Menolak Lupa Sejarah: Anak-Anak Sekolah Belajar Warisan Leluhur di Ekowisata Mangrove Pigapu

Ahmad

Senin, 29 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

David Nataime seorang Pemandu Tour Ekowisata Mangrove Pigapi Sedang menjelaskan manfaat Tumbuhan Ndoa atau dalam bahasa indonesia disebut Jeruju (Acanthus ilicifolius) yang digunakan sebagai bahan baku utama Minuman Ndoa kepada murid dan guru SD Negeri Pigapu. (Foto: Istimewa)

David Nataime seorang Pemandu Tour Ekowisata Mangrove Pigapi Sedang menjelaskan manfaat Tumbuhan Ndoa atau dalam bahasa indonesia disebut Jeruju (Acanthus ilicifolius) yang digunakan sebagai bahan baku utama Minuman Ndoa kepada murid dan guru SD Negeri Pigapu. (Foto: Istimewa)

MIMIKA — Di tengah gempuran modernisasi, upaya menjaga kelestarian adat dan sejarah lokal terus digalakkan di Tanah Papua.

Bertempat di Hutan Desa kampung Pigapu, Kamis, 25 Juni 2026, telah sukses dilaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Paket Eduwisata dan Sejarah Mapurumane.

Kegiatan edukatif ini diinisiasi secara kolaboratif oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kampung Pigapubersama Kelompok Pengelola Usaha Ekowisata Mangrove Pigapu. Sasarannya tidak main-main: generasi muda yang menjadi penentu masa depan adat Kamoro.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan Sekadar Dongeng, Sejarah Itu Nyata!

Ketua Kelompok Wisata, Apiriyu Asistony Mapareyau, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk mempertahankan pilar masyarakat hukum adat Suku Kamoro, khususnya di Kampung Pigapu. Melalui paket edukasi ini, sejarah diperkenalkan kembali kepada generasi muda sejak dari bangku sekolah.

“Kami mulai dengan apa yang kami bisa bersama anak-anak kami yang bersekolah di SD Negeri Pigapu. Tujuannya agar mereka bisa melihat langsung warisan leluhur, seperti kampung Lama dan tempat-tempat bersejarah lainnya,” ujar Asistony Mapareyau penuh semangat.

Ia juga menaruh harapan besar agar ke depan, sekolah-sekolahlain hingga tingkat perguruan tinggi dapat berkunjung ke ekowisata Mangrove Pigapu untuk belajar dan menyaksikan langsung potensi warisan leluhur yang masih terjaga.

Senada dengan hal tersebut, Yosep Maita, salah satu Guru SD Negeri Pigapu yang mendampingi siswa dalam kegiatan ini, memberikan apresiasi yang tinggi. Menurutnya, belajar di alam terbuka memberikan dampak yang jauh lebih besar bagianak didiknya.

Baca Juga :  DPMPTSP Mimika Sidak Toko Emas, Temukan Sejumlah Pelanggaran

“Wisata ini penting supaya memperkenalkan anak-anak darimasih di bangku sekolah. Belajar bukan saja di atas kertas atau di dalam kelas, tetapi langsung berinteraksi dengan tempat sejarah dan alam yang indah di sekitar kampung. Cerita yang selama ini mereka dengar bukan lagi sekadar dongeng, tetapi benar-benar ada bukti sejarahnya,” jelasYosep.

Belajar Nilai Ekonomi Mangrove dan Taparu

Tidak hanya belajar sejarah, para guru dan murid juga diajak untuk memahami bagaimana ekosistem mangrove di sekitar mereka memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dikelola dengan baik—seperti yang telah dicontohkan oleh orang tua mereka selama ini.

Didampingi oleh pemandu wisata lokal, peserta dijelaskan secara detail mengenai habitat, fungsi tumbuh-tumbuhan, serta fauna yang diwariskan oleh para leluhur di setiap Taparu (kategori wilayah adat) di Kampung Pigapu.

