Krisis Transportasi, Nakes Sakit Malaria di Mimika Dievakuasi Jalan Kaki 12 Jam Lintasi Gunung dan Sungai

Endy Langobelen

Jumat, 5 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat dalam perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat dalam perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

MIMIKA – Kabut tebal menyelimuti punggung gunung ketika langkah demi langkah itu terus dipaksakan bergerak. Di depan, aliran sungai berbatu menghadang. Di belakang, hutan belantara membentang tanpa ujung.

Di antara medan berat itu, sejumlah tenaga kesehatan (nakes) berjalan dalam diam, menahan lelah, sakit, dan ketidakpastian.

Bagi sebagian orang, perjalanan 12 jam berjalan kaki mungkin terdengar seperti aktivitas pendakian biasa. Namun bagi nakes Puskesmas Aroanop di Kabupaten Mimika, perjalanan itu adalah pilihan terakhir setelah seluruh akses transportasi yang mereka harapkan tak tersedia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiga orang nakes terserang malaria. Persediaan obat mulai habis. Alat pemeriksaan malaria sudah tidak tersedia. Sedangkan satu tenaga kesehatan lainnya harus segera kembali ke Kota Timika untuk mengikuti Prajabatan.

Sementara transportasi udara yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung wilayah pedalaman dengan kota dikabarkan belum dapat digunakan.

Di tengah situasi ini, Kepala Puskesmas Aroanop, Fransiska Tekege, mengambil keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya yaitu berjalan kaki dari Ainggogin menuju Kampung Banti di Distrik Tembagapura.

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat di tepi sungai dalam perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)
Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat di tepi sungai dalam perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

Perjalanan yang harus ditempuh selama sekitar 12 jam itu melewati belasan sungai tanpa jembatan, mendaki gunung tinggi, dan melintasi hutan yang nyaris tanpa permukiman.

“Kami tidak punya pilihan lain,” kata Fransiska kepada Galeripapua.com melalui sambungan telepon, Jumat (5/6/2026) siang.

Bertugas di Wilayah yang Hanya Bisa Dijangkau Pesawat

Awal Mei 2026, Fransiska bersama sejumlah tenaga kesehatan berangkat menuju Aroanop menggunakan pesawat perintis bersubsidi.

Sebanyak 10 tenaga kesehatan dikirim ke pedalaman untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan akses layanan medis.

Namun di tengah masa tugas itu, muncul masalah baru. Pesawat yang biasanya digunakan mengalami kendala sehingga penerbangan tidak tersedia.

Di saat bersamaan, kontrak transportasi helikopter yang selama ini dikelola Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika belum berjalan karena masih dalam proses lelang.

Padahal waktu terus berjalan. Tenaga kesehatan yang bertugas di pedalaman pun tidak bisa menunggu tanpa kepastian.

“Kami sudah koordinasi dengan Ibu sekretaris dan PPTK. Jawabannya kontrak dengan pihak ketiga belum ada karena masih proses lelang,” ujar Fransiska.

Kondisi tersebut membuat mobilisasi tenaga kesehatan di sejumlah wilayah pedalaman ikut terdampak.

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat di tengah perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)
Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat di tengah perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

Bagi kampung yang memiliki lapangan terbang, tenaga kesehatan masih berharap pada penerbangan subsidi pemerintah. Namun bagi kampung yang tidak memiliki landasan pesawat, pergantian tenaga kesehatan praktis tidak bisa dilakukan karena harus menunggu helikopter.

Malaria dan Obat yang Mulai Habis

Situasi semakin mendesak ketika tiga tenaga kesehatan dinyatakan positif malaria. Mereka membutuhkan penanganan dan pengobatan yang memadai.

Di sisi lain, stok obat malaria yang biasa disebut “obat biru” mulai habis. Persediaan alat Rapid Diagnostic Test (RDT) juga tidak tersedia lagi.

Baca Juga :  Stunting dan Malaria Jadi Ancaman Ganda bagi Anak di Mimika

Sementara itu, seorang tenaga kesehatan lainnya harus segera kembali ke Timika karena harus mengikuti tahapan Prajabatan.

Fransiska dihadapkan pada pilihan sulit. Menunggu transportasi yang belum jelas kapan tersedia atau mengambil risiko membawa mereka keluar dari pedalaman dengan berjalan kaki.

“Saya harus evakuasi mereka. Tidak mungkin saya tahan terus di sana karena obat sudah habis dan penerbangan juga tidak ada,” ujarnya.

Akhirnya dapat solusinya itu jalan kaki walaupun itu menempuh perjalanan selama 12 jam.

Menyusun Rencana di Tengah Keterbatasan

Keputusan berjalan kaki tidak diambil secara mendadak. Sehari sebelum keberangkatan, Fransiska masih berusaha mencari berbagai solusi.

Dari Ainggogin, ia melakukan koordinasi dengan berbagai pihak. Masalahnya, wilayah tersebut tidak memiliki listrik maupun jaringan internet yang memadai.

Untuk berkomunikasi, mereka harus memanfaatkan jaringan internet milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat dalam perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)
Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat dalam perjalanan 12 jam dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

Selain memastikan jalur perjalanan aman, Fransiska juga harus berkoordinasi dengan PT Freeport Indonesia agar ketika rombongan tiba di Kampung Banti, kendaraan sudah tersedia untuk membawa mereka turun ke Timika.

Setelah seluruh koordinasi selesai, sekitar pukul 09.00 pagi pada Rabu, 3 Juni 2026, keputusan itu akhirnya diambil. Mereka berangkat.

Menembus 12 Sungai dan Gunung Berkabut

Rombongan terdiri dari 15 orang. Sepuluh di antaranya tenaga kesehatan, sementara lima lainnya merupakan porter yang memahami medan.

Dari 10 tenaga kesehatan tersebut, empat laki-laki dan enam perempuan. Ketiga tenaga kesehatan yang sedang sakit malaria semuanya perempuan.

Perjalanan awal menuju Kampung Ombani 1 relatif lebih ringan karena masih terdapat jembatan pada beberapa titik sungai.

Mereka sebenarnya berencana bermalam di kampung tersebut. Namun ketika tiba sekitar pukul 12.00 siang, cuaca masih sangat cerah.

Pengalaman masyarakat setempat mengajarkan satu hal penting: sungai di pegunungan Papua bisa berubah menjadi ancaman mematikan ketika hujan turun. Karena itu, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan.

Keputusan itu membuat perjalanan berubah menjadi ujian fisik yang sesungguhnya. Dari Ombani 1 hingga memasuki kawasan hutan, tidak ada lagi kampung. Yang tersisa hanyalah jalur setapak, sungai, batuan licin, dan tanjakan panjang.

Mereka harus menyeberangi sungai sebanyak 12 kali. Tidak ada jembatan. Pada beberapa titik, rombongan harus saling berpegangan agar tidak terseret arus.

“Debit air masih rendah sehingga masih bisa dilewati, walaupun harus saling pegangan,” kata Fransiska.

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop menyebrangi salah satu dari 12 sungai dalam perjalanan dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)
Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop menyebrangi salah satu dari 12 sungai dalam perjalanan dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

Perjalanan menyusuri sungai berlangsung hingga sekitar pukul 15.00 sore. Setelah itu tantangan berikutnya menanti.

Mereka harus mendaki gunung selama tiga jam. Bukan bukit kecil. Menurut Fransiska, gunung yang mereka lalui sangat tinggi dan berat untuk ditempuh.

Langkah demi langkah harus dipaksakan di tengah tenaga yang mulai terkuras. Kabut turun perlahan menutupi jalur pendakian. Udara semakin dingin. Namun perjalanan belum berakhir.

Baca Juga :  Disnakertrans Mimika Siapkan Generasi OAP jadi Pengusaha Sukses

Setelah mencapai puncak sekitar pukul 18.00, mereka masih harus menuruni gunung selama tiga jam lagi.

Ketika yang Sakit Berjalan Paling Depan

Pemandangan yang terjadi selama perjalanan menjadi ironi tersendiri. Mereka yang sakit justru berjalan paling depan.

Fransiska sengaja menempatkan tenaga kesehatan yang terserang malaria bersama porter berpengalaman agar bisa mendapat pendampingan lebih intensif. Sementara tenaga kesehatan yang sehat berada di belakang.

Sepanjang perjalanan, beberapa orang mengalami kram kaki, sakit kepala, dan pusing. Mereka berhenti sejenak, minum obat, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Meski demikian, tidak seorang pun menyerah.

“Saya bilang kalau capek harus istirahat. Jangan dipaksa,” ujar Fransiska.

Hal terpenting saat itu adalah memastikan tidak ada yang terpisah dari rombongan. Sebab, jalur yang mereka lalui tergolong rawan dan berada jauh dari permukiman. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop menyebrangi salah satu dari 12 sungai dalam perjalanan dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)
Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop menyebrangi salah satu dari 12 sungai dalam perjalanan dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

Tiba di Banti Saat Malam

Setelah sekitar 12 jam berjalan kaki, rombongan akhirnya tiba di Kampung Banti sekitar pukul 22.00 malam.

Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir. Mereka bermalam satu malam di Banti untuk memulihkan tenaga.

Keesokan harinya, PT Freeport Indonesia memfasilitasi kendaraan sehingga rombongan dapat turun menuju Timika menggunakan bus nonreguler pada malam hari.

Mereka melaju dengan bus sekitar pukul 20.00 WIT dan akhirnya tiba di Kota Timika pukul 22.00 WIT.

Perjalanan yang dimulai dari hutan pedalaman Papua itu pun berakhir dengan rasa syukur. “Puji Tuhan semua bisa tiba dengan selamat,” kata Fransiska.

Transportasi yang Menentukan Nasib Pelayanan Kesehatan

Bagi Fransiska, perjalanan itu bukan sekadar kisah perjuangan tenaga kesehatan. Perjalanan tersebut menjadi gambaran nyata mengenai persoalan mendasar yang masih dihadapi pelayanan kesehatan di pedalaman Papua, khususnya Mimika, yaitu transportasi.

