MIMIKA — Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RD. Amandus Rahadat, Pr., mengungkapkan pandangan reflektif mengenai akar perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam homili Misa Minggu Pesta Epifani atau Pesta Tiga Raja, Minggu (4/1/2026).
Dalam khotbahnya, Pastor Amandus mengaitkan spiritualitas Tiga Raja dari Timur sebagai spiritualitas mencari—mencari jawaban atas tanda-tanda zaman—dengan realitas sosial-politik yang dialami orang asli Papua (OAP).
Ia menegaskan bahwa kegigihan OPM tidak bisa dilepaskan dari persoalan martabat, luka sejarah, dan ketidakadilan yang belum diselesaikan.
“Spiritualitas Tiga Raja adalah spiritualitas mencari. Mencari apa? Mencari jawaban atas tanda-tanda alam yang menimbulkan tanda tanya,” kata Pastor Amandus dalam homilinya.
OPM dan Tanda-Tanda Zaman di Papua
Pastor Amandus, imam non-OAP yang telah 42 tahun melayani di tanah Papua dan 22 tahun berkarya di Timika, mengaku sejak awal imamatnya terganggu oleh satu pertanyaan mendasar.
“Mengapa ada orang Papua, bahkan sebagian besar orang Papua ingin merdeka memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkapnya.
Menurutnya, fenomena perlawanan OPM merupakan “tanda alam” yang perlu dicari maknanya, sebagaimana para majus yang mengikuti bintang hingga menemukan Yesus.
“Saya melihat di alam Papua ada sesuatu yang aneh, aneh khususnya bagi para pendatang. Mengapa orang Papua minta merdeka?” ujarnya.
Empat Alasan OPM Terus Melawan
Dalam refleksinya, Pastor Amandus merangkum empat faktor utama yang menurutnya menjadi alasan OPM tidak menyerah dan terus melakukan perlawanan.
Kesimpulan itu ia peroleh dari penelitian ilmiah, dokumen Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Jayapura, pemikiran akademisi, serta pengalaman personal berdialog dengan orang Papua.
Pertama, OPM merasa tidak pernah menentukan pilihan secara bebas untuk bergabung dengan Indonesia.
“Menurut mereka penentuan pendapat rakyat yang pernah dilakukan itu penipuan sejarah. Itu bukan referendum, itu pencaplokan,” katanya.
Kedua, belum tuntasnya penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua.
“Banyak kasus kekerasan, pembunuhan, penghilangan terhadap orang-orang Papua, tidak diadili secara transparan,” ujar Pastor Amandus. Akibatnya, “Aparat keamanan tidak lagi dilihat sebagai pelindung rakyat, tetapi sebagai ancaman.”
Ketiga, pengabaian identitas dan martabat orang Papua. “Di luar Papua, rasisme dan diskriminasi masih terjadi. Pernah mereka disebut monyet. Itu sangat menyedihkan,” tuturnya.
Keempat, ketimpangan sosial dan ekonomi yang mencolok. “Mama-mama Papua kumpul sayur dan buah. Mereka pergi ke post tentara dan mereka menukar dengan beras. Sementara saat yang sama negara ini mengerimkan beras berton-ton ke Palestina. Itu sakit. Sakit.”
Menurut pandangan OPM, lanjut Pastor Amandus, situasi ini dipersepsikan sebagai bentuk penjajahan model baru.
Perjuangan OPM dan Martabat Manusia
Pastor Amandus menegaskan bahwa perjuangan OPM, menurut pemahamannya, tidak semata-mata bermotif politik.
“Terakhir, perjuangan OPM dan orang-orang Papua yang ingin memisahkan diri dari republik ini bukan sekedar aksi politik tetapi masalah martabat. Martabat manusia Papua,” tandasnya.
“Menjadi merdeka itu bukan soal bintang kejora. Bukan, tetapi soal harkat dan martabat,” imbuhnya.
Ia menyimpulkan, selama akar persoalan tersebut tidak diakui dan diselesaikan, perlawanan akan terus berlangsung.
“Selama luka sejarah tidak diakui, mereka akan tetap berjuang. Selama suara mereka dibungkam, mereka akan tetap berjuang. Selama keadilan tidak ditegakkan, mereka akan tetap melawan,” kata Pastor Amandus.
Seruan untuk Terus Mencari Jawaban
Di akhir homilinya, bertepatan dengan perayaan ulang tahun imamatnya dan Pastor Rinto, Pastor Amandus menyampaikan pesan kepada para imam muda dan umat agar tidak berhenti mencari jawaban atas persoalan kehidupan.
“Teruslah mencari jawaban atas problem-problem kehidupan. Sebab, itulah spiritualitas Tiga Orang Majus dari Timur.”
Homili tersebut menjadi refleksi iman yang sekaligus membuka ruang dialog tentang Papua, dengan harapan negara dan seluruh elemen bangsa mau mendengar suara yang lahir dari pengalaman panjang penderitaan dan pergulatan orang Papua.














