NABIRE — Lantunan puisi menggema dari Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Kamis (7/8/2025), saat puluhan peserta dari berbagai kalangan usia tampil dalam Lomba Membaca Puisi yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah.
Agenda ini merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.
Lomba ini terbuka untuk umum dan dibagi menjadi tiga kategori: anak-anak, remaja, dan dewasa.
Masing-masing peserta membacakan puisi bertema nasionalisme, persatuan, dan semangat kebangsaan, menjadikannya wadah ekspresi seni yang penuh makna di tengah perayaan kemerdekaan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas, Pit Hendrik Nawipa, yang hadir mewakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah.
Dalam sambutannya, Nawipa menekankan bahwa peringatan kemerdekaan bukan sekadar ritual tahunan.
“Momen peringatan 80 tahun kemerdekaan bukan sekadar seremoni rutin, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan dan semangat persatuan yang diwariskan para pahlawan bangsa,” ujarnya.
Ia menyebut puisi sebagai salah satu bentuk seni yang mampu menghidupkan kembali semangat perjuangan dalam narasi yang menyentuh hati.
“Melalui lomba puisi ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat perjuangan dalam bentuk yang kreatif dan inspiratif melalui kata-kata, suara hati, dan ekspresi sastra anak-anak bangsa, khususnya dari Tanah Papua Tengah,” ucapnya.
Lomba ini, lanjut Nawipa, tak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang ekspresi untuk pelajar dan masyarakat luas dalam menyuarakan cinta tanah air dan harapan untuk masa depan bangsa.
“Teruslah berkarya dan jadilah pribadi yang membawa perubahan positif – baik dalam dunia seni, pendidikan, maupun dalam membangun karakter bangsa,” katanya memberi semangat kepada peserta.
Ucapan terima kasih juga dilayangkan kepada para dewan juri yang bertugas menilai karya-karya peserta. Dedikasi dan integritas mereka, kata Nawipa, menjadi bagian penting dari suksesnya acara.
Seremoni pembukaan ditutup dengan pekik semangat dari Nawipa. “Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Jayalah Indonesia, Jayalah Papua Tengah!”
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda Papua Tengah tak sekadar menjadi penonton dalam panggung sejarah, tetapi turut memberi warna dalam perjalanan bangsa melalui karya sastra yang menyuarakan harapan, kritik, dan semangat persatuan.
















