Tiga Desain Terbaik Terpilih, Deiyai Siap Patenkan Batik Khas Suku Mee

Endy Langobelen

Selasa, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budayawan Papua sekaligus akademisi, Titus Pekei, mengumumkan ketiga juara sayembara batik khas Suku Mee berdasarkan hasil penilaian juri. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Budayawan Papua sekaligus akademisi, Titus Pekei, mengumumkan ketiga juara sayembara batik khas Suku Mee berdasarkan hasil penilaian juri. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

DEIYAI — Pemerintah Kabupaten Deiyai melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) resmi menetapkan tiga pemenang Sayembara Desain Batik Khas Suku Mee 2025.

Dari total 46 peserta, tiga karya terbaik dipilih oleh dewan juri dalam penjurian yang berlangsung di Kantor Bupati Deiyai, Selasa (25/11/2025).

Ketiga juara diumumkan oleh budayawan Papua sekaligus akademisi, Titus Pekei. Mereka adalah juara I Yosinta Douw dengan nomor desain 8.1, juara II Hana Reona Pakage dengan nomor desain 46, dan juara III Oktovina Mote dengan nomor desain 4.4.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyerahan hadiah akan dilakukan pada puncak HUT ke-17 Kabupaten Deiyai, Rabu (26/11/2025).

Penilaian Berbasis Filosofi, Warna, dan Nilai Jual

Desainer TIFA Creative sekaligus juri, Alfo Smith, menjelaskan bahwa penilaian tidak semata mempertimbangkan visual. Ia menekankan pentingnya narasi budaya serta filosofi yang diperkuat oleh komposisi warna.

Desainer TIFA Creative, Alfo Smith, menjelaskan sistem penilaian dewan juri. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Desainer TIFA Creative, Alfo Smith, menjelaskan sistem penilaian dewan juri. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

“Penilaian dilihat dari bagaimana desainer memiliki kemampuan untuk mengembangkan narasi pandangan filosofi yang sudah ada secara umum. Kemudian bagaimana gradasi warnanya,” jelas Alfo.

Ia menyebut Papua identik dengan warna-warna mencolok, elegan, dan mewah, sehingga warna dalam desain harus memiliki makna.

“Misalkan dari desain ini dia perlu warna merah, nah warna merah dalam arti pengerti merah itu fungsinya apa, kuning fungsinya apa,” tambahnya.

Baca Juga :  Demo di Kantor KPU Mimika, Ketua Tim Pemenangan AIYE Beri Pernyataan Keras
Juara I desain batik khas Suku Mee oleh Yosinta Douw. (Foto: Istimewa/Panitia)
Juara I desain batik khas Suku Mee oleh Yosinta Douw. (Foto: Istimewa/Panitia)

Selain unsur budaya Deiyai, juri juga menilai potensi komersial desain. “Kami tidak bisa hanya bikin desain dan diproduksi terus tidak ada jualnya. Kita juga harus memikirkan masa jangka panjang, bisa mempromosikan Deiyai, sampai manca negara juga bisa tahu bahwa Deiyai ada batik,” ujarnya.

Senada dengan itu, juri Titus Pekei menegaskan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan konteks masyarakat Mee di Deiyai.

“Juara dinilai dari geografis, ekologis, dan humanis, manusia Mee di kabupaten Deiyai,” ungkapnya.

Juara II desain batik khas Suku Mee oleh Hana Reona Pakage. (Foto: Istimewa/Panitia)
Juara II desain batik khas Suku Mee oleh Hana Reona Pakage. (Foto: Istimewa/Panitia)

Dekranasda Siapkan Hak Paten dan Produksi Batik Deiyai

Ketua Dekranasda Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, mengatakan sayembara ini merupakan langkah awal untuk menghadirkan batik khas Deiyai yang autentik dan berbeda dari daerah lain.

“Kegiatan Sayembara Batik Suku Mee ini kami laksanakan supaya kami, Kabupaten Deiyai punya batik sendiri. Jadi batik yang tidak sama dengan batik-batik lain,” ujarnya saat diwawancarai Galeripapua.com usai acara berlangsung.

Ketua Dekranasda Kabupaten Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, membawakan sambutan sekaligus membuka acara penjurian Sayembara Desain Batik Suku Mee dalam rangka memeriahkan HUT Kabupaten Deiyai, Selasa (25/11/2025). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Ketua Dekranasda Kabupaten Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, membawakan sambutan sekaligus membuka acara penjurian Sayembara Desain Batik Suku Mee dalam rangka memeriahkan HUT Kabupaten Deiyai, Selasa (25/11/2025). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Ia memastikan tiga desain pemenang akan dibawa ke tahap berikutnya. “Kami akan urus dia punya hak paten supaya kalau bisa semua pegawai negeri yang ada di Kabupaten Deiyai ini, kami bisa cetak batik untuk mereka pakai di hari Kamis,” kata Fransina.

