Peternak Babi Mimika Keluhkan Ternak Menumpuk, Biaya Pakan Terus Berjalan

Rachmat Julaini

Kamis, 13 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika, Calvin Arrung, memberikan keterangan soal keluhan peternak babi atas beredarnya daging dari luar sedangkan daging peternak lokal tidak terserap. Kamis (13/8/2026). (Foto: Galeri Papua/Rachmat Julaini)

Ketua Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika, Calvin Arrung, memberikan keterangan soal keluhan peternak babi atas beredarnya daging dari luar sedangkan daging peternak lokal tidak terserap. Kamis (13/8/2026). (Foto: Galeri Papua/Rachmat Julaini)

MIMIKA – Peternak babi di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mengaku berada dalam kondisi serba sulit karena ternak yang telah siap dijual terus menumpuk di kandang, sementara biaya pakan dan pemeliharaan harus tetap dikeluarkan setiap hari.

Ketua Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika, Calvin Arrung, mengatakan kondisi tersebut membuat peternak terpaksa menjual ternaknya dengan harga rendah karena tidak memiliki kepastian pasar.

“Babi terus bertambah besar, tetapi tidak terjual. Kita tetap harus membeli pakan. Kalau sudah terlalu besar, akhirnya tidak ekonomis lagi dan kita terpaksa jual rugi,” kata Calvin di Kantor DPRD Mimika, Kamis (13/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena hal tersebut, dirinya dan ratusan anggota Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika berencana membahas hal tersebut pada hari ini dengan DPRK Mimika dalam rapat dengar pendapat (RDP).

Menurutnya, persoalan pemasaran tersebut telah berlangsung sekitar dua tahun setelah munculnya penyakit pada ternak babi yang kemudian diikuti kebijakan pembatasan pengiriman.

Calvin menyebut sekitar 400 kepala keluarga yang berada dalam komunitas peternak yang selama ini dibina koperasi menghadapi persoalan serupa.

Ia mengatakan dampak persoalan tersebut tidak hanya dirasakan peternak, tetapi juga keluarga yang menggantungkan biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari dari hasil beternak babi.

Baca Juga :  Bantu Atasi Lonjakan Harga, Denkav 3/SC Gelar Pasar Murah di Timika

“Banyak Mama-Mama yang menyekolahkan anak dari hasil beternak babi. Kalau ternak tidak bisa dijual, bagaimana mereka membiayai kebutuhan keluarga?” tanya Calvin.

Calvin juga menyoroti masih masuknya daging babi beku dari luar daerah ketika stok ternak lokal di Mimika melimpah.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat perputaran uang masyarakat Mimika justru mengalir ke daerah lain.

“Kita punya daging di Timika, tetapi uang justru dikirim keluar untuk membeli dari daerah lain. Padahal kalau produksi lokal diserap, uangnya berputar di sini dan menghidupkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, anggota Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika, Steven Rantung, mengatakan harga pakan saat ini terus naik, sementara ketersediaannya juga kerap tidak mencukupi kebutuhan peternak.

“Pakan setiap kali masuk distributor harganya naik terus, sementara harga daging justru turun. Ini tidak logis. Harusnya ada penyeimbang dan pemerintah melakukan pengawasan,” keluh Steven.

Menurutnya, harga pakan untuk jenis tertentu kini telah mencapai lebih dari Rp600 ribu per 50 kilogram dan bahkan mendekati Rp700 ribu.

Kondisi tersebut, diakuinya membuat biaya pemeliharaan babi semakin berat, terutama ketika peternak kesulitan mendapatkan pakan akibat stok yang sering kosong.

Ia meminta pemerintah tidak mengambil pakan dari distributor yang seharusnya menjadi tempat peternak mendapatkan kebutuhan pakan.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih Atuka Jadi Pilot Project Penguatan Ekonomi Pesisir Mimika

“Pemerintah seharusnya meminta perusahaan mengirim langsung dan bukan mengambil dari distributor sehingga peternak yang sudah antre justru tidak mendapatkan pakan,” harapnya.

