Bertanggung Jawab Atas Penyerangan di Puncak, TPNPB-OPM Bantah Tembak Warga Sipil

Sabtu, 4 Maret 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tampak seorang korban warga sipil yang terkena tembakan di bagian pangkal lengan tangan kanannya saat kejadian kontak tembak antara TPNPB-OPM dan aparat TNI di Kampung Pamebut, Distrik Yugumuak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Jumat (3/3/2023).

i

Tampak seorang korban warga sipil yang terkena tembakan di bagian pangkal lengan tangan kanannya saat kejadian kontak tembak antara TPNPB-OPM dan aparat TNI di Kampung Pamebut, Distrik Yugumuak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Jumat (3/3/2023).

PUNCAK – TPNPB-OPM mengaku bertanggung jawab atas meninggalnya prajurit TNI yang diserang di Kampung Pamebut, Distrik Yugumuak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Jumat (3/3/2023).

Melalui rilis siaran pers yang diterima GaleriPapua.com hari Sabtu (4/3/2023) kemarin, Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menyampaikan bahwa penyerangan itu dilakukan oleh TPNPB KODAP Sinak di bawah pimpinan Panglima Brigjen Militer Murib.

“KOMNAS TPNPB-OPM  melaporkan resmi dari Puncak Ilaga, TPNPB KODAP Sinak di bawah pimpinan Panglima Brigadir Jendral Militer Murib bertanggung jawab atas penyerangan terhadap anggota TNI yang gugur di Kapubaten Puncak Ilaga, Distirik Yugumok, Kampung Pamebut,” tulis Sebby dalam rilis tersebut.

Dijelaskan bahwa kronologi kejadian berawal dari pengiriman minuman alkohol yang diduga dikirim oleh TNI kepada pihak TPNPB-OPM di Distrik Yugumuak, Jumat (3/3/2023) sekira pukul 05.00 waktu setempat.

“Namun, minumannya penutup masih terbuka sehingga minumannya di buang ke sungai, kemudian TPNPB-OPM menghindari tempat tersebut,” kata Sebby.

Kemudian paginya, ketika hari telah terang, aparat TNI melakukan pengepungan di lokasi tersebut tapi anggota TPNPB-OPM telah tiada.

“Sehingga TNI/Polri melakukan penyisiran terhadap warga sipil setempat dan mengakibatkan korban sipil berjumlah 8 orang luka tembak dan 1 ibu  atas nama alm. Terina Murib meninggal dunia,” jelasnya.

“Penembakan warga sipil murni dilakukan oleh TNI/POLRI di Kampung Pamebut. Korban meninggal di jalan dan TNI kasih tinggal di jalan,” tandasnya.

Selanjutnya, pada saat di dalam perjalanan, aparat TNI kemudian dihadang oleh TPNPB dan terjadilah kontak tembak yang mengakibatkan seorang personel TNI gugur.

Baca Juga :  Atasi Kelaparan di Puncak, Pemerintah Fokus Percepatan Pembangunan

“Dalam baku tembak itu, pasukan TPNPB tidak ada korban,” ungkapnya.

Dari kronologi yang disampaikan, Sebby menegaskan bahwa TPNPB membantah melakukan penembakan terhadap warga sipil.

“Tentara Pembebasan nasional papua Barat (TPNPB) membantah menembak warga sipil, karena kami berjuang untuk orang Papua dan ini penipuan yang dilakukan oleh TNI/POLRI,” tegasnya.

“Kami minta kepada semua pihak internasional dan PBB untuk segera lakukan intervensi kemanusiaan di tanah Papua untuk melindungi warga sipil (pengungsi) karena orang Papua tidak aman. Kami TPNPB akan lawan kolonial TNI/Polri hingga kiamat,” tegasnya lagi.

Adapun identitas 8 korban luka tembak dari warga sipil yang dicantumkan Sebby di dalam siaran pers itu, yakni sebagai berikut.

