KEEROM – Data Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Keerom mencapai 30,5% pada 2021. Angka itu menggambarkan masih tingginya persoalan gizi yang dihadapi anak-anak di wilayah perbatasan Papua tersebut.
Kondisi serupa ditemukan di Kampung Bagia, Distrik Arso Kota, Kabupaten Keerom. Pemantauan posyandu mencatat sedikitnya tujuh bayi dan balita mengalami gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan berat badan dan tinggi badan yang tidak sesuai usianya.
Persoalan kesehatan di kampung yang dihuni 456 jiwa itu tidak hanya terkait gizi anak. Data Puskesmas Arso Kota menunjukkan terdapat 315 kasus diare pada 2021, sementara 16 kepala keluarga saat itu belum memiliki akses sanitasi layak atau belum mencapai status bebas buang air besar sembarangan (Open Defecation Free/ODF).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, akses layanan kesehatan masih terbatas. Kampung Bagia hanya memiliki satu puskesmas pembantu dan satu sekolah dasar. Untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih lengkap, warga harus menempuh perjalanan sekitar 8 hingga 9 kilometer menuju Puskesmas Arso Kota.
Belum adanya organisasi nonpemerintah yang secara khusus melakukan pendampingan di bidang gizi dan kesehatan masyarakat membuat berbagai persoalan tersebut berlangsung bertahun-tahun. Situasi itulah yang mendorong Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Papua bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, Puskesmas Arso Kota, dan Pemerintah Kampung Bagia meluncurkan Program Kawasan Sehat pada Agustus 2023.
Tiga tahun berselang, program tersebut memasuki fase akhir pendampingan. Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat mampu melanjutkan berbagai upaya perbaikan kesehatan secara mandiri setelah program berakhir.
Apa itu Program Kawasan Sehat?
Program Kawasan Sehat adalah upaya membangun pola hidup sehat pada suatu kawasan dengan indikator-indikator kesehatan tertentu yang dicapai melalui pemberdayaan masyarakat peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pengelolaan sumber daya lokal dan kemitraan menurut LKC Dompet Dhuafa.
Tujuannya untuk memandirikan masyarakat baik secara kelompok maupun individu untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di lingkungan. rogram ini dilakukan dengan menjalin kerjasama pentahelix dengan multi stakeholder, program ini dilaksanakan selama 3 Tahun.
Sasaran program ini meliputi pemangku kepentingan kunci yang terdiri dari Puskesmas, pemerintah desa, kader kesehatan, universitas, dan tokoh masyarakat. Selain itu, program ini menyasar ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita, serta kelompok usia 15 hingga 59 tahun. Sasaran lainnya adalah kelompok penderita penyakit menular dan kelompok penderita penyakit tidak menular (PTM).
Mengapa Kampung Bagia masuk dalam Program Kawasan Sehat? ‘Angka penyakit menular cukup tinggi’
Koordinator Program LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan, mengatakan Kampung Bagia dipilih sebagai lokasi Program Kawasan Sehat karena sejumlah persoalan kesehatan yang masih terjadi di wilayah tersebut saat program dimulai pada 2023.
Salah satu persoalan utama adalah belum optimalnya layanan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk penyakit tidak menular (PTM). Saat itu, layanan kesehatan di kampung tersebut masih terbatas pada Posyandu yang berfokus pada ibu dan bayi balita.
“Waktu itu Posbindu belum berjalan. Jadi yang ada hanya Posyandu umum untuk bayi dan balita. Setelah kami masuk, kami mulai membentuk Posbindu PTM,” kata Tumijan kala diwawancara GaleriPapua di Kampung Bagia, Keerom, Jumat, 19 Juni 2026.
Tumijan menjelaskan, Posbindu PTM kemudian dikembangkan untuk memeriksa penyakit tidak menular seperti asam urat, kolesterol, dan gula darah melalui layanan pemeriksaan rutin di tingkat kampung.
Selain itu, klaim Tumijan, angka kesakitan di Kampung Bagia juga masih cukup tinggi, termasuk kasus malaria dan sejumlah penyakit menular lainnya. “Angka penyakit menular di sini masih cukup tinggi, termasuk malaria dan beberapa penyakit lainnya,” tuturnya.
Tumijan menambahkan, persoalan lain yang ditemukan adalah kondisi sanitasi masyarakat yang masih rendah. Sebagian warga belum memiliki akses jamban sehat sehingga praktik buang air besar sembarangan masih ditemukan di sejumlah titik.“Masih ada masyarakat yang belum punya jamban, jadi masih ada praktik buang air besar sembarangan,” katanya.
Selama program berlangsung sejak 2023 hingga 2026, kegiatan yang paling sering dilakukan di Kampung Bagia meliputi Posbindu PTM, Posyandu kesehatan ibu dan anak (KIA), senam lansia, serta skrining kesehatan rutin. Selain itu, program juga mencakup kegiatan lingkungan seperti penanaman pohon yang kini mulai menunjukkan hasil panen buah di beberapa titik. “Yang paling sering dilakukan itu Posbindu PTM, Posyandu KIA, senam sehat, dan skrining kesehatan,” kata Tumijan.
Menurut dia, sebagian besar indikator Program Kawasan Sehat telah tercapai. Namun, indikator terkait sanitasi lingkungan masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya selesai. “Alhamdulillah sudah memenuhi indikator. Yang belum itu di sanitasi lingkungan,” ujarnya.
