UNCEN-Rumapapua Kenalkan Inovasi Produk Bahan Alam Papua

Ikbal Asra

Rabu, 13 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Cenderawasih mengikuti kelas inovasi produk bahan alam Papua bersama UMKM Rumapapua Kombucha dalam mata kuliah Farmakognosi di Jayapura, Rabu, 13 Mei 2026. Galeripapua/Istimewa

Mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Cenderawasih mengikuti kelas inovasi produk bahan alam Papua bersama UMKM Rumapapua Kombucha dalam mata kuliah Farmakognosi di Jayapura, Rabu, 13 Mei 2026. Galeripapua/Istimewa

Galeripapua, Jayapura – Universitas Cenderawasih menggandeng Rumapapua Kombucha sebagai dosen tamu dalam mata kuliah pengembangan bahan alam dan inovasi produk. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya kampus memperkenalkan potensi bahan alam Papua kepada mahasiswa melalui pendekatan praktik dan kewirausahaan.

Implementasi kolaborasi dilakukan melalui pengajaran langsung antara Universitas Cenderawasih dan Rumapapua Kombucha. FMIPA UNCEN menekankan bahan alam sebagai sumber identitas Papua serta hasil eksplorasi berbagai tumbuhan di tanah Papua, sementara Rumapapua Kombucha memberikan perspektif pengolahan bahan alam menjadi produk bernilai ekonomi yang berkualitas dan berstandar nasional

Owner Kombucha Rumapapua, Dian Lestari, mengatakan dirinya tidak hanya mengajar, tetapi juga terlibat dalam penilaian mahasiswa dalam mata kuliah Farmakognosi. “Bertujuan membangkitkan semangat mahasiswa agar mengenali dan mengembangkan potensi besar bahan alam yang ada di sekitar mereka, khususnya Papua,” kata Dian kepada Galeripapua, Rabu, 13 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dian menyebut di Tanah Papua terdapat setidaknya 20.000 jenis tanaman dengan 55 persen di antaranya merupakan spesies endemik. Kekayaan tersebut menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi berbasis riset dan kewirausahaan.

Baca Juga :  Didesain Umat Kristen, Ini Makna Logo MTQ XXX Se-Papua

Pemenang International Halal Chef Competition (IN2HCC) 2025 itu juga memperkenalkan konsep bioculture diversity, yang menekankan keterkaitan antara alam, manusia, flora, fauna, dan warisan budaya. Dian menilai, ketidakseimbangan ekosistem dapat berdampak pada hilangnya pengetahuan lokal dan identitas budaya. “Kalau alam rusak, maka budaya juga ikut hilang,” ujarnya.

Dian menjelaskan, Diplomasi gastronomi dan proteksi kekayaan intelektual geografis itu penting. Setiap bahan alam harus jelas jejaknya, dari mana asalnya, dan harus didukung penelitian, inovasi, serta jejak digital supaya tidak diklaim atau diakui pihak lain. “Contoh buah merah sudah dipatenkan di Jerman dengan nama Red Fruit Oil BM9. Ini jadi pelajaran bahwa kalau kita tidak dokumentasikan dan kembangkan, kita bisa kehilangan hak atas kekayaan kita sendiri,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, lanjut Dian, pembelajaran diharapkan tidak hanya memperkenalkan bahan alam Papua, tetapi juga mendorong mahasiswa memahami potensi ekonomi, riset, dan perlindungan identitas daerah berbasis inovasi. “Saya berharap mahasiswa tidak hanya melihat sebagai tanaman saja, tetapi melihatnya sebagai peluang riset, produk, peluang bisnis, dan menjaga identitas Papua,” kata Dian.

Dosen Farmasi FMIPA Universitas Cenderawasih, Septriyanto Dirgantara, mengatakan pengenalan bahan alam Papua kepada mahasiswa dinilai penting karena generasi muda merupakan penerus yang perlu memahami kekayaan hayati daerahnya.

Baca Juga :  Mahasiswa West Papua Tuntut Pendidikan Gratis di Tanah Papua

“Generasi sekarang yang kita kenal sebagai Gen Z banyak yang belum menyadari bahwa Papua memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa, termasuk budaya menjaga kesehatan dan pemanfaatan alam untuk mencegah maupun mengobati penyakit,” kata Septriyanto.

FMIPA Universitas Cenderawasih, kata Septriyanto, telah mengeksplorasi potensi bahan alam Papua bersama sejumlah lembaga, termasuk Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Balai Litbang Biomedis di Papua. “Dari hasil eksplorasi di 29 kabupaten dan kota, kami mengumpulkan 52 kandidat tumbuhan obat yang sudah didokumentasikan dalam bentuk monografi,” ujarnya.

Septriyanto menambahkan, saat ini fokus penelitian diarahkan pada pengembangan sarang semut dan buah merah sebagai dua bahan alam unggulan yang dikembangkan menjadi produk turunan bernilai ekonomi. “Ke depan, tugas kami sebagai dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, kami bekerja sama dengan pelaku usaha karena diminta masukan dari akademisi untuk mendesain dan berinovasi dalam menyiapkan produk bernilai ekonomi tinggi yang tetap memenuhi standar Badan BPOM,” tuturnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Resmikan Asrama Rp12 Miliar di Timika, Bupati Intan Jaya Fokus Bangun SDM
DPRK Temukan Asrama Putri Mamberamo Raya Terbengkalai sejak 2023
Freeport Pacu SDM Papua Kuasai AI, Pelatihan di Timika Diserbu Ratusan Peserta
Polsek Mimika Baru Masuk SD, Tekan Kasus Bullying Sejak Dini
Sentra Pendidikan Mimika Butuh Intervensi Pemprov Hingga Pemerintah Pusat
Jalan Sunyi Polisi Kawan Pendidikan di Kapiraya
Wapres Tinjau Sentra Pendidikan Mimika, Sekolah Asrama Khusus OAP
Data Dapodik Bermasalah, Distribusi MBG di Mimika Kacau

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 17:47 WIT

Resmikan Asrama Rp12 Miliar di Timika, Bupati Intan Jaya Fokus Bangun SDM

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:02 WIT

DPRK Temukan Asrama Putri Mamberamo Raya Terbengkalai sejak 2023

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:51 WIT

UNCEN-Rumapapua Kenalkan Inovasi Produk Bahan Alam Papua

Kamis, 30 April 2026 - 21:37 WIT

Freeport Pacu SDM Papua Kuasai AI, Pelatihan di Timika Diserbu Ratusan Peserta

Senin, 27 April 2026 - 16:31 WIT

Polsek Mimika Baru Masuk SD, Tekan Kasus Bullying Sejak Dini

Berita Terbaru