Freeport Ajak 200 Mahasiswa UNCEN Belajar Teknologi Tambang Modern

Endy Langobelen

Jumat, 16 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Civitas akademika UNCEN dan narasumber eksekutif PTFI berfoto bersama setelah kegiatan Eksekutif Mengajar #2 sebagai wujud nyata sinergi untuk Papua. Kegiatan yang diikuti 200 mahasiswa ini berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan  Kemitraan PTFI-UNCEN di Jayapura, Papua,  Selasa, 15 September 2026. (Foto: Dok. Corpcom PT Freeport Indonesia)

Civitas akademika UNCEN dan narasumber eksekutif PTFI berfoto bersama setelah kegiatan Eksekutif Mengajar #2 sebagai wujud nyata sinergi untuk Papua. Kegiatan yang diikuti 200 mahasiswa ini berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN di Jayapura, Papua, Selasa, 15 September 2026. (Foto: Dok. Corpcom PT Freeport Indonesia)

JAYAPURA – Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN) mendapatkan kesempatan mempelajari praktik industri pertambangan modern secara langsung dari jajaran eksekutif PT Freeport Indonesia (PTFI).

Melalui program Eksekutif Mengajar, mahasiswa diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi, pengelolaan risiko, hingga pentingnya membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN, Jayapura, Papua, Selasa (15/9/2026), ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan tantangan nyata di dunia industri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Program yang memasuki penyelenggaraan kedua tersebut menghadirkan Senior Vice President Operations Maintenance PTFI Ayep Dirmawan dan Vice President Community Relations PTFI Engel Enoch sebagai narasumber.

Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek teknis pertambangan, tetapi juga wawasan tentang pengelolaan operasional, keselamatan kerja, serta kemampuan membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan UNCEN, Isabella Waicang, mengaku mendapatkan pengalaman berharga melalui kegiatan tersebut. Menurutnya, program ini memberikan gambaran nyata tentang penerapan ilmu yang selama ini dipelajari di kampus.

“Yang paling menarik, kami bisa melihat langsung bagaimana teori di kampus dipakai untuk menjawab tantangan nyata di industri. Tidak hanya belajar tentang pekerjaan di tambang, tetapi juga tentang cara berpikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia profesional,” kata Isabella.

Dalam pemaparannya, Ayep Dirmawan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pendekatan pemeliharaan peralatan dalam industri pertambangan.

Jika sebelumnya pemeliharaan lebih banyak dilakukan setelah terjadi kerusakan, kini perusahaan dapat memanfaatkan analisis data serta pendekatan preventive maintenance dan predictive maintenance untuk mengidentifikasi potensi gangguan lebih awal.

Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat, sekaligus mendukung keandalan peralatan yang berperan penting dalam keselamatan dan efisiensi operasional.

Baca Juga :  PSSI dan KNVB Rampungkan Coaching Clinic, Orbitkan Talenta Muda Mimika ke Panggung Internasional

“Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi. Teknologi membantu pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, namun manusia yang mengelolanya tetap menjadi faktor terpenting,” katanya.

Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai pentingnya penguasaan teknologi yang diimbangi dengan kemampuan sumber daya manusia. Dalam industri pertambangan modern, kemampuan membaca data, mengantisipasi risiko, dan menentukan langkah yang tepat menjadi bagian penting dari kompetensi profesional.

Pengelolaan pemeliharaan peralatan juga menjadi salah satu faktor yang menentukan keselamatan dan efisiensi operasional, terutama dalam kegiatan pertambangan bawah tanah yang membutuhkan keandalan sistem dan peralatan.

Selain aspek teknis, mahasiswa juga diajak memahami pentingnya hubungan sosial dalam menjalankan kegiatan industri pertambangan, khususnya di Papua yang memiliki keberagaman sosial dan budaya.

Vice President Community Relations PTFI, Engel Enoch, menekankan bahwa keberhasilan operasional perusahaan tidak hanya bergantung pada teknologi dan kemampuan teknis. Kemampuan mendengarkan masyarakat, memahami konteks sosial dan budaya, serta membangun dialog juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan usaha.

Menurut Engel, perbedaan perspektif dan kepentingan perlu dikelola melalui komunikasi yang terbuka agar kepercayaan dan kolaborasi dapat tumbuh.

“Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang,” kata Engel.

Materi tersebut memperluas perspektif mahasiswa tentang dunia pertambangan. Mereka diajak memahami bahwa kompetensi di industri ini tidak hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan komunikasi, pemahaman sosial budaya, dan kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya.

Pemahaman tersebut relevan dengan karakteristik Papua yang memiliki keragaman masyarakat, adat, dan budaya. Karena itu, membangun kepercayaan dan membuka ruang dialog menjadi aspek penting dalam mendukung keberlanjutan kegiatan usaha.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Cenderawasih, Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., menyambut baik penyelenggaraan program Eksekutif Mengajar. Ia menilai kesempatan belajar langsung dari praktisi industri memberikan pengalaman dan wawasan yang berharga bagi mahasiswa.

Baca Juga :  Dukung Kesehatan Papua, Freeport Lengkapi RS Waa Banti dengan Dapur dan Oksigen

Menurutnya, pengetahuan praktis yang dibagikan oleh para eksekutif dapat melengkapi pembelajaran akademik yang diperoleh mahasiswa selama mengikuti perkuliahan.

“Saya berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan momentum belajar langsung dengan praktisi eksekutif PTFI ini sebaik-baiknya sebagai bekal berharga sebelum memasuki dunia kerja,” katanya.

Program ini sekaligus membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenali kompetensi yang dibutuhkan industri, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dengan pemahaman yang lebih luas.

Bagi mahasiswa Fakultas Teknik, paparan langsung dari praktisi memberikan gambaran mengenai perkembangan teknologi, standar profesional, serta tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan pertambangan modern.

Eksekutif Mengajar merupakan bagian dari upaya mempertemukan lingkungan akademik dengan pengalaman praktis dunia industri. Melalui interaksi langsung dengan jajaran manajemen perusahaan, mahasiswa dapat memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional.

PTFI pertama kali menyelenggarakan program Eksekutif Mengajar di Kampus UNCEN pada 29 April 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Vice President Mining Safety Division PTFI Eman Widijanto dan Vice President Corporate Communication PTFI Katri Krisnati.

Pada penyelenggaraan kedua, materi yang diberikan mencakup aspek teknis operasional dan hubungan dengan masyarakat. Kedua perspektif tersebut memperlihatkan beragam kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan pertambangan modern.

Melalui program ini, mahasiswa UNCEN diharapkan semakin memahami hubungan antara teori akademik dan praktik industri, sekaligus mempersiapkan diri untuk memasuki dunia profesional.

Sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu ruang pembelajaran yang dapat memperkaya pengalaman mahasiswa, memperluas wawasan mereka tentang kebutuhan dunia kerja, serta mendukung pengembangan sumber daya manusia Papua.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Freeport Konfirmasi Penembakan di MP 60 Mimika, Akses Tembagapura Ditutup
Freeport Bekali 1.035 Mahasiswa KKN Uncen Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
PTFI Serahkan Hibah 11 Km Pipa HDPE ke Pemkab Mimika
40 Mama-Mama Kamoro Ikuti Pelatihan Pengolahan Makanan Berbahan Pangan Lokal
Pemkab Mimika, Freeport, dan YPMAK Perkuat Kolaborasi Pastikan Masyarakat Mimika Sejahtera
Freeport dan Masyarakat Kolaborasi Pulihkan Ekosistem Pesisir Mimika
Freeport Gelontorkan Triliunan Rupiah per Tahun untuk Kelola Tailing
Kolaborasi Freeport dan Pemkab Mimika Dalam Peringatan Hari Lingkungan Sedunia Lewat Pameran

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:38 WIT

Freeport Ajak 200 Mahasiswa UNCEN Belajar Teknologi Tambang Modern

Rabu, 2 September 2026 - 14:34 WIT

Freeport Konfirmasi Penembakan di MP 60 Mimika, Akses Tembagapura Ditutup

Kamis, 23 Juli 2026 - 09:53 WIT

Freeport Bekali 1.035 Mahasiswa KKN Uncen Manajemen Keselamatan dan Kesehatan

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:39 WIT

PTFI Serahkan Hibah 11 Km Pipa HDPE ke Pemkab Mimika

Minggu, 21 Juni 2026 - 21:15 WIT

40 Mama-Mama Kamoro Ikuti Pelatihan Pengolahan Makanan Berbahan Pangan Lokal

Berita Terbaru