Tumijan mengklaim,setidaknya dari sekitar 14 kasus sanitasi yang sebelumnya menjadi masalah, sebagian telah terselesaikan, meski masih menyisakan beberapa rumah tangga yang belum memiliki akses jamban layak. “Sudah terselesaikan sembilan, jadi tinggal sedikit lagi yang belum,” tuturnya.

Upaya kesehatan ibu dan anak
Salah satu fokus LKC Dompet Dhuafa Papua di wilayah sasaran adalah kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia dini. Pendampingan dilakukan secara rutin melalui kader kesehatan kampung dan tenaga kesehatan setempat, dengan pemantauan kondisi ibu dan anak dalam jangka waktu beberapa tahun.
Data menunjukkan jumlah ibu hamil di wilayah sasaran menurun dari 15 orang pada 2023 menjadi enam orang pada 2026. Pada periode yang sama, seluruh ibu hamil yang masuk dalam kelompok binaan tercatat mendapatkan pemantauan kesehatan dan status gizi secara berkala.
Persoalan anemia masih ditemukan pada sebagian ibu hamil. Tercatat lima kasus pada 2023, turun menjadi tiga kasus pada 2024. Angka ini kemudian meningkat menjadi empat kasus pada 2025, sebelum kembali turun menjadi tiga kasus pada 2026. Meski demikian, sebagian ibu hamil menunjukkan perbaikan kadar hemoglobin setelah mendapatkan intervensi gizi dan pendampingan.
Kasus kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil juga tercatat dalam jumlah terbatas. Pada 2023 terdapat dua kasus, turun menjadi satu kasus pada 2024, lalu kembali menjadi dua kasus pada 2025 dan 2026. Seluruh ibu hamil dengan kondisi KEK dilaporkan mengalami perbaikan status gizi berdasarkan pengukuran lingkar lengan atas setelah intervensi dilakukan.
Di tengah dinamika tersebut, tidak ditemukan kasus kematian ibu selama periode pendampingan berlangsung.
Upaya pencegahan stunting juga dilakukan melalui peningkatan praktik pemberian ASI eksklusif. Rata-rata capaian ASI eksklusif meningkat dari 70 persen pada 2023 menjadi 90 persen pada 2024 di wilayah sasaran.
Jika dilihat dari kelompok ibu menyusui yang bayinya telah mencapai usia enam bulan, capaian ASI eksklusif tercatat sebesar 89 persen dari 18 ibu menyusui pada 2023. Pada 2024, angka ini meningkat menjadi 90 persen dari sembilan ibu menyusui. Sementara pada 2026, terdapat empat ibu yang masih dalam masa pemberian ASI eksklusif karena bayi mereka belum mencapai usia enam bulan.
Untuk mendukung capaian tersebut, LKC Dompet Dhuafa Papua juga memberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan ibu menyusui yang membutuhkan dukungan gizi. Intervensi ini disertai dengan edukasi kesehatan serta pemantauan rutin melalui kelas ibu hamil di tingkat kampung.
Sementara itu, anak usia bawah dua tahun (baduta) dengan masalah gizi mendapatkan PMT berbasis protein hewani setiap bulan. Selain bantuan makanan tambahan, orang tua juga diberikan pendampingan mengenai pola asuh, pola makan, serta pemantauan tumbuh kembang anak, terutama pada kasus yang belum menunjukkan perbaikan status gizi.
Tenaga kesehatan: Edukasi meningkat, malaria masih jadi tantangan di Kampung Bagia
Kehadiran LKC Dompet Dhuafa Papua di Kampung Bagia, Kabupaten Keerom, disebut membawa perubahan pada pemahaman masyarakat terkait kesehatan dasar, terutama soal kebersihan diri dan pemenuhan gizi kelompok rentan.
Penanggung Jawab Puskesmas Pembantu Kampung Bagia, Suster Astrianti, mengatakan sebelum intervensi masuk, masih banyak warga yang belum memahami pentingnya perilaku hidup bersih dan kebutuhan nutrisi bagi bayi, balita, serta ibu hamil.
“Begitu masuknya Dompet Dhuafa Papua, masyarakat sudah mulai mengerti tentang kesehatan, terutama personal hygiene serta kebutuhan nutrisi bayi, balita, maupun lansia,” kata dia.
Selain edukasi, menurut Astrianti, intervensi juga membantu pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini. Program juga menyentuh layanan kesehatan lansia yang dilakukan bersama kader di tingkat kampung.
Namun, ia menilai sejumlah persoalan dasar masih belum tertangani sepenuhnya. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas sanitasi di wilayah kampung atas yang dinilai masih tertinggal dibanding wilayah lain.
“Ke depan mungkin perlu bantuan untuk MCK di bagian kampung atas karena satu dusun di sana masih tertinggal,” ujarnya.
Suster Astrianti juga menyoroti malaria yang masih menjadi masalah kesehatan utama di wilayah tersebut. Ia menyebut jumlah kasus cenderung meningkat, sementara ketersediaan obat dan target penanganan dari layanan kesehatan masih terbatas.
“Kasusnya terus meningkat. Harapan kami Dompet Dhuafa bisa membantu juga, terutama untuk obat-obatan,” kata dia.
Meski demikian, Suster Astrianti menyebut kerja sama antara tenaga kesehatan, kader, masyarakat, dan LKC Dompet Dhuafa Papua berjalan baik selama ini. “Solid, kerja sama bagus, dan komunikasi selalu terjaga antara saya sebagai penanggung jawab kesehatan, kader, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap pendampingan dapat terus berlanjut, dengan cakupan yang lebih luas dan koordinasi yang lebih kuat, terutama untuk menjawab tantangan kesehatan dasar di wilayah tersebut.








