NDUGA — Anggota DPRK Nduga, Ans Serera, mengungkap adanya korban jiwa dan pengungsian besar-besaran warga sipil setelah meninjau langsung kondisi di Distrik Gearek, Kabupaten Nduga.
Tinjauan lapangan itu dilakukan sejak 18 — 20 Desember 2025 menyusul peristiwa dugaan serangan udara yang dilakukan oleh aparat keamanan pada 12–13 Desember 2025.
Adapun tim investigasi yang turun terdiri dari DPRK Nduga, perwakilan Pemkab Nduga, kepala distrik, sejumlah kepala kampung, pihak Yayasan Keadilan Keutuhan Manusia Papua, mahasiswa dan para intelektual Nduga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ans Serera yang juga selaku Ketua Fraksi NIS mengatakan bahwa berdasarkan keterangan warga di lokasi, peristiwa penyerangan itu bermula sejak 10 Desember 2025, bertepatan dengan Hari HAM Sedunia.
Awalnya aparat melakukan aktivitas pemantauan pada pagi hari selama dua hari, 10 dan 11 Desember 2025. Pemantauan dilaksanakan menggunakan kamera drone.
Situasi kemudian memuncak pada 12 Desember 2025, ketika sejumlah helikopter dilaporkan melintas dan terjadi dugaan serangan udara di sekitar permukiman warga.
Lebih lanjut dalam tinjauannya, Ans Serera menyatakan melihat secara langsung kampung-kampung yang ditinggalkan warga serta rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi bukti nyata dampak serius yang dialami masyarakat sipil, khususnya perempuan dan anak-anak.
“Saya turun langsung ke lapangan dan melihat sendiri bagaimana situasi di sana. Kampung kosong, rumah rusak, dan masyarakat terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri,” ujar Ans Serera.

Adapun informasi dari warga dan keluarga korban di Distrik Gearek, bahwa peristiwa tersebut mengakibatkan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, Aristina Giban, dilaporkan meninggal dunia akibat terkena tembakan.
Ibu korban, Wina Kerebea, juga dilaporkan mengalami luka dalam kejadian yang sama.
Ans Serera menambahkan, hingga saat ini, jenazah anak tersebut belum diserahkan kepada pihak keluarga.
Ia meminta adanya kejelasan dan pengakuan resmi dari aparat terkait agar keluarga korban memperoleh kepastian dan hak mereka.
Selain korban jiwa, Ans Serera menyoroti dampak kemanusiaan berupa pengungsian besar-besaran warga sipil.
Dari hasil pendataan di lapangan, sekitar 46 orang mengungsi ke wilayah Enggolok, Wendama, dan Kenyam.
Sementara itu, sebanyak 87 kepala keluarga mengungsi ke Desa Yunsugu, Kabupaten Asmat, serta sekitar 18 kepala keluarga lainnya ke wilayah Kali Kabur.
Dalam perjalanan pengungsian menuju Kali Kabur, seorang warga bernama Elius Baye (25 tahun) dilaporkan meninggal dunia di hutan akibat sakit dan kekurangan makanan.
Temuan tersebut, menurut Ans Serera, menunjukkan bahwa dampak kejadian di Gearek telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan.
“Atas nama wakil rakyat, saya sangat menyesalkan kondisi ini. Negara wajib melindungi rakyatnya. Perempuan dan anak-anak tidak boleh menjadi korban, dan pengungsian besar-besaran ini harus segera ditangani secara serius,” tandasnya.
Sejak awal beredarnya isu penyerangan yang berdampak pengungsian ini terjadi, pihak aparat kemanan, baik TNI maupun Polri, belum memberikan pernyataan resmi.
Galeripapua.com telah berupaya mengonfirmasi pihak TNI, namun hingga saat ini, belum ada tanggapan apapun.