Steven mengatakan kelangkaan pakan berpotensi membuat peternak mencari alternatif pakan yang tidak sesuai standar, termasuk memanfaatkan sisa makanan atau sumber pakan lainnya.

Di sisi lain, harga daging babi di tingkat peternak disebut berada di kisaran Rp100 ribu, sehingga tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memelihara ternak.

Menurut Steven, persoalan semakin pelik karena kapasitas kandang peternak telah melebihi kondisi normal. Ia mencontohkan kandangnya yang idealnya hanya menampung sekitar 50 hingga 60 ekor, kini harus menampung lebih dari 100 ekor.

“Sudah disekat-sekat karena ternak terus bertambah, sementara pengiriman ke luar daerah dikunci,” katanya.

Steven menilai kondisi tersebut terjadi karena kebijakan pemerintah sebelumnya mendorong peningkatan populasi ternak, namun tidak diikuti dengan kepastian pasar.

“Peternak berkurang, tetapi babi justru membludak di Timika. Sementara pengiriman ke luar daerah dibatasi,” ujarnya.

Ia mengatakan tekanan ekonomi membuat sejumlah peternak terpaksa mencari pinjaman untuk mempertahankan usahanya.

“Kami sudah melakukan pinjaman ke kiri-kanan, termasuk pinjaman di bank untuk melanjutkan usaha,” terang Steven.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Pertama Ganjil-Genap Biosolar di Mimika Picu Penumpukan Truk
604 Ton CPO Dikirim dari Mimika, Industri Sawit PT KBV Mulai Bergerak
Mulai Besok, Pemkab Mimika Terapkan Sistem Ganjil Genap Pengisian Biosolar di SPBU
Jaga Daya Beli Warga, Pemkab Mimika Hadirkan Operasi Pangan Murah
Emas dan Angkutan Udara Picu Inflasi Mimika Juli 2026 Tembus 3,28 Persen
Ikan Tongkol dari Fakfak Masuk Mimika Dipastikan Aman Konsumsi
Tembus Pasar Global: Papua Tengah Cetak Sejarah Ekspor Perdana 42 Ton Ikan Bawal ke Malaysia
UMKM Mimika Naik Kelas, Noken Kreatif Tembus Onboarding Bank Indonesia 2026

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 17:15 WIT

Peternak Babi Mimika Keluhkan Ternak Menumpuk, Biaya Pakan Terus Berjalan

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:10 WIT

Hari Pertama Ganjil-Genap Biosolar di Mimika Picu Penumpukan Truk

Senin, 10 Agustus 2026 - 19:44 WIT

604 Ton CPO Dikirim dari Mimika, Industri Sawit PT KBV Mulai Bergerak

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:20 WIT

Mulai Besok, Pemkab Mimika Terapkan Sistem Ganjil Genap Pengisian Biosolar di SPBU

Rabu, 5 Agustus 2026 - 20:33 WIT

Jaga Daya Beli Warga, Pemkab Mimika Hadirkan Operasi Pangan Murah

Berita Terbaru

Lanal Timika menggelar berbagai perlombaan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Salah satu perlombaannya yaitu panjat pinang. (Foto: Istimewa/Dok. Lanal Timika)

Event

Lanal Timika Semarakkan HUT Ke-81 RI dengan Beragam Lomba

Kamis, 13 Agu 2026 - 21:42 WIT

Suasana hari pertama Pameran Inovasi Daerah 3 besar pemenang Lomba Inovasi Daerah 2026, di Diana Mall lantai 2, Kamis (13/8/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Pemerintahan

BRIDA Mimika Pamerkan 15 Inovasi Terbaik Hasil Seleksi Daerah

Kamis, 13 Agu 2026 - 21:30 WIT