Baca Juga :  MP Kembalikan Uang Korupsi Jembatan Agimuga, Kajari: Proses Hukum Tetap Berjalan

Bupati: Batik Mee Akan Jadi Identitas Resmi Deiyai

Bupati Deiyai, Melkianus Mote, menutup rangkaian kegiatan penjurian dengan menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya melalui simbol busana. Ia menyebut batik khas ini akan menjadi penanda kuat asal-usul masyarakat Mee dari Deiyai.

“Maka itu kami juga ingin menampilkan kami punya ciri khas. Jadi kalau orang sudah pakai baju itu, orang sudah tahu itu orang Deiyai,” tegas Bupati dalam sambutannya.

Bupati Deiyai, Melkianus Mote, membawakan sambutan sekaligus menutup rangkaian acara penjurian dan pengumuman pemenang sayembara batik khas Suku Mee 2025. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Bupati Deiyai, Melkianus Mote, membawakan sambutan sekaligus menutup rangkaian acara penjurian dan pengumuman pemenang sayembara batik khas Suku Mee 2025. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Ia juga mengungkapkan sejumlah program besar daerah yang berkaitan dengan pelestarian budaya, termasuk pendirian museum dan enam galeri yang akan menyimpan dan memamerkan beragam artefak budaya Mee. Proyek ini ditargetkan tuntas pada 2026.

“Nanti ada tour guide dari pariwisata akan stand by di situ. Selain itu kami punya pasar souvenir dan akan dikelola sama Dekranasda,” jelas Mote.

Desain Lain Tetap Punya Potensi

Dekranasda membuka peluang bagi desain-desain lainnya untuk diadopsi pada masa mendatang. “Mungkin nanti ke depannya kami akan berbicara, kami bisa pilih lagi batik yang lain,” ujar Fransina.

Dengan penetapan tiga desain terbaik ini, Deiyai memasuki tahap baru dalam membangun identitas visual budaya Mee melalui batik.

Juara III desain batik khas Suku Mee oleh Oktovina Mote. (Foto: Istimewa/Panitia)
Juara III desain batik khas Suku Mee oleh Oktovina Mote. (Foto: Istimewa/Panitia)

Produk ini diharapkan tidak hanya menjadi seragam pegawai, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat sekaligus komoditas budaya yang dapat mengharumkan nama Deiyai di tingkat nasional hingga internasional.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HPN 2026: Presiden Prabowo Soroti Tantangan AI dan Masa Depan Jurnalisme Indonesia
Lomba Tari Antarsekolah Warnai Dies Natalis ke-20 Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria
HUT BPOM ke-25, Loka POM Mimika Gelar Vaksinasi HPV untuk Cegah Kanker Serviks
TIFA Kembali Masuk KEN 2026, Siap Melompat ke Panggung Internasional Juli Mendatang
Etika Jurnalisme di Era AI, Lucky Ireeuw: Manusia Tetap di Kemudi
Fesmed Papua Hadirkan Seminar Keamanan Digital untuk Lawan Hoaks Lewat Jurnalisme Damai
Ketua AWP: Fesmed Jadi Ruang Peningkatan Kapasitas dan Literasi Media Papua
Fesmed Papua Raya Fokus Bekali Jurnalis dengan Keterampilan Investigasi, AI, dan Jurnalisme Damai

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 23:07 WIT

HPN 2026: Presiden Prabowo Soroti Tantangan AI dan Masa Depan Jurnalisme Indonesia

Jumat, 6 Februari 2026 - 18:28 WIT

Lomba Tari Antarsekolah Warnai Dies Natalis ke-20 Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria

Jumat, 6 Februari 2026 - 16:48 WIT

HUT BPOM ke-25, Loka POM Mimika Gelar Vaksinasi HPV untuk Cegah Kanker Serviks

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:19 WIT

TIFA Kembali Masuk KEN 2026, Siap Melompat ke Panggung Internasional Juli Mendatang

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:59 WIT

Etika Jurnalisme di Era AI, Lucky Ireeuw: Manusia Tetap di Kemudi

Berita Terbaru

Sejumlah karyawan yang hendak naik ke Tembaga diperintahkan kembali pulang akibat adanya penembakan di area PT Freeport Indonesia, Mile Point 50, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

Freeport

Freeport Tutup Jalan Utama ke Tembagapura Pascapenembakan

Kamis, 12 Feb 2026 - 01:06 WIT

Pesawat PK-SNR milik PT Smart Air Aviation yang ditembak saat menjalankan rute Tanah Merah menuju Danawage/Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Tengah, Rabu (11/2/2026). (Fotoo: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

Peristiwa

Pesawat Smart Air Ditembak di Boven Digoel, Dua Pilot Gugur

Rabu, 11 Feb 2026 - 19:13 WIT