MIMIKA — Menjelang perayaan Natal, warga di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, masih diliputi trauma akibat rentetan peristiwa penembakan dan penyisiran oleh aparat keamanan.
Kondisi tersebut memaksa sedikitnya 19 kampung dari dua kabupaten—Mimika dan Kabupaten Puncak—mengungsi ke ibu kota distrik sejak 10 Desember 2025.
Warga mendesak agar militer non-organik ditarik demi jaminan rasa aman sehingga mereka dapat kembali ke kampung halaman dan merayakan Natal bersama keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu disampaikan oleh Ketua Aliansi Pemuda Amungsa (APA), Hellois Kemong, kepada Galeripapua.com via telpon WhatsApp, Minggu (14/12/2025) malam.
Hellois menuturkan bahwa situasi Distrik Jila sebelumnya relatif kondusif. Gangguan keamanan itu pun mulai dirasakan sejak akhir Oktober 2025.
“Jadi kronologinya pada saat itu tanggal 29 Oktober 2025 kemarin ada kegiatan Raker Klasis. Pada saat itu, semua berjalan baik. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 2025, jam 5 subuh itu ada tembakan,” kata Hellois.
Ia menegaskan, sebelum peristiwa tersebut, Jila tidak memiliki persoalan keamanan yang menonjol. Namun, tembakan itu memicu ketakutan warga, terlebih beredar informasi penambahan pasukan.
“Sebenarnya Jila itu aman. Jila itu tidak ada apa-apa. Persoalannya di sana itu tidak ada,” ujarnya.
Penyisiran 10 Desember Picu Pengungsian
Selepas dari peristiwa itu, ketegangan kembali meningkat pada 10 Desember 2025. Hellois menyebut adanya penyisiran dan penyerangan rumah warga hingga empat kali di sejumlah kampung.
“Situasi saat itu memang sudah tidak ada tembakan. Cuma kemarin tanggal 10 Desember itu memang ada penyisiran terjadi lagi, penyerangan. Penyerangan rumah masyarakat sebanyak empat kali di Kampung Umpliga, Amua Ogom, dan Kampung Bunaraugin. Penyisiran dilakukan oleh TNI-Polri mereka,” tuturnya.
Meski tidak dilaporkan korban jiwa, warga memilih mengungsi karena trauma dan kekhawatiran kekerasan berulang.
Dari Mimika, 10 kampung terdampak, yakni Amua Ogom, Bunaraugin, Diloa, Diloa Dua, Jenkon, Jila, Noemun, Pasir Putih, Pilik Ogom, dan Umpiliga.
Seluruh pengungsi berkumpul di Kampung Jila sebagai ibu kota distrik, menumpang di rumah warga dan honai tanpa tenda pengungsian.
Natal Terancam, Ekonomi Warga Lumpuh
Pengungsian berdampak langsung pada mata pencaharian warga yang bergantung pada berkebun dan beternak. Selain kehilangan akses ke lahan, harta benda dan ternak ikut terancam.
“Sehingga mereka bilang, kami ini harus pulang ke tempat masing-masing untuk bagaimana kita bisa cari makan berkebun dan lain-lain. Sehingga saat ini mereka dalam trauma,” kata Hellois.
Kondisi keamanan juga membuat warga tidak dapat mempersiapkan perayaan Natal.
“Mereka minta bahwa kami ini mau kegiatan Natal, mau sama-sama dengan keluarga dan lain-lain tapi saat ini kami belum aman.”
RDP dengan DPR dan Pemerintah Dinilai Belum Tuntas
Sebelumnya, upaya penyelesaian sempat dilakukan melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara warga, DPRK Mimika, dan pemerintah pada 4 November 2025. Namun, hasilnya dinilai belum menjawab persoalan utama.
“Waktu itu mereka duduk RDP di tanggal 4 November 2025. Namun Pemerintah hanya bantu sembako. Tapi kita tidak bisa jamin dengan sembako saja karena tidak setiap hari pemerintah mungkin bantu,” ujarnya.
Menurut Hellois, warga menuntut lebih dari sekadar bantuan logistik. Mereka meminta jaminan keamanan konkret, termasuk penarikan militer non-organik, agar dapat kembali hidup normal di kampung masing-masing.
Total 19 Kampung dari Dua Kabupaten
Lebih lanjut Hellois menyampaikan bahwa selain 10 kampung di Mimika, terdapat 9 kampung dari Kabupaten Puncak yang turut mengungsi karena kedekatan wilayah dan dampak situasi keamanan. Seluruhnya kini berada di ibu kota Distrik Jila.
Hellois meminta pemerintah dan DPR tidak menyamaratakan kondisi keamanan Mimika.
“Pemerintah harus menanggapi ini. Jangan selalu bilang Mimika aman, tapi bagian pegunungan ini kan saat ini di Jila tidak aman,” tandasnya.
Hingga kini, kata Hellois, warga masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu tindak lanjut nyata dari hasil RDP. Mereka berharap situasi segera kondusif agar dapat kembali ke kampung halaman dan merayakan Natal dengan aman dan damai.










