INTAN JAYA — Di jantung pegunungan Papua Tengah, Bandara Bilorai di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, tetap berdenyut meski tanpa kehadiran satu pun petugas sipil.
Sejak gangguan keamanan pada akhir 2021 yang memaksa evakuasi petugas Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) dan AirNav Indonesia, operasional bandara ini kini berada sepenuhnya di tangan personel militer dari Satgas Yonko 465 Kopasgat.
“Kami terus menjalankan tugas untuk memastikan operasional bandara berjalan dengan lancar dan aman,” kata Dansektor IV Satgas Kopasgat, Lettu Pas Dimas Yusup, S.T.Han, dalam siaran pers yang diterima Galeripapua.com, Selasa (29/7/2025).
Tidak ada menara pengawas yang aktif. Tidak pula ruang ATC yang diisi pengendali lalu lintas udara berseragam sipil. Namun, roda penerbangan tetap berputar.
Di lapangan, prajurit Kopasgat mengatur lalu lintas udara secara manual—mengandalkan komunikasi radio, pengamatan visual, dan koordinasi taktis.
“Koordinasi dan kesiapsiagaan terus kami jaga agar penerbangan tetap aman,” ujar Danpos Kopasgat Sugapa, Lettu Pas Gugus Rinjani, S.Tr.(Han).
Sejak petugas sipil ditarik karena alasan keselamatan, Bandara Bilorai beroperasi dalam kendali militer.
Kopasgat, yang dilatih untuk operasi khusus termasuk pengendalian bandara dan pengamanan udara, mengambil alih seluruh peran vital: dari pengaturan lalu lintas udara hingga pengawasan landasan.
Bandara Bilorai menjadi nadi kehidupan masyarakat Intan Jaya. Jalur udara ini menjadi satu-satunya akses cepat bagi pergerakan logistik, penumpang, dan layanan medis di wilayah yang dikepung pegunungan dan kerap terganggu stabilitas keamanan.
Penerbangan pesawat ringan seperti Caravan masih rutin mendarat dan lepas landas, membawa kebutuhan pokok, peralatan, hingga pasien darurat.
Di balik kelancaran itu, ada kesiapsiagaan pasukan bersenjata yang bekerja di luar tugas tempur konvensional.
Untuk menjamin keamanan dan kelancaran, personel Kopasgat terus bersinergi dengan aparat keamanan lain di wilayah Intan Jaya, termasuk TNI AD, Polri, dan perangkat pemerintahan setempat.
Dalam situasi normal, pengoperasian bandara oleh satuan militer bukanlah kebiasaan. Namun, di Bilorai, kondisi luar biasa melahirkan tata kelola yang tak lazim—sebuah improvisasi darurat demi menjaga satu-satunya jalur hidup masyarakat pedalaman.