1. Guwinus Murib
2. Rondinus Murib, 17 tahun SMP kelas II kena tembak di dada bagian kanan
3. Apoluk Murib
4. Erabin Kulua
5. Merinte Telengen
6. Rasna Kogoya
7. Rosisa Murib
8. Yaliga Murib

“Laporan kami itu dari orang-orang asli Papua setempat yang kirim, maka itu bisa benar karena TNI bukan warga setempat yang kenal masyarakat. TPNPB yang kenal masyarakat, karena TPNPB berjuang untuk rakyat bangsa papua dan negeri seutuhnya,” jawab Sebby tegas saat ditanya soal perbedaan jumlah dan identitas korban luka tembak dengan yang disampaikan pihak TNI-Polri.

Kronologi Kontak Tembak di Puncak Versi Kapendam XVII/Cenderawasih

Berbeda dengan kronologi versi KOMNAS TPNPB-OPM, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Kolonel Kav Herman Taryaman menyampaikan bahwa warga sipil meninggal karena ditembak gerombolan bersenjata yang disebutnya dengan Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua.

Baca Juga :  TPNPB-OPM Minta Indonesia Berunding Hentikan Konflik Bersenjata di Papua

“KST menembak warga sipil an. TM (perempuan OAP), di Kampung Pamebut Distrik Yugumuak,” ujar Kapendam, Jumat (3/3/2023).

Kapendam menjelaskan, peristiwa baku tembak ini bermula ketika KST menembak warga sipil atas nama Taruna Murib (25) hingga meninggal.


Mengetahui kejadian itu, aparat TNI yang dalam hal ini Satgas Yonif Raider 303/SSM berniat untuk mengevakuasi korban tersebut.

“Namun saat evakuasi menuju Puskesmas, tim evakuasi tersebut dihadang dan ditembak oleh KST. Mengakibatkan Praka JM tertembak dan akhirnya terjadi kontak tembak,” katanya.

Setibanya di Puskesmas Sinak, Praka JM yang tertembak di bagian perut sempat ditangani tim medis. Namun tak berselang lama, Praka JM dinyatakan meninggal dunia.

“Dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis, demikian pula warga sipil an. TM yang ditembak KST, dinyatakan meninggal dunia,” ucap Kapendam.

Dikatakan lebih lanjut, selain kedua korban yang meninggal dunia, terdapat juga 6 warga sipil korban luka-luka yang kini sedang dalam perawatan medis di Puskesmas Sinak.

Keterangan dari Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ignatius Benny Ady Prabowo, menyebutkan para korban yang saat ini dirawat yakni Lerice Telenggen, Rasna Kogoya, Desina Along, Etera Kulua, Anison Tabuni, dan Iwan Murib.

“Para korban masih dirawat,” ujar Kombes Benny.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”
Cipayung Mimika Serukan Persatuan KNPI Melalui Musdalub
Kiprah Papua Ultimate Frisbee Bumikan Olahraga Piring Terbang di Mimika
Sejumlah Kios di Jalan Yos Sudarso Timika Ludes Terbakar
Penyerahan SK PPPK Guru di Mimika Masih Tertunda, Ini Alasannya
2 Jenis BBM Ini Naik Harga, Pertamina: Bukan Karena PPN 12 Persen
Perubahan Iklim, Salju Abadi Kebanggaan Papua Bakal Hilang di 2026?
Patah Panah, Perang Saudara di Mimika Berakhir Damai

Berita Terkait

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:26 WIT

Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”

Rabu, 11 Juni 2025 - 17:57 WIT

Cipayung Mimika Serukan Persatuan KNPI Melalui Musdalub

Minggu, 9 Februari 2025 - 22:40 WIT

Kiprah Papua Ultimate Frisbee Bumikan Olahraga Piring Terbang di Mimika

Kamis, 9 Januari 2025 - 12:43 WIT

Sejumlah Kios di Jalan Yos Sudarso Timika Ludes Terbakar

Minggu, 5 Januari 2025 - 03:56 WIT

Penyerahan SK PPPK Guru di Mimika Masih Tertunda, Ini Alasannya

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT