

“Karena di distrik-distrik dari Kabupaten Nduga itu tidak ada jalan darat. Jalan satu-satunya adalah lapangan terbang. Dan sementara masyarakat sedang kerja lapangan terbang, tapi belum selesai sampai saat ini,” katanya.

Ketika ditanya soal trauma warga yang tak kunjung sembuh, Mile mengakui kehadiran aparat keamanan masih menjadi ganjalan utama.

“Permintaan masyarakat itu sekarang permintaan masyarakat supaya TNI Polri yang ada di distrik itu segera ditarik kembali. Karena konflik kemarin tujuan utama adalah membebaskan pilot. Karena pilot sudah dibebaskan. Sekarang kontribusi pemerintah pusat untuk masyarakat seperti apa?” ujarnya.

Hari itu, reses bukan sekadar forum serap aspirasi. Di pelataran gereja sederhana itu, pengungsi Nduga mengutarakan luka sejarah dan kerinduan pulang. Di antara bara bakar batu, tersirat permintaan yang belum kunjung dijawab: “Kami ingin kembali ke rumah.”

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPRK Paniai Apresiasi Jhon NR Gobai Sampaikan Aspirasi Warga ke Marinir AL
15 Mahasiswa STMIK Nabire Terima KIP Aspirasi dari DPRP Papua Tengah
Temui Demonstran, DPRK Mimika Janji Kawal Perlindungan Komoditi Lokal
DPRK Bangun Jembatan Darurat Siriwini, Warga Desak Pemprov Segera Bertindak
RDP dengan Dinkes, Komisi III DPRK Mimika Dorong Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan
Perbup Plastik Sekali Pakai Tak Cukup, DPRK Mimika Minta Pemkab Maksimalkan Perda Sampah
DPD RI Soroti Kasus Bom Molotov Jubi yang Mandek, Siap Panggil Panglima TNI dan Kapolri
Program Makan Bergizi Gratis Digenjot di Manokwari, Sasar Anak dan Ibu Hamil

Berita Terkait

Rabu, 17 Desember 2025 - 06:30 WIT

DPRK Paniai Apresiasi Jhon NR Gobai Sampaikan Aspirasi Warga ke Marinir AL

Sabtu, 22 November 2025 - 01:12 WIT

15 Mahasiswa STMIK Nabire Terima KIP Aspirasi dari DPRP Papua Tengah

Sabtu, 22 November 2025 - 01:02 WIT

Temui Demonstran, DPRK Mimika Janji Kawal Perlindungan Komoditi Lokal

Rabu, 8 Oktober 2025 - 21:26 WIT

DPRK Bangun Jembatan Darurat Siriwini, Warga Desak Pemprov Segera Bertindak

Kamis, 18 September 2025 - 01:21 WIT

RDP dengan Dinkes, Komisi III DPRK Mimika Dorong Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT