Nakes Jalan Kaki 12 Jam, Bupati Mimika Bantah Kendala Transportasi

Endy Langobelen

Selasa, 9 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Mimika, Johannes Rettob, saat memberikan penjelasan kepada awak media di Graha Eme Neme Yauware, Timika, Selasa (9/6/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Bupati Mimika, Johannes Rettob, saat memberikan penjelasan kepada awak media di Graha Eme Neme Yauware, Timika, Selasa (9/6/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA – Bupati Mimika, Johannes Rettob, membantah adanya persoalan transportasi yang menyebabkan sejumlah tenaga kesehatan (nakes) harus berjalan kaki selama sekitar 12 jam dari Ainggogin menuju Kampung Banti, Distrik Tembagapura.

Menurut Johannes, pemerintah daerah tidak pernah menerima informasi maupun permintaan penjemputan dari tenaga kesehatan yang melakukan perjalanan tersebut.

Karena itu, ia menilai peristiwa yang kemudian viral diberitakan tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Transportasi apa sebenarnya? Itu yang tadi saya marah tu yang bikin itu, video itu. Itu tuh orangnya, saya marah dia. Saya bilang tidak ada maaf,” tegas Johannes saat diwawancarai di Graha Eme Neme Yauware, Timika, Selasa (9/6/2026) siang.

“Itu kan masalah… Apa sih yang sebenarnya dipersoalkan? Tinggal kontak kita, kita jemput. Kalau tidak ada informasi, baru jalan kaki, baru bikin video seakan-akan itu susahnya minta ampun. Bagaimana kita tahu?” imbuhnya.

Ia menegaskan jalur yang dilalui para tenaga kesehatan merupakan wilayah dengan tingkat risiko yang cukup tinggi sehingga menurutnya komunikasi dan koordinasi menjadi hal yang penting sebelum mengambil keputusan melakukan perjalanan darat.

Baca Juga :  DPRK Mimika Soroti Sampah Medis yang Diduga Dibuang Sembarangan

Saat ditanya mengenai informasi bahwa sebelumnya telah dilakukan koordinasi terkait kebutuhan transportasi, Johannes membantah hal tersebut.

“Siapa yang bilang ada koordinasi? Bohong dia itu. Saya pecat nanti dia,” ujarnya.

Johannes juga menegaskan bahwa akses penerbangan menuju wilayah Aroanop tetap tersedia melalui dukungan transportasi yang difasilitasi oleh PT Freeport Indonesia.

“Itu… Itu pesawat ada. Freeport dari daerah Aroanop itu kita dibantu full oleh Freeport. Itu daerah Freeport” katanya.

Selain itu, Johannes mempertanyakan informasi mengenai adanya tenaga kesehatan yang terserang malaria sehingga harus dievakuasi keluar dari wilayah tersebut.

Menurutnya, wilayah pegunungan tempat para tenaga kesehatan bertugas bukan merupakan daerah yang umum ditemukan kasus malaria.

“Dan alasannya ada malaria. Di atas pengunungan itu tidak ada malaria. Bohong besar itu. Ya, itu saya sampaikan. Itu peringatan untuk itu,” ujarnya.

Bupati mengatakan persoalan tersebut telah menjadi perhatian pemerintah daerah dan telah disampaikan dalam apel bersama aparatur pemerintah.

Ia mengingatkan seluruh aparatur sipil negara agar berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke ruang publik, khususnya melalui media sosial.

Baca Juga :  Dinkes Mimika Targetkan 2 Juta Tes Malaria dan 50 Ribu Skrining TBC pada 2026

“Di dalam apel kemarin saya sudah sampaikan, aparat pemerintah jangan memberikan informasi yang aneh-aneh di dalam media sosial. Saya sampaikan ini. Masa… Masa kita tidak pernah… Apa yang kita susah? Komunikasi ada. Semua ada. Gitu ya,” tuturnya.

Meski demikian, Johannes mengaku belum mengetahui secara rinci penyebab utama yang membuat para tenaga kesehatan memilih berjalan kaki keluar dari wilayah itu.

“Saya tidak tahu. Apakah memang… Saya sendiri tidak tahu, tetapi yang jelas kalau dibilang persoalan, itu tidak benar. Pasti harus mereka mengkomunikasikan,” ungkapnya.

“Terus dibilang, yang saya hanya aneh bahwa… Ada pegawai… Ada masyarakat yang eh… Jadi di Aroanop itu tidak ada puskesmas ya, yang ada cuma Pustu,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Puskesmas bersama sejumlah tenaga kesehatan melakukan perjalanan darat dari Ainggogin menuju Kampung Banti pada Rabu (3/6/2026).

Perjalanan tersebut ditempuh selama sekitar 12 jam dengan berjalan kaki melintasi hutan, pegunungan, dan belasan sungai.

Menurut Fransiska, keputusan itu diambil karena beberapa tenaga kesehatan mengalami sakit malaria, sementara persediaan obat dan alat pemeriksaan malaria mulai habis.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dinkes Mimika Gandeng RSUD dan RSMM Jalankan Program MCU, Skema Subsidi Masih Dikaji
DPRK Soroti Kekosongan Pimpinan Puskesmas Jita, Kapus Bantah Ada Biaya Rujukan Pasien
Dua Kasus Kaki Gajah Ditemukan di Timika, Dinkes Mimika Kejar Target Bebas Filariasis 2030
Tanaman Obat Keluarga Kembali Digalakkan, Dinkes Mimika Siapkan Kader Sebagai Penyalur Edukasi
Dinkes Mimika Gencarkan Sosialisasi Medical Check Up untuk Usia Produktif
Semangat Bhayangkara untuk Negeri, Polda Papua Tengah Layani Ratusan Warga Melalui Bakti Kesehatan
Tekan Kasus Malaria, 48 Kampung di Nabire Bentuk Tim Pengendalian
Dinas Kesehatan Mimika Gelar Pelatihan Nakes Guna Perkuat Layanan Posyandu

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:44 WIT

Dinkes Mimika Gandeng RSUD dan RSMM Jalankan Program MCU, Skema Subsidi Masih Dikaji

Kamis, 9 Juli 2026 - 23:51 WIT

DPRK Soroti Kekosongan Pimpinan Puskesmas Jita, Kapus Bantah Ada Biaya Rujukan Pasien

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:22 WIT

Dua Kasus Kaki Gajah Ditemukan di Timika, Dinkes Mimika Kejar Target Bebas Filariasis 2030

Kamis, 25 Juni 2026 - 21:49 WIT

Tanaman Obat Keluarga Kembali Digalakkan, Dinkes Mimika Siapkan Kader Sebagai Penyalur Edukasi

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:46 WIT

Dinkes Mimika Gencarkan Sosialisasi Medical Check Up untuk Usia Produktif

Berita Terbaru