Uskup Timika Soroti “Memoria Pahit” Orang Papua dalam Refleksi Tutup Tahun 2025

Endy Langobelen

Kamis, 1 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A. membawakan homili pada Perayaan Ekaristi Tutup Tahun 2025 di Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (31/12/2025) malam. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar siaran langsung YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A. membawakan homili pada Perayaan Ekaristi Tutup Tahun 2025 di Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (31/12/2025) malam. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar siaran langsung YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)

MIMIKA — Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., menegaskan bahwa perjalanan waktu bagi orang Papua tidak dapat dilepaskan dari ingatan kolektif akan penderitaan, kekerasan, dan luka sejarah yang belum sembuh.

Hal itu disampaikannya dalam homili pada Perayaan Ekaristi Tutup Tahun 2025 di Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (31/12/2025) malam.

Dalam refleksinya, Uskup Bernardus mengajak umat melihat waktu bukan sekadar hitungan kalender, melainkan ruang batin tempat manusia menyimpan kenangan, harapan, dan luka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia merujuk pemikiran Santo Agustinus yang memandang waktu sebagai bagian dari jiwa manusia, tempat sejarah hidup dihidupi dan dimaknai.

Salah satu bagian homili yang paling kuat adalah ketika Uskup Timika mengangkat konsep Memoria Passionis, memori penderitaan orang Papua yang diwariskan lintas generasi akibat kekerasan dan konflik bersenjata.

“Memoria Passionis adalah memori kenangan pahit, penderitaan, kejahatan, kekerasan oleh militer terhadap orang Papua selama berintegrasi dengan NKRI ini,” kata Uskup Bernardus.

Baca Juga :  Indahnya Safari Ramadhan dan Paskah Bareng Bagian Humas Protokol Pemkab Mimika

Ia menegaskan bahwa memori pahit tersebut masih hidup dan membekas hingga hari ini, membentuk sikap, emosi, dan respons sosial orang Papua.

“Karena itu sangatlah wajar kalau orang Papua mudah sekali emosi, mudah sekali tersinggung, mudah sekali marah kalau melihat saudara-saudara kita pegang senjata, pakaian loreng, dan seterusnya,” ujarnya.

Menurut Uskup Bernardus, penderitaan itu tidak berhenti pada masa lalu, tetapi masih berlangsung dalam bentuk pengungsian dan krisis kemanusiaan di berbagai wilayah Papua.

“Apalagi saudara-saudara kita hari ini yang ada di pegunungan, dari Nduga sampai Intan Jaya yang masih dalam pengungsian dan Maybrat, Bintuni,” ungkapnya.

Dalam homili tersebut, Uskup Timika mengajukan pertanyaan reflektif yang menggugah nurani umat dan para pemangku kebijakan.

“Pertanyaannya apakah memoria pahit seperti ini kapan berakhir, kapan diakhiri supaya ada memoria kasih, memoria manis, memoria yang adalah indah,” katanya.

Ia menekankan bahwa Ekaristi dan refleksi akhir tahun bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menghadirkan kembali sejarah untuk diberi makna baru, agar tidak terjebak dalam lingkaran dendam dan kekerasan.

Baca Juga :  Operasi Militer Intan Jaya: Warga Sipil Jadi Korban, Gereja Desak Penghentian Militerisme di Papua

Uskup Bernardus juga mengaitkan penderitaan Papua dengan panggilan iman Kristiani, yakni solidaritas dan keberpihakan pada mereka yang menderita.

Menurutnya, Natal adalah peristiwa Allah yang masuk ke dalam ruang dan waktu manusia, termasuk ruang penderitaan orang Papua.

“Dia di luar ruang dan waktu, memasuki ruang dan waktu dan sejarah manusia. Agar dia mengalami apa yang kita alami, agar dia merasakan apa yang kita rasakan,” tuturnya.

Menutup refleksi, Uskup Timika mengajak umat menjadikan tahun 2026 sebagai momentum pembaruan, dengan mengisi waktu dengan karya-karya kasih, keadilan, dan kemanusiaan, agar memoria pahit dapat perlahan disembuhkan oleh memoria harapan.

“Apa yang tidak baik diperbaharui, diperbaiki. Semoga dengan demikian, kita sungguh-sungguh menjadi terang bagi sesama lain dalam tugas perutusan yang Tuhan percayakan kita masing-masing,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Malam Pertama Ramadan 1447 H, Ribuan Jamaah Padati Masjid di Mimika
MUI Mimika Usul Penutupan Miras dan Hiburan Malam Selama Ramadan
MUI Mimika Imbau Masjid Selektif Undang Ustaz Tamu Selama Ramadan
Sambut Ramadan, DMI Mimika Perkuat Kesiapan Dai Lewat Cek Kesehatan
Tarhib Ramadhan, DMI Mimika Tekankan Etika Dakwah dan Toleransi
127 Jemaah Haji Asal Mimika Dijadwalkan Berangkat pada April Mendatang
Panitia Muspasme Stasi St. Yohanes Eyagitaida Terbentuk, Umat dan 10 Kampung Topiyai Siap Sukseskan Agenda Gereja
Pengakuan Pastor di Timika: OPM Berjuang karena Luka dan Martabat Papua

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 14:50 WIT

MUI Mimika Usul Penutupan Miras dan Hiburan Malam Selama Ramadan

Selasa, 10 Februari 2026 - 14:28 WIT

MUI Mimika Imbau Masjid Selektif Undang Ustaz Tamu Selama Ramadan

Selasa, 10 Februari 2026 - 13:52 WIT

Sambut Ramadan, DMI Mimika Perkuat Kesiapan Dai Lewat Cek Kesehatan

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:44 WIT

Tarhib Ramadhan, DMI Mimika Tekankan Etika Dakwah dan Toleransi

Jumat, 30 Januari 2026 - 22:10 WIT

127 Jemaah Haji Asal Mimika Dijadwalkan Berangkat pada April Mendatang

Berita Terbaru