YAHUKIMO – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung jawab atas penembakan terhadap tiga warga yang dituding sebagai intelijen aparat Indonesia serta seorang anggota Polri di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Senin (20/7/2026).
Klaim tersebut disampaikan melalui siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM tertanggal 21 Juli 2026. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa aksi dilakukan oleh pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo bersama TPNPB Kodap III Ndugama Derakma Batalyon Wesem.
Selain siaran pers, Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, juga menyebarkan sebuah video berdurasi 4 menit 10 detik yang memperlihatkan sejumlah anggota TPNPB bersenjata api, panah, dan parang berdiri di belakang dua orang, seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang dituding sebagai agen intelijen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam video tersebut, kedua korban tampak duduk dalam kondisi pasrah. Korban laki-laki sempat mengangkat tangan dan memberi isyarat memohon agar tidak ditembak. Namun, sesaat kemudian ia ditembak di bagian kepala hingga meninggal dunia di lokasi.
Korban perempuan kemudian mengalami nasib serupa. Ia ditembak dari arah belakang hingga tersungkur.
Eksekusi terhadap kedua korban dilakukan oleh Almarhum Giban selaku pimpinan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma Batalyon Wesem.
“…. Lawan musuh itu sabar (dulu), itu hal biasa. Orang yang jual saya tu orang Banpol ini, Banpol di Kota Yahukimo. Jadi ini, hari ini, hari Selasa, saya tembak Banpol. Jadi Banpol ini sudah, sekarang saya ada tembak ini,” ujar Almarhum Giban dalam video sesaat sebelum melakukan eksekusi.
Sementara itu, anggota pasukan khusus TPNPB, Akar Heluka, menyatakan bahwa pria yang ditembak merupakan mantan anggota TPNPB yang telah berkhianat dan menjadi intelijen aparat Indonesia.
“Mata-mata intelijen di Yahukimo dari 2024 hingga 2026 ini pelaku operasi, pelakunya ada dua orang. Ini benar-benar, saya pasukan khusus Akar Heluka,” tuturnya setelah proses eksekusi.
Pernyataan serupa juga disampaikan Bazoka Meage yang mengaku telah lama memantau keberadaan pihak-pihak yang disebut sebagai intelijen aparat di Yahukimo.
“Yang pasang Banpol-banpol di Yahukimo, saya sudah mulai (pantau) itu. Jaga dia, tembak, saya lihat tembak, musuh itu sasar di belakang baru maju. Saya sudah mulai kemarin, saya tembak,” tegasnya.
Dalam siaran pers tersebut, TPNPB juga mengklaim telah menembak seorang perempuan lainnya pada hari yang sama dengan tuduhan sebagai agen intelijen aparat Indonesia.

Dengan demikian, jumlah korban yang mereka klaim telah dieksekusi mencapai tiga orang, terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki. Identitas para korban tidak disebutkan.
“Hal tersebut kami lakukan karena kami telah memiliki bukti-bukti yang kuat atas keterlibatan mereka bersama aparat militer Indonesia sehingga mengakibatkan sejumlah pasukan TPNPB gugur dalam operasi yang dilancarkan oleh tentara dan polisi Indonesia ke basis TPNPB,” ujar Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, dalam siaran pers tertulis.
Ia juga mengeluarkan ancaman kepada masyarakat agar tidak terlibat sebagai intelijen aparat Indonesia.
“Kepada masyarakat Yahukimo, pemuda, pemudi, hamba Tuhan, ASN hingga anak-anak sekolah dan seluruh rakyat Papua di Yahukimo bahwa TPNPB Kodap XVI Yahukimo siap eksekusi mati orang Papua yang terlibat sebagai agen intelijen militer Pemerintah Indonesia di wilayah perang di Yahukimo,” tegasnya.
“Entah Banpol, Komcad, dan seluruh satuan intelijen militer Indonesia yang telah masuk di tengah-tengah masyarakat, kami siap eksekusi mati jika kedapatan. Dan ketiga agen intelijen militer Indonesia yang kami sudah eksekusi mati itu sebagai peringatan penting terhadap orang asli Papua untuk tidak terlibat dengan aparat militer Indonesia dalam medan perang di Yahukimo,” imbuhnya.
Selain mengklaim penembakan terhadap tiga warga, TPNPB juga menyatakan bertanggung jawab atas tewasnya Brigpol Fredi Lukas Awes, personel BKO Satgas Tindak Operasi Damai Cartenz-2026, yang diserang pada malam hari di Yahukimo.
“Penembakan tersebut kami siap bertanggung jawab. Sehingga disampaikan kepada aparat militer Indonesia untuk tidak melakukan operasi serta penangkapan dan penembakan terhadap warga sipil dengan sembarangan. Jika mau kejar silakan datang ke markas TPNPB,” kata Kopitua Heluka.

Dalam pernyataan yang sama, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga mengeluarkan ancaman kepada maskapai penerbangan sipil yang beroperasi di wilayah konflik agar tidak digunakan untuk mengangkut personel maupun logistik militer.
“Jika hal tersebut tidak di indahkan maka kami siap tembak seluruh penerbangan sipil yang memasuki wilayah operasi TPNPB,” tegas Sebby Sambom.
Mereka meminta aparat militer menggunakan pesawat atau helikopter militer untuk kepentingan operasi maupun evakuasi personel.
“Korban dari aparat militer Indonesia yang jatuh dalam medan perang silakan dievakuasi menggunakan pesawat atau helikopter militer. Jangan menggunakan pesawat sipil lalu melakukan aktivitas militer. Jika hal tersebut tidak diindahkan, maka pilot-pilot siap dieksekusi dan pesawat siap dibakar,” tandasnya.
“Hal tersebut kami lakukan demi menegakkan hukum humaniter internasional dalam konflik bersenjata Non Internasional di Tanah Papua melawan aparat militer Indonesia demi merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua pada 1 Desember 1961,” pungkasnya.







