MIMIKA– Suasana Iduladha di Masjid Miftahul Huda Mimika terasa berbeda tahun ini. Tak hanya ramai oleh masyarakat yang ingin berkurban, tetapi juga kehadiran Bupati Mimika, Johannes Rettob, yang datang langsung meninjau proses penyembelihan hewan kurban.
Namun bukan sekadar kunjungan seremonial, ada pesan penting yang ingin ia sampaikan: kurban bukan hanya soal ritual, tapi juga tentang kepedulian terhadap lingkungan dan kesejahteraan hewan.
Bupati JR, sapaan akrabnya, memberikan apresiasi tinggi kepada panitia kurban dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang dinilai berhasil menyelenggarakan kurban secara tertib, bersih, dan memperhatikan etika penyembelihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tahun ini, sebanyak 19 ekor sapi dan 4 kambing disembelih dengan pengawasan ketat, baik dari segi kesehatan hewan maupun prosedur penyembelihannya.
“Saya senang melihat bagaimana kurban di sini dijalankan. Tidak hanya mengikuti aturan agama, tapi juga menjaga kenyamanan hewan dan kebersihan lingkungan,” ujar JR yang hadir bersama Ketua PHBI Mimika, Ustad Joko Prianto, serta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Sabelina Fitriani, Jumat (6/6/2025).
Adapun yang menarik perhatian Bupati adalah sejumlah inovasi yang dilakukan panitia tahun ini. Dibanding pelaksanaan tahun lalu, ada peningkatan signifikan dalam hal teknis, penanganan limbah, hingga sistem penyembelihan yang lebih beradab.
“Panitia benar-benar belajar dari pengalaman. Saya lihat ada perubahan nyata. Hewan tidak dibuat stres, tidak saling melihat saat disembelih, dan semua berjalan dengan rapi,” tuturnya.
Lebih dari sekadar pujian, Bupati Rettob mengajak masjid-masjid lain di Mimika untuk menjadikan LDII sebagai contoh dalam pengelolaan kurban.
Ia menekankan bahwa menyembelih hewan bukan hanya soal menyelesaikan kewajiban agama, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan moral.
“Kita sering lupa, bahwa kurban juga mengajarkan nilai empati. Menyembelih hewan yang sakit atau lema justru mencederai makna ibadah itu sendiri,” tegasnya.
Pelaksanaan kurban yang etis dan ramah lingkungan seperti ini diharapkan bisa menjadi standar baru di Mimika, sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam ibadah kurban.
Sebuah pesan kuat bahwa kebaikan tidak hanya turun dari langit, tapi juga tercermin dari cara kita memperlakukan makhluk di bumi.









