JAYAPURA – Empat puluh siswa sekolah dasar dari 20 sekolah di seluruh distrik Kota Jayapura mengikuti pelatihan dokter kecil yang digelar Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua. Kegiatan berlangsung di Gedung Pelatihan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Papua dan dijadwalkan berlanjut hingga Rabu besok.
Pelatihan ini merupakan angkatan ke-12 dari program yang berjalan sejak 2013. Masing-masing sekolah mengirimkan dua siswa kelas empat dan lima yang dipilih berdasarkan kriteria kepemimpinan, prestasi akademik, dan rekomendasi guru.
Koordinator LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan, mengatakan materi pelatihan tahun ini mencakup pengelolaan UKS, perilaku hidup bersih dan sehat, kesehatan gigi dan mulut, kecacingan, anemia, dan gizi seimbang. Khusus untuk Papua, peserta juga mendapat materi tentang kebiasaan mengunyah pinang yang lazim ditemukan bahkan pada anak kelas satu SD.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita tahu bahwa di Papua mulai dari anak-anak kecil kelas satu SD itu sudah mulai belajar makan pinang. Bagaimana cara membersihkannya, kemudian yang tidak seperti apa ini mereka dilatih untuk itu,” kata Tumijan kepada GaleriPapua, Rabu 22 Juli 2026.
Tumijan mengungkapkan, ketika LKC pertama masuk ke sekolah-sekolah binaan pada 2014, hasil skrining menunjukkan kecacingan cukup tinggi di kalangan anak sekolah dasar di Kota Jayapura. “Kondisi yang paling mengkhawatirkan waktu itu kita skrining kecacingan. Cukup banyak anak-anak yang kecacingan di Kota Jayapura, bahkan ada yang sampai perutnya buncit,” ujarnya.
Setelah lebih dari satu dekade pendampingan, frekuensi pemeriksaan kecacingan di sekolah binaan turun drastis, dari tiga bulan sekali menjadi setahun sekali. Tumijan menyebut penurunan angka kecacingan dan peningkatan perilaku hidup bersih sebagai pencapaian yang paling terukur dari program ini.
Dari 20 sekolah yang pernah dibina LKC, delapan di antaranya kini sudah mandiri dan berstatus sekolah Adiwiyata. LKC kemudian mengalihkan pendampingan ke sekolah-sekolah yang dinilai masih paling membutuhkan intervensi. “Yang kita dampingi ini memang betul-betul sekolah pinggiran dan sekolah-sekolah yang perlu sekali bantuan,” sambungnya.
Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, yang membuka kegiatan ini menyebut program dokter kecil sejalan dengan visi pemerintah kota mewujudkan pendidikan dasar yang unggul, produktif, dan berkarakter. Dia berharap peserta yang kembali ke sekolah bisa langsung menunjukkan perubahan perilaku nyata kepada teman-temannya. “Sebelum dilatih mungkin menggunakan botol kemasan, setelah dilatih sudah menggunakan tumbler. Sebelum dilatih belum cuci tangan, setelah dilatih cuci tangan,” kata Rustan.
Rustan juga menekankan bahwa komunikasi antarteman sebaya lebih efektif daripada instruksi dari guru atau orang tua. “Kalau anak itu dengan temannya berkomunikasi, gampang dicerna. Kadang-kadang kita orang tua dan guru ini lambat, tapi kalau dengan teman cepat,” ujarnya.
Kegiatan ini melibatkan delapan instansi di antaranya Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Puskesmas Skow, Puskesmas Abepura, Puskesmas Kotaraja, BPBD Kota Jayapura, BNN Provinsi Papua, dan BPMP Provinsi Papua.
LKC Dompet Dhuafa Papua menargetkan minimal 60 persen dari 40 dokter kecil yang dilatih aktif menjalankan edukasi kesehatan dan mendukung program UKS di sekolah masing-masing setelah pelatihan selesai.