Menurutnya, kebutuhan bahan makanan masih bisa diupayakan melalui dana operasional. Namun transportasi tidak mungkin ditanggung sendiri oleh tenaga kesehatan. Biayanya terlalu besar.

Padahal menurut Fransiska, anggaran mobilisasi tenaga kesehatan melalui Dana Otonomi Khusus sebenarnya tersedia. Masalahnya terletak pada proses pengadaan yang berjalan terlalu lama.

Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat di salah satu jembatan dalam perjalanan dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)
Rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Aroanop beristirahat di salah satu jembatan dalam perjalanan dari Kampung Ainggogin ke Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (3/6/2026). (Foto: Istimewa/Dok. Puskesmas Aroanop)

Ia berharap pemerintah daerah benar-benar memberi perhatian serius terhadap persoalan ini. Sebab tanpa transportasi yang memadai, pelayanan kesehatan di pedalaman akan selalu berada dalam posisi rentan.

“Kalau kami harus terus berjalan kaki seperti ini, siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu di perjalanan?” ujarnya.

Membangun Kembali Kepercayaan yang Hilang

Bagi Fransiska, mempertahankan pelayanan kesehatan di Aroanop memiliki makna yang lebih besar.

Ia mengungkapkan pelayanan kesehatan di wilayah tersebut baru kembali berjalan setelah sempat vakum selama sembilan tahun.

Saat ini layanan itu baru beroperasi sekitar sembilan bulan. Karena itu ia tidak ingin masyarakat kembali kehilangan akses kesehatan akibat persoalan yang sebenarnya bisa dicegah.

Menurutnya, kehadiran tenaga kesehatan secara rutin menjadi kunci untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan pemerintah.

“Kami sedang berusaha membangun kembali kepercayaan masyarakat supaya mereka tidak kecewa lagi seperti sebelumnya,” katanya.

Saat ini masih ada dua tenaga kesehatan yang bertahan di Aroanop sehingga pelayanan kesehatan tetap berjalan.

Tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat di Ainggogin, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua Tengah. (Foto: Dok. Puskesmas Aroanop)
Tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat di Ainggogin, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua Tengah. (Foto: Dok. Puskesmas Aroanop)

Namun pengalaman menempuh perjalanan 12 jam melintasi hutan dan sungai membuat Fransiska berpikir ulang untuk mengirim tenaga kesehatan kembali jika persoalan transportasi belum terselesaikan.

Ia mengaku lututnya masih terasa sakit hingga sekarang. Meski demikian, semangat melayani masyarakat pedalaman belum padam.

Ada satu syarat yang menurutnya harus dipenuhi. Transportasi harus tersedia.

“Kalau pemerintah serius menyediakan transportasi, saya siap mengirim tenaga kesehatan lagi ke pedalaman,” tegasnya.

Di balik kisah perjalanan 12 jam itu, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan tenaga kesehatan di pedalaman Papua harus mempertaruhkan keselamatan mereka hanya untuk menjalankan tugas mulia ini?

Sebab di ujung jalur setapak yang mereka lalui, ada masyarakat yang setiap hari menunggu layanan kesehatan tetap hadir. Dan bagi mereka, kehadiran seorang tenaga kesehatan bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dinkes Mimika Gandeng RSUD dan RSMM Jalankan Program MCU, Skema Subsidi Masih Dikaji
DPRK Soroti Kekosongan Pimpinan Puskesmas Jita, Kapus Bantah Ada Biaya Rujukan Pasien
Dua Kasus Kaki Gajah Ditemukan di Timika, Dinkes Mimika Kejar Target Bebas Filariasis 2030
Tanaman Obat Keluarga Kembali Digalakkan, Dinkes Mimika Siapkan Kader Sebagai Penyalur Edukasi
Dinkes Mimika Gencarkan Sosialisasi Medical Check Up untuk Usia Produktif
Semangat Bhayangkara untuk Negeri, Polda Papua Tengah Layani Ratusan Warga Melalui Bakti Kesehatan
Tekan Kasus Malaria, 48 Kampung di Nabire Bentuk Tim Pengendalian
Dinas Kesehatan Mimika Gelar Pelatihan Nakes Guna Perkuat Layanan Posyandu

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:44 WIT

Dinkes Mimika Gandeng RSUD dan RSMM Jalankan Program MCU, Skema Subsidi Masih Dikaji

Kamis, 9 Juli 2026 - 23:51 WIT

DPRK Soroti Kekosongan Pimpinan Puskesmas Jita, Kapus Bantah Ada Biaya Rujukan Pasien

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:22 WIT

Dua Kasus Kaki Gajah Ditemukan di Timika, Dinkes Mimika Kejar Target Bebas Filariasis 2030

Kamis, 25 Juni 2026 - 21:49 WIT

Tanaman Obat Keluarga Kembali Digalakkan, Dinkes Mimika Siapkan Kader Sebagai Penyalur Edukasi

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:46 WIT

Dinkes Mimika Gencarkan Sosialisasi Medical Check Up untuk Usia Produktif

Berita Terbaru