Dari “Mancing Mania” hingga Menopang Ekonomi Keluarga

Hingga saat ini, Kelompok Usaha Wisata Ekowisata mangrove Pigapu telah memiliki beragam paket wisata menarik yang terus berkembang, di antaranya:

  • Paket Wisata Mancing Mania Pigapu (Paling diminati, dikunjungi 2–3 komunitas mancing setiap minggunya).
  • Paket Eduwisata dan Sejarah Mapurumane.
  • Paket Berburu Keraka (Kepiting) dan Tambelo.
  • Paket Pengamatan Burung.
Baca Juga :  Pendidikan di Kabupaten Puncak Lumpuh Akibat Teror KKB

Kehadiran ekowisata ini terbukti memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga lokal. Pendapatan yang diperoleh menjadi alternatif tambahan yang sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menjadi tabungan pendidikan anak-anak mereka.

Butuh Uluran Tangan Pemerintah untuk Fasilitas pendukung

Meski memiliki potensi yang luar biasa dan dampak ekonomi yang nyata, tantangan besar masih membayangi. Minimnya fasilitas pendukung saat ini menjadi faktor utama yang menghambat pengembangan ekowisata ke depan.

Pihak LPHD dan Kelompok Wisata sangat berharap adanyaperhatian dan dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk meningkatkan sarana dan prasarana (sarpras) pendukung. Sarpras yang memadai akan menjadi modal usaha yang kuat bagi masyarakat lokal ke depannya.

Di akhir kegiatan, penyelenggara menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihakyang selama ini setia mendampingi dan memberikan bantuan, antara lain:

  1. Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Manokwari
  2. Dinas Kehutanan Provinsi
  3. Dinas Pariwisata Kabupaten Mimika
  4. DPRD Kabupaten Mimika
  5. Yayasan Ekologi Sahul Lestari

Dengan kolaborasi yang kuat antara masyarakat adat, pihak sekolah, dan pemerintah, Ekowisata Mangrove Pigapu optimis dapat terus menjadi benteng pertahanan budaya sekaligus motor penggerak ekonomi hijau di Kabupaten Mimika.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SPMB 2026 Dibuka, SMP Negeri 7 Mimika Siapkan Kuota 256 Siswa
Ribuan Pelajar Padati Hari Pertama Pendaftaran SMAN 1 Mimika, Sistem Antrean Membeludak
Kapolda Papua Tengah Resmikan MCK Sekolah di Pulau Karaka
Rumah Pintar Hadir di Pedalaman Puncak Jaya, Buka Akses Belajar Anak-anak Papua
Pendidikan di Waa Banti Mimika Belum Maksimal, Polisi Buka Kelas Darurat
Tiga Tahun Belajar di Luar Papua, Lulusan ADEM Kembali dan Siap Raih Bangku Kuliah
Resmikan Asrama Rp12 Miliar di Timika, Bupati Intan Jaya Fokus Bangun SDM
DPRK Temukan Asrama Putri Mamberamo Raya Terbengkalai sejak 2023

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 09:57 WIT

Menolak Lupa Sejarah: Anak-Anak Sekolah Belajar Warisan Leluhur di Ekowisata Mangrove Pigapu

Senin, 22 Juni 2026 - 14:54 WIT

SPMB 2026 Dibuka, SMP Negeri 7 Mimika Siapkan Kuota 256 Siswa

Senin, 22 Juni 2026 - 14:47 WIT

Ribuan Pelajar Padati Hari Pertama Pendaftaran SMAN 1 Mimika, Sistem Antrean Membeludak

Senin, 15 Juni 2026 - 19:19 WIT

Kapolda Papua Tengah Resmikan MCK Sekolah di Pulau Karaka

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:51 WIT

Rumah Pintar Hadir di Pedalaman Puncak Jaya, Buka Akses Belajar Anak-anak Papua

Berita Terbaru

Pelaku diamankan polisi pada Minggu (28/6/2026) dini hari. (Foto: Istimewa)

Hukrim

Modus ‘Tempel’ Sabu di Jalan Lanal Timika Terbongkar

Senin, 29 Jun 2026 - 14:19 WIT