Umat Katolik Katedral Tiga Raja Maknai Jumat Agung Sebagai Wujud Kerendahan Hati

Endy Langobelen

Jumat, 29 Maret 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perayaan misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah, Jumat (29/3/2024). (Foto: Istimewa)

i

Perayaan misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah, Jumat (29/3/2024). (Foto: Istimewa)

MIMIKA – Ribuan umat Katolik mengikuti perayaan misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah, pada Jumat (29/3/2024) sore.

Misa yang dimulai pukul 15.00 WIT itu dipimpin Pastor Amandus Rahadat, Pr, selaku Pastor Paroki Tiga Raja, di Keuskupan Timika.

Dalam khotbahnya, Pastor Amandus mengajak umat untuk menghayati kisah sengsara Yesus sebagai wujud kerendahan hati.

Di hadapan para umat, dia menjelaskan bagaimana penderitaan Yesus saat disiksa dengan dicambuk, dipaku, hingga wafat di kayu salib, seperti yang dinyanyikan dalam passio kisah sengsara Yesus.

“Apakah engkau bisa membayangkan dari kisah tadi yang dinyanyikan, darah itu muncrat dari kaki, dari tangan. Darah itu mengalir deras keluar dari lambung yang tertikam itu. Dapatkah engkau rasakan atau mendengar rintihan dan tangisan Yesus,” ujarnya.

Bahkan sebelum wafat, ketika Yesus memanggil Allah Bapa, diri-Nya seolah-olah ditinggalkan dan mesti menjalani penderitaan.

“Bapa, kenapa Engkau meninggalkan Aku? Seakan-akan dari tangisan itu Bapa di Surga meninggalkan Yesus sendirian dalam kesengsaraan, seperti Bapa memalingkan wajah dari Yesus yang menderita,” tutur Pastor Amandus.

“Dapatkah engkau membayangkan rasa sakit saat Yesus tergantung dengan tubuh nyaris telanjang tanpa pakaian, sementara para serdadu beridiri di bawah kaki salib dan menertawakan dia. Apakah anda bisa membayangkan itu,” imbuhnya.

Baca Juga :  Empat Kabupaten Sajikan Sendratari Edukatif di Festival Budaya Pelajar Papua Tengah

Pastor Amandus kemudian menyampaikan bahwa setiap orang tentunya memiliki kisah sengsara dalam sesi-sesi kehidupan sehari-hari.

Dia mencontohkan sebuah kisah sengsara yang terjadi di Paroki Tiga Raja menjelang pekan suci yang mana salah dua komunitas basis (kombas) menarik diri dari Panitia Paskah lantaran merasa tersinggung.

Pastor Amandus menyayangkan hal itu dan menilai kedua kombas tidak mampu seperti Yesus yang menahan penderitaan atau kesengsaraan yang dialami.

“Anda mendengar dentuman martil dari kayu salib Yesus. Engkau marah karena tidak dihargai, pendapatmu tidak didengar, lalu menarik diri dari Panitia Paskah. Yesus lebih tidak dihargai dan dia tergantung telanjang di salib. Itu penghargaan yang sama sekali di bawah nol, tapi Yesus tidak menarik diri,” tandasnya.

“Kau tersinggung karena kau tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama. Ingat, Yesus lebih miris karena Bapa di surga seakan-akan tidak mendengar Dia. Kau menarik diri dari panitia sebagai tanda protes karena engkau mau tunjuk bahwa engkau penting. Ingat, Yesus tidak membela diri dengan menarik diri dari keharusan untuk memikul salib,” lanjutnya.

Baca Juga :  SAR Timika Tangani Korban Kecelakaan Kendaraan

Menurut Pastor Amandus, sebagai umat yang mengikuti Yesus, sudah seharusnya mendengar dan menjalani teladan yang diberikan Yesus dalam kisah sengsara-Nya.

“Bunyi martil yang jatuh pada kayu salib akan selalu menggema dalam perjalanan hidup kita. Gaung martil pada kayu salib Yasus akan tetap menggema dalam pergumulan kisah sengsara kita,” katanya.

Untuk itu, selaku Pastor Paroki, Amandus mengimbau kepada umat untuk tetap rendah hati menerima setiap kondisi yang tidak nyaman.

“Cobalah untuk rendah hati mencari kebenaran lewat peristiwa-peristiwa yang menyakitkan. Rendah hati untuk memperjuangkan kebenaran tanpa harus menarik diri dari kisah sengsara hidupmu seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dalam kisah sengsara-Nya. Kami tahu, engkau sakit hati, tapi Yesus lebih sakit hati dari engkau,” ujarnya.

“Tuhan memberkati kita. Tuhan memberkati umat katolik katedral. Tuhan memberkati umat wilayah Melkior. Tuhan memberkati panitia yang bergumul untuk menyukseskan hari raya Paskah. Amin,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

127 Jemaah Haji Asal Mimika Dijadwalkan Berangkat pada April Mendatang
Panitia Muspasme Stasi St. Yohanes Eyagitaida Terbentuk, Umat dan 10 Kampung Topiyai Siap Sukseskan Agenda Gereja
Pengakuan Pastor di Timika: OPM Berjuang karena Luka dan Martabat Papua
Uskup Timika Soroti “Memoria Pahit” Orang Papua dalam Refleksi Tutup Tahun 2025
Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”
Cipayung Mimika Serukan Persatuan KNPI Melalui Musdalub
Uskup Timika Serukan Keberanian Menjaga Alam dan Budaya Papua dalam Roh Kudus
Satu Sapi, Seribu Makna: Bupati Mimika Bawa Spirit Berbagi ke Masjid Al Furqan

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 22:10 WIT

127 Jemaah Haji Asal Mimika Dijadwalkan Berangkat pada April Mendatang

Selasa, 13 Januari 2026 - 22:35 WIT

Panitia Muspasme Stasi St. Yohanes Eyagitaida Terbentuk, Umat dan 10 Kampung Topiyai Siap Sukseskan Agenda Gereja

Senin, 5 Januari 2026 - 01:49 WIT

Pengakuan Pastor di Timika: OPM Berjuang karena Luka dan Martabat Papua

Kamis, 1 Januari 2026 - 21:38 WIT

Uskup Timika Soroti “Memoria Pahit” Orang Papua dalam Refleksi Tutup Tahun 2025

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:26 WIT

Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT