Dari Merauke, PGI Tegas Menolak PSN dan Militerisasi di Papua Selatan

Endy Langobelen

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tegas menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. PGI)

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tegas menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. PGI)

MERAUKE — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menutup Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Tahun 2026 dengan sikap tegas menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, Papua Selatan, serta mengecam menguatnya kecenderungan militerisme dan otoritarianisme yang dinilai mengancam hak masyarakat adat dan demokrasi.

Penegasan sikap tersebut disampaikan seusai ibadah penutupan Sidang MPL-PGI 2026 di Ballroom Hotel Swiss-Belinn Merauke, pada 2 Februari 2026.

Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, mengatakan bahwa keputusan Sidang MPL lahir dari keprihatinan mendalam gereja-gereja terhadap krisis keadilan ekologis yang terus berulang di Papua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut PGI, kerusakan lingkungan, tumpang tindih tata kelola hutan dengan wilayah adat, serta kegagalan berbagai proyek pangan di masa lalu menjadi alarm serius yang tidak bisa diabaikan.

Pembangunan kembali food estate dalam skala sangat luas di Merauke dinilai berpotensi memperparah ketidakadilan ekologis sekaligus melahirkan persoalan sosial baru bagi masyarakat adat.

Sidang MPL tahun ini sengaja digelar di Merauke agar para peserta tidak hanya membahas isu dari balik ruang sidang, tetapi mengalami langsung realitas Papua.

Baca Juga :  Aksi Mimbar Bebas, KNPB Timika Soroti Isu Kemanusiaan di Papua

PGI ingin para peserta “melihat, mendengar, dan menyelami” situasi yang dihadapi masyarakat adat dan gereja-gereja setempat, termasuk keluhan, ratapan, hingga apa yang disebut sebagai “tangisan tanah dan bumi” Papua.

“Setelah melalui kajian, dialog dengan masyarakat adat, Majelis Rakyat Papua, gereja-gereja lokal, serta pengalaman empirik di lapangan, Sidang MPL merekomendasikan dua sikap utama,” ujar Pdt. Jacky Manuputty.

Sikap pertama, PGI secara institusional menyatakan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional yang saat ini berlangsung di Merauke.

PGI, yang menaungi 105 sinode anggota dari Aceh hingga Papua, bersama 30 PGIW serta berbagai lembaga oikumenis, akan membawa sikap tersebut secara resmi kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan.

Sikap kedua, PGI menolak militerisasi dan kecenderungan otoritarianisme yang dinilai melemahkan hak-hak masyarakat, menggerus demokrasi, serta membatasi partisipasi kritis warga, khususnya di Tanah Papua.

PGI juga menegaskan bahwa sikap tersebut bukan berdiri di menara gading institusi gereja, melainkan lahir dari proses belajar dan keberpihakan pada suara akar rumput.

Baca Juga :  HMI dan Perannya Mewujudkan Pendidikan Tanpa Kekerasan Seksual

Dukungan penuh diberikan kepada masyarakat adat Papua Selatan yang selama ini menyuarakan penolakan terhadap PSN.

“Ini bukan sikap institusional yang berdiri sendiri. Kami belajar dari masyarakat, berbicara dengan MRP, dengan mama-mama, dan berdiri bersama mereka,” tegas Pdt. Jacky.

Sebagai langkah lanjutan, PGI berencana meminta pertemuan langsung dengan pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto.

Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan sikap resmi Sidang MPL sekaligus membuka ruang dialog yang jujur dan setara antara negara, gereja-gereja, dan komponen masyarakat Papua.

PGI menegaskan bahwa sikap profetik gereja mungkin tidak selalu langsung membuahkan hasil, namun suara tersebut harus tetap disampaikan sebagai tanggung jawab iman dan moral.

“Waktu akan membuktikan hasilnya. Tetapi ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, kami ingin menegaskan: gereja-gereja sudah berbicara,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya Sidang MPL-PGI 2026 di Merauke, PGI kembali meneguhkan komitmen oikumenisnya untuk memperjuangkan keadilan ekologis, melindungi hak-hak masyarakat adat, serta merawat demokrasi melalui suara kenabian gereja-gereja di Indonesia—sebuah suara yang lahir dari Tanah Papua dan ditujukan bagi seluruh bangsa.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News
KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua
OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya
Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando
Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua
Ahli Pers Minta Sengketa Bupati Mimika dan Media Ditempuh Lewat UU Pers
Keluarga Korban Pembunuhan di Mimika Desak Polisi dan Kejaksaan Beri Kepastian Hukum
Tahun Ini Korban Konflik Bersenjata di Papua Tembus 163 Orang, Komnas HAM Minta Presiden Bentuk Tim Khusus

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIT

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News

Rabu, 30 September 2026 - 15:35 WIT

KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua

Minggu, 27 September 2026 - 23:25 WIT

OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya

Kamis, 24 September 2026 - 13:39 WIT

Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando

Rabu, 23 September 2026 - 20:12 WIT

Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua

Berita Terbaru

Jajaran Pemda Mimika dalam kegiatan upacara HUT ke-30 Kabupaten Mimika di halaman Kantor Pusat Pemerintahan, Jalan Poros SP3, Timika, Papua Tengah, Senin (12/10/2026). (Foto: Galeri Papua/Fernando Rio)

Pemerintahan

HUT ke-30 Mimika, Bupati Minta OPD Evaluasi Program Pembangunan

Senin, 12 Okt 2026 - 13:23 WIT