KNPB Intan Jaya Minta PBB Turun Tangan Usut Pelanggaran HAM dan Krisis Pengungsian

Endy Langobelen

Kamis, 11 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Intan Jaya. (Foto: Istimewa/Dok. KNPB Intan Jaya)

i

Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Intan Jaya. (Foto: Istimewa/Dok. KNPB Intan Jaya)

INTAN JAYA — Pada momentum peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia ke-77, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Intan Jaya kembali menyuarakan desakan keras kepada lembaga-lembaga internasional.

Dalam siaran pers yang dirilis Rabu (10/12/2025), Ketua KNPB Wilayah Intan Jaya, Yakob Ugipa, meminta Dewan HAM PBB dan organisasi HAM internasional melakukan investigasi atas dugaan pelanggaran HAM berat yang terjadi di Intan Jaya dan sejumlah wilayah konflik di Papua.

Yakob menyoroti kasus pembunuhan Pendeta Yeremias Zanambani, peristiwa pembantaian 12 warga sipil di Kampung Soanggama, penangkapan dan pembunuhan Alex Sondegau yang disebut sebagai ODGJ, hingga serangkaian tindakan kekerasan lain yang mereka tuduhkan dilakukan aparat keamanan dalam operasi militer maupun kontak senjata dengan TPNPB.

Dalam pernyataannya, Yakob menyebut tindakan tersebut telah “mengakibatkan banyak korban jiwa dan pengungsian secara internal.”

Baca Juga :  2 Anggota TNI Dilaporkan Terluka saat Kontak Tembak di Intan Jaya, OPM Akui Bertanggung Jawab

Selain itu, dia juga menuntut PBB untuk bertanggung jawab atas kondisi pengungsian besar-besaran yang terjadi di wilayah-wilayah konflik di Papua.

Yakob mengungkapkan bahwa terdapat 103.218 warga sipil yang mengungsi akibat konflik bersenjata antara TPNPB dengan Militer Indonesia di Intan Jaya, Nduga, Yahukimo, Maybrat, Pegunungan Bintang, serta daerah lain.

Hingga kini, kata dia, sebagian besar warga belum kembali ke kampung halaman karena rumah dan fasilitas sipil dijadikan pos-pos aparat.

Yakob turut menyinggung catatan panjang kekerasan di Papua. Dia menegaskan bahwa PBB harus segera bertanggung jawab atas “pembunuhan terhadap warga sipil di Papua yang dilakukan oleh aparat militer Indonesia selama 64 tahun yang mengakibatkan ribuan warga sipil dibunuh dan ratusan ribu warga mengungsi secara internal bahkan ke PNG untuk mencari perlindungan.”

Baca Juga :  PSU Ricuh di Mimika, KPU Duga Ada Mobilisasi Massa

Tak hanya mendesak pihak internasional, Yakon juga meminta Pemerintah Indonesia menarik seluruh aparat dari kampung-kampung di Intan Jaya. Kehadiran aparat, menurut mereka, membuat aktivitas warga terhambat.

“Kehadiran aparat hanya menambah trauma dan ketakutan bagi warga sipil yang menaruh hidupnya di kebun dan berburu. Karena kehadiran aparat juga semua aktivitas sipil di kontrol setiap hari bahkan berburu dan berkebun,” ujarnya.

Dalam momen peringatan HAM sedunia ini, KNPB Intan Jaya pun kembali menyuarakan tuntutan lama: hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua. Mereka meminta proses referendum dilakukan di bawah pengawasan PBB dan tanpa tekanan dari aparat keamanan Indonesia.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN
Tolak Sawit PT IKSJ, Masyarakat Moi Sigin Antar Surat ke Kantor Pusat CAA Group
Industri Kayu di Sorong Tinggalkan Krisis Hak dan Penghidupan Masyarakat Adat Moi
Koalisi HAM Papua Minta TNI Tak Intervensi Konflik Tanah Adat Marga Kwipalo di Merauke
Tolak Sawit, Masyarakat Adat Klagilit Maburu Usir Utusan Perusahaan di Sorong
Perdamaian Kwamki Narama, Willem Wandik Desak Percepatan Perdasus Konflik Adat Papua
Masyarakat Adat di Mimika Barat Jauh Tolak Sawit PT TAS, Soroti Ancaman Ruang Hidup
Aksi Damai di Mimika, Massa Tuntut Percepatan Penanganan Konflik Kwamki Narama

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 14:32 WIT

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Januari 2026 - 06:25 WIT

Tolak Sawit PT IKSJ, Masyarakat Moi Sigin Antar Surat ke Kantor Pusat CAA Group

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:14 WIT

Industri Kayu di Sorong Tinggalkan Krisis Hak dan Penghidupan Masyarakat Adat Moi

Minggu, 25 Januari 2026 - 12:36 WIT

Koalisi HAM Papua Minta TNI Tak Intervensi Konflik Tanah Adat Marga Kwipalo di Merauke

Selasa, 20 Januari 2026 - 18:15 WIT

Tolak Sawit, Masyarakat Adat Klagilit Maburu Usir Utusan Perusahaan di Sorong

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT