Galeripapua, Jayapura – Universitas Cenderawasih menggandeng Rumapapua Kombucha sebagai dosen tamu dalam mata kuliah pengembangan bahan alam dan inovasi produk. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya kampus memperkenalkan potensi bahan alam Papua kepada mahasiswa melalui pendekatan praktik dan kewirausahaan.
Implementasi kolaborasi dilakukan melalui pengajaran langsung antara Universitas Cenderawasih dan Rumapapua Kombucha. FMIPA UNCEN menekankan bahan alam sebagai sumber identitas Papua serta hasil eksplorasi berbagai tumbuhan di tanah Papua, sementara Rumapapua Kombucha memberikan perspektif pengolahan bahan alam menjadi produk bernilai ekonomi yang berkualitas dan berstandar nasional
Owner Kombucha Rumapapua, Dian Lestari, mengatakan dirinya tidak hanya mengajar, tetapi juga terlibat dalam penilaian mahasiswa dalam mata kuliah Farmakognosi. “Bertujuan membangkitkan semangat mahasiswa agar mengenali dan mengembangkan potensi besar bahan alam yang ada di sekitar mereka, khususnya Papua,” kata Dian kepada Galeripapua, Rabu, 13 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dian menyebut di Tanah Papua terdapat setidaknya 20.000 jenis tanaman dengan 55 persen di antaranya merupakan spesies endemik. Kekayaan tersebut menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi berbasis riset dan kewirausahaan.
Pemenang International Halal Chef Competition (IN2HCC) 2025 itu juga memperkenalkan konsep bioculture diversity, yang menekankan keterkaitan antara alam, manusia, flora, fauna, dan warisan budaya. Dian menilai, ketidakseimbangan ekosistem dapat berdampak pada hilangnya pengetahuan lokal dan identitas budaya. “Kalau alam rusak, maka budaya juga ikut hilang,” ujarnya.
Dian menjelaskan, Diplomasi gastronomi dan proteksi kekayaan intelektual geografis itu penting. Setiap bahan alam harus jelas jejaknya, dari mana asalnya, dan harus didukung penelitian, inovasi, serta jejak digital supaya tidak diklaim atau diakui pihak lain. “Contoh buah merah sudah dipatenkan di Jerman dengan nama Red Fruit Oil BM9. Ini jadi pelajaran bahwa kalau kita tidak dokumentasikan dan kembangkan, kita bisa kehilangan hak atas kekayaan kita sendiri,” ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, lanjut Dian, pembelajaran diharapkan tidak hanya memperkenalkan bahan alam Papua, tetapi juga mendorong mahasiswa memahami potensi ekonomi, riset, dan perlindungan identitas daerah berbasis inovasi. “Saya berharap mahasiswa tidak hanya melihat sebagai tanaman saja, tetapi melihatnya sebagai peluang riset, produk, peluang bisnis, dan menjaga identitas Papua,” kata Dian.
Dosen Farmasi FMIPA Universitas Cenderawasih, Septriyanto Dirgantara, mengatakan pengenalan bahan alam Papua kepada mahasiswa dinilai penting karena generasi muda merupakan penerus yang perlu memahami kekayaan hayati daerahnya.
“Generasi sekarang yang kita kenal sebagai Gen Z banyak yang belum menyadari bahwa Papua memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa, termasuk budaya menjaga kesehatan dan pemanfaatan alam untuk mencegah maupun mengobati penyakit,” kata Septriyanto.
FMIPA Universitas Cenderawasih, kata Septriyanto, telah mengeksplorasi potensi bahan alam Papua bersama sejumlah lembaga, termasuk Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Balai Litbang Biomedis di Papua. “Dari hasil eksplorasi di 29 kabupaten dan kota, kami mengumpulkan 52 kandidat tumbuhan obat yang sudah didokumentasikan dalam bentuk monografi,” ujarnya.
Septriyanto menambahkan, saat ini fokus penelitian diarahkan pada pengembangan sarang semut dan buah merah sebagai dua bahan alam unggulan yang dikembangkan menjadi produk turunan bernilai ekonomi. “Ke depan, tugas kami sebagai dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, kami bekerja sama dengan pelaku usaha karena diminta masukan dari akademisi untuk mendesain dan berinovasi dalam menyiapkan produk bernilai ekonomi tinggi yang tetap memenuhi standar Badan BPOM,” tuturnya.






















