JAYAPURA – Persentase jumlah penduduk miskin di Papua selama enam bulan terakhir mengalami penurunan sebesar 0,82 persen.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Adriana Helena Carolina di Jayapura pada beberapa waktu lalu seperti yang dilansir dari situs resmi Pemerintah Provinsi Papua.
“Pada September 2021 persentase penduduk miskin sebesar 27,38 persen atau sebanyak 944.490 jiwa. Sementara pada bulan Maret 2022 turun menjadi 26,56 persen atau sebanyak 922.120 jiwa,” ujarnya.
Kendati demikian, persentase penduduk miskin untuk daerah perkotaan di Papua meningkat sebanyak 0,08 persen. Dari yang sebelumnya 4,94 persen, naik mencapai 5,02 persen pada Maret 2022.
“Sedangkan di kawasan perdesaan turun sebanyak 1,11 persen poin menjadi 35,39 persen,” ungkapnya.
Menurut Adrianan, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan, jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan.
“Sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada Maret 2022 untuk daerah perkotaan sebesar 67,42 persen. Sementara untuk perdesaan sebesar 78,40 persen,” terangnya.
Lebih lanjut Adriana menyebutkan, komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap Garis Kemiskinan Provinsi Papua di daerah perkotaan adalah beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, dan ikan tongkol atau tuna atau cakalang.
“Kalau komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap Garis Kemiskinan di perdesaan adalah ketela rambat atau ubi, beras, rokok kretek filter, daging babi, dan ketela pohon,” pungkasnya.










