MIMIKA — Di tengah gempuran modernisasi, upaya menjaga kelestarian adat dan sejarah lokal terus digalakkan di Tanah Papua.
Bertempat di Hutan Desa kampung Pigapu, Kamis, 25 Juni 2026, telah sukses dilaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Paket Eduwisata dan Sejarah Mapurumane.
Kegiatan edukatif ini diinisiasi secara kolaboratif oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kampung Pigapubersama Kelompok Pengelola Usaha Ekowisata Mangrove Pigapu. Sasarannya tidak main-main: generasi muda yang menjadi penentu masa depan adat Kamoro.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan Sekadar Dongeng, Sejarah Itu Nyata!
Ketua Kelompok Wisata, Apiriyu Asistony Mapareyau, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk mempertahankan pilar masyarakat hukum adat Suku Kamoro, khususnya di Kampung Pigapu. Melalui paket edukasi ini, sejarah diperkenalkan kembali kepada generasi muda sejak dari bangku sekolah.
“Kami mulai dengan apa yang kami bisa bersama anak-anak kami yang bersekolah di SD Negeri Pigapu. Tujuannya agar mereka bisa melihat langsung warisan leluhur, seperti kampung Lama dan tempat-tempat bersejarah lainnya,” ujar Asistony Mapareyau penuh semangat.
Ia juga menaruh harapan besar agar ke depan, sekolah-sekolahlain hingga tingkat perguruan tinggi dapat berkunjung ke ekowisata Mangrove Pigapu untuk belajar dan menyaksikan langsung potensi warisan leluhur yang masih terjaga.
Senada dengan hal tersebut, Yosep Maita, salah satu Guru SD Negeri Pigapu yang mendampingi siswa dalam kegiatan ini, memberikan apresiasi yang tinggi. Menurutnya, belajar di alam terbuka memberikan dampak yang jauh lebih besar bagianak didiknya.
“Wisata ini penting supaya memperkenalkan anak-anak darimasih di bangku sekolah. Belajar bukan saja di atas kertas atau di dalam kelas, tetapi langsung berinteraksi dengan tempat sejarah dan alam yang indah di sekitar kampung. Cerita yang selama ini mereka dengar bukan lagi sekadar dongeng, tetapi benar-benar ada bukti sejarahnya,” jelasYosep.
Belajar Nilai Ekonomi Mangrove dan Taparu
Tidak hanya belajar sejarah, para guru dan murid juga diajak untuk memahami bagaimana ekosistem mangrove di sekitar mereka memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dikelola dengan baik—seperti yang telah dicontohkan oleh orang tua mereka selama ini.
Didampingi oleh pemandu wisata lokal, peserta dijelaskan secara detail mengenai habitat, fungsi tumbuh-tumbuhan, serta fauna yang diwariskan oleh para leluhur di setiap Taparu (kategori wilayah adat) di Kampung Pigapu.
Dari “Mancing Mania” hingga Menopang Ekonomi Keluarga
Hingga saat ini, Kelompok Usaha Wisata Ekowisata mangrove Pigapu telah memiliki beragam paket wisata menarik yang terus berkembang, di antaranya:
- Paket Wisata Mancing Mania Pigapu (Paling diminati, dikunjungi 2–3 komunitas mancing setiap minggunya).
- Paket Eduwisata dan Sejarah Mapurumane.
- Paket Berburu Keraka (Kepiting) dan Tambelo.
- Paket Pengamatan Burung.
Kehadiran ekowisata ini terbukti memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga lokal. Pendapatan yang diperoleh menjadi alternatif tambahan yang sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menjadi tabungan pendidikan anak-anak mereka.
Butuh Uluran Tangan Pemerintah untuk Fasilitas pendukung
Meski memiliki potensi yang luar biasa dan dampak ekonomi yang nyata, tantangan besar masih membayangi. Minimnya fasilitas pendukung saat ini menjadi faktor utama yang menghambat pengembangan ekowisata ke depan.
Pihak LPHD dan Kelompok Wisata sangat berharap adanyaperhatian dan dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk meningkatkan sarana dan prasarana (sarpras) pendukung. Sarpras yang memadai akan menjadi modal usaha yang kuat bagi masyarakat lokal ke depannya.
Di akhir kegiatan, penyelenggara menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihakyang selama ini setia mendampingi dan memberikan bantuan, antara lain:
- Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Manokwari
- Dinas Kehutanan Provinsi
- Dinas Pariwisata Kabupaten Mimika
- DPRD Kabupaten Mimika
- Yayasan Ekologi Sahul Lestari
Dengan kolaborasi yang kuat antara masyarakat adat, pihak sekolah, dan pemerintah, Ekowisata Mangrove Pigapu optimis dapat terus menjadi benteng pertahanan budaya sekaligus motor penggerak ekonomi hijau di Kabupaten Mimika.







