Pengakuan Pastor di Timika: OPM Berjuang karena Luka dan Martabat Papua

Endy Langobelen

Senin, 5 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RD. Amandus Rahadat, membawakan homili pada Misa Minggu Pesta Epifani atau Pesta Tiga Raja, Minggu (4/1/2026) di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Jalan Yos Sudarso, Mimika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video siaran langsung di kanal YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)

Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RD. Amandus Rahadat, membawakan homili pada Misa Minggu Pesta Epifani atau Pesta Tiga Raja, Minggu (4/1/2026) di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Jalan Yos Sudarso, Mimika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video siaran langsung di kanal YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)

MIMIKA — Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RD. Amandus Rahadat, Pr., mengungkapkan pandangan reflektif mengenai akar perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam homili Misa Minggu Pesta Epifani atau Pesta Tiga Raja, Minggu (4/1/2026).

Dalam khotbahnya, Pastor Amandus mengaitkan spiritualitas Tiga Raja dari Timur sebagai spiritualitas mencari—mencari jawaban atas tanda-tanda zaman—dengan realitas sosial-politik yang dialami orang asli Papua (OAP).

Ia menegaskan bahwa kegigihan OPM tidak bisa dilepaskan dari persoalan martabat, luka sejarah, dan ketidakadilan yang belum diselesaikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Spiritualitas Tiga Raja adalah spiritualitas mencari. Mencari apa? Mencari jawaban atas tanda-tanda alam yang menimbulkan tanda tanya,” kata Pastor Amandus dalam homilinya.

OPM dan Tanda-Tanda Zaman di Papua

Pastor Amandus, imam non-OAP yang telah 42 tahun melayani di tanah Papua dan 22 tahun berkarya di Timika, mengaku sejak awal imamatnya terganggu oleh satu pertanyaan mendasar.

“Mengapa ada orang Papua, bahkan sebagian besar orang Papua ingin merdeka memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkapnya.

Menurutnya, fenomena perlawanan OPM merupakan “tanda alam” yang perlu dicari maknanya, sebagaimana para majus yang mengikuti bintang hingga menemukan Yesus.

“Saya melihat di alam Papua ada sesuatu yang aneh, aneh khususnya bagi para pendatang. Mengapa orang Papua minta merdeka?” ujarnya.

Baca Juga :  Ketersediaan Hewan Kurban di Mimika Jelang Idul Adha Berkurang

Empat Alasan OPM Terus Melawan

Dalam refleksinya, Pastor Amandus merangkum empat faktor utama yang menurutnya menjadi alasan OPM tidak menyerah dan terus melakukan perlawanan.

Kesimpulan itu ia peroleh dari penelitian ilmiah, dokumen Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Jayapura, pemikiran akademisi, serta pengalaman personal berdialog dengan orang Papua.

Pertama, OPM merasa tidak pernah menentukan pilihan secara bebas untuk bergabung dengan Indonesia.

“Menurut mereka penentuan pendapat rakyat yang pernah dilakukan itu penipuan sejarah. Itu bukan referendum, itu pencaplokan,” katanya.

Kedua, belum tuntasnya penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua.

“Banyak kasus kekerasan, pembunuhan, penghilangan terhadap orang-orang Papua, tidak diadili secara transparan,” ujar Pastor Amandus. Akibatnya, “Aparat keamanan tidak lagi dilihat sebagai pelindung rakyat, tetapi sebagai ancaman.”

Ketiga, pengabaian identitas dan martabat orang Papua. “Di luar Papua, rasisme dan diskriminasi masih terjadi. Pernah mereka disebut monyet. Itu sangat menyedihkan,” tuturnya.

Keempat, ketimpangan sosial dan ekonomi yang mencolok. “Mama-mama Papua kumpul sayur dan buah. Mereka pergi ke post tentara dan mereka menukar dengan beras. Sementara saat yang sama negara ini mengerimkan beras berton-ton ke Palestina. Itu sakit. Sakit.”

Menurut pandangan OPM, lanjut Pastor Amandus, situasi ini dipersepsikan sebagai bentuk penjajahan model baru.

Baca Juga :  Sukacita Ramadhan, Lapas Kelas IIB Timika Bukber Bareng Warga Binaan

Perjuangan OPM dan Martabat Manusia

Pastor Amandus menegaskan bahwa perjuangan OPM, menurut pemahamannya, tidak semata-mata bermotif politik.

“Terakhir, perjuangan OPM dan orang-orang Papua yang ingin memisahkan diri dari republik ini bukan sekedar aksi politik tetapi masalah martabat. Martabat manusia Papua,” tandasnya.

“Menjadi merdeka itu bukan soal bintang kejora. Bukan, tetapi soal harkat dan martabat,” imbuhnya.

Ia menyimpulkan, selama akar persoalan tersebut tidak diakui dan diselesaikan, perlawanan akan terus berlangsung.

“Selama luka sejarah tidak diakui, mereka akan tetap berjuang. Selama suara mereka dibungkam, mereka akan tetap berjuang. Selama keadilan tidak ditegakkan, mereka akan tetap melawan,” kata Pastor Amandus.

Seruan untuk Terus Mencari Jawaban

Di akhir homilinya, bertepatan dengan perayaan ulang tahun imamatnya dan Pastor Rinto, Pastor Amandus menyampaikan pesan kepada para imam muda dan umat agar tidak berhenti mencari jawaban atas persoalan kehidupan.

“Teruslah mencari jawaban atas problem-problem kehidupan. Sebab, itulah spiritualitas Tiga Orang Majus dari Timur.”

Homili tersebut menjadi refleksi iman yang sekaligus membuka ruang dialog tentang Papua, dengan harapan negara dan seluruh elemen bangsa mau mendengar suara yang lahir dari pengalaman panjang penderitaan dan pergulatan orang Papua.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemenhaj dan Pemkab Jayawijaya Dorong Integrasi Data Jemaah Haji
Ketua PGGM Lantik Panitia Natal Oikumene 2026, Tekankan Semangat Pelayanan
Kemenag Buka 200 Kuota Bantuan Pendidikan Pesantren, Ditutup 4 September 2026
Calon Jemaah di Mimika Segera Verifikasi Data Sebelum 27 Juli
Kafilah dari Biak dan Waropen Tiba di Jayapura, MTQ XXXI Papua Dimulai 13 Juli
Kemenhaj Papua: 823 Jemaah Haji Asal Papua Tiba di Tanah Air
391 Jemaah Haji Asal Papua Tiba di Makassar, Dua Masih Dirawat di Madinah
Masjid Nurul Hidayah Juara 1 Lomba Kebersihan Jelang Iduladha di Mimika Baru

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:39 WIT

Kemenhaj dan Pemkab Jayawijaya Dorong Integrasi Data Jemaah Haji

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 07:24 WIT

Ketua PGGM Lantik Panitia Natal Oikumene 2026, Tekankan Semangat Pelayanan

Rabu, 2 September 2026 - 14:20 WIT

Kemenag Buka 200 Kuota Bantuan Pendidikan Pesantren, Ditutup 4 September 2026

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:25 WIT

Calon Jemaah di Mimika Segera Verifikasi Data Sebelum 27 Juli

Minggu, 12 Juli 2026 - 23:12 WIT

Kafilah dari Biak dan Waropen Tiba di Jayapura, MTQ XXXI Papua Dimulai 13 Juli

Berita Terbaru

Kebakaran hutan terjadi di kawasan pegunungan di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Facebook Anak Tambang Papua)

Peristiwa

Kebakaran Hutan Melanda Pegunungan di Tembagapura Mimika

Rabu, 14 Okt 2026 - 22:19 WIT