Kasus Malaria Puskesmas Timika Naik 6,4 Persen, Pemeriksaan Diperluas

Endy Langobelen

Rabu, 30 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA – Kasus malaria yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mencapai 4.760 kasus pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat 6,4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 4.472 kasus.

Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung, mengatakan peningkatan tersebut belum menunjukkan lonjakan yang signifikan karena penemuan kasus saat ini juga dipengaruhi pemeriksaan malaria yang semakin aktif.

“Kalau kita bandingkan semester pertama tahun 2025 dengan semester pertama tahun 2026, sebenarnya tidak berbeda jauh. Tahun 2025 ada 4.472 kasus, sedangkan tahun 2026 sebanyak 4.760 kasus,” kata Moses saat ditemui Galeripapua.com di Puskesmas Timika, Rabu (30/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sepanjang 2025, Puskesmas Timika mencatat total 9.862 kasus malaria. Menurut Moses, kasus biasanya mulai meningkat pada September dan Oktober seiring masuknya musim hujan yang memunculkan lebih banyak genangan air sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk.

Namun, pola penemuan kasus pada 2026 turut dipengaruhi perubahan strategi pemeriksaan. Puskesmas tidak hanya menunggu pasien bergejala datang untuk berobat, tetapi secara aktif melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah, sekolah, hingga perkantoran.

“Sekarang lebih banyak yang kami periksa adalah orang yang tidak bergejala. Kami melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah, di sekolah-sekolah, atau pemeriksaan kesehatan yang digabungkan dengan pemeriksaan malaria,” ujarnya.

Perluasan pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari target Pemerintah Kabupaten Mimika untuk melakukan 2 juta pemeriksaan malaria dalam setahun.

Dengan jumlah penduduk Mimika sekitar 300 ribu jiwa, target tersebut secara rata-rata berarti setiap penduduk dapat diperiksa hingga enam kali dalam setahun.

Moses mengatakan semakin luas pemeriksaan dilakukan, semakin banyak pula kasus yang berpotensi ditemukan, termasuk pada orang yang tidak menunjukkan gejala.

“Orang yang sudah sering malaria itu gejalanya menjadi tidak khas. Kadang-kadang ada yang tidak bergejala, tetapi malaria. Nah, itu yang seharusnya kita cari karena biarpun tidak bergejala, dia tetap berpotensi menularkan,” katanya.

Baca Juga :  Jelang Idul Fitri, Pemkab Mimika Ingatkan Pedagang Tak Naikkan Harga Seenaknya

Puskesmas Timika sendiri mendapat target sekitar 400 ribu hingga 500 ribu pemeriksaan. Jumlah itu disebut Moses cukup besar karena wilayah kerja Puskesmas Timika mencakup sekitar 25 persen dari sasaran pemeriksaan malaria Kabupaten Mimika.

“Kalau Puskesmas Timika bagus, akan mendongkrak capaian kabupaten. Tetapi kalau capaiannya jelek, akan berpengaruh sangat besar juga terhadap capaian kabupaten,” ujarnya.

Tropika dan tersiana mendominasi

Berdasarkan jenis parasit, malaria tropika atau Plasmodium falciparum dan malaria tersiana atau Plasmodium vivax menjadi jenis yang paling banyak ditemukan.

Pada semester I 2026, kasus tropika mencapai sekitar 2.200 kasus, sedangkan tersiana sekitar 1.900 kasus. Sementara jenis lainnya seperti malariae, malaria campuran, dan ovale ditemukan dalam jumlah jauh lebih kecil.

Moses mengatakan komposisi tersebut relatif sama dengan kondisi pada 2025.

Untuk kasus malaria berat, hingga September 2026 Puskesmas Timika belum menemukan pasien yang harus dirujuk karena komplikasi malaria. Namun, Moses menyebut kemungkinan pasien dengan kondisi berat langsung mendapatkan pelayanan di rumah sakit tetap ada.

“Yang selama ini kami layani di puskesmas masih cukup dengan malaria tanpa komplikasi,” katanya.

Moses juga menyebut perubahan terapi malaria tersiana menjadi salah satu upaya untuk menekan kasus berulang.

Sebelumnya, pasien malaria tersiana harus mengonsumsi obat selama 14 hari. Menurut Moses, salah satu persoalan yang kerap terjadi adalah pasien berhenti minum obat setelah merasa sehat.

“Biasanya orang minum tiga hari, sudah merasa sehat, tidak mau minum lagi. Padahal harus dihabiskan supaya tidak kambuh,” ujarnya.

Kini, terapi tersiana menggunakan regimen baru dengan masa pengobatan yang dipangkas menjadi tujuh hari, sementara dosis primaquine ditingkatkan menjadi empat tablet per hari sesuai ketentuan pengobatan.

Moses mengatakan sejak program tersebut diterapkan pada awal 2026, pihaknya belum menemukan pasien tersiana yang kembali mengalami kekambuhan dalam waktu kurang dari 48 hari.

Baca Juga :  10 Nakes Mimika Ikuti Konferensi Internasional Neurovaskular

Pencegahan tidak hanya mengandalkan obat

Selain pemeriksaan aktif, Puskesmas Timika menjalankan sejumlah langkah pencegahan bersama Malaria Center dan Dinas Kesehatan Mimika.

Upaya tersebut meliputi promosi kesehatan, pengendalian vektor melalui fogging, survei tempat-tempat yang berpotensi menjadi habitat nyamuk, serta pemberian larvasida pada genangan yang ditemukan memiliki jentik nyamuk.

Masyarakat maupun pemerintah kelurahan dan RT juga dapat mengajukan permintaan fogging melalui Malaria Center Dinas Kesehatan Mimika.

Tim surveilans dan tenaga kesehatan lingkungan Puskesmas Timika secara berkala memeriksa genangan air di wilayah kerja mereka. Jika ditemukan jentik nyamuk yang berpotensi menularkan malaria, lokasi tersebut dipetakan dan ditindaklanjuti.

Menurut Moses, upaya tersebut perlu berjalan bersamaan dengan perubahan perilaku masyarakat.

“Walaupun sebagus apa pun obatnya, selama lingkungannya tidak dikelola, kasusnya akan tetap tinggi,” katanya.

Moses optimistis malaria dapat ditekan hingga hilang dari Mimika. Namun, menurut dia, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, terutama dalam menjaga lingkungan.

“Intinya sebenarnya hanya di pengelolaan lingkungan. Kita sudah tahu penyebabnya dari nyamuk. Bukan berarti kita harus memberantas semua nyamuk, tetapi bagaimana supaya kita tidak tertular dari nyamuk,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah daerah di Pulau Jawa yang masih memiliki nyamuk, tetapi kasus malaria dapat ditekan karena sumber penularannya telah dikendalikan.

“Di Jawa juga banyak nyamuk, tetapi karena bibit malaria-nya sudah dihabiskan, orang digigit nyamuk tidak terkena malaria,” katanya.

Sementara itu, stok obat malaria di Puskesmas Timika hingga saat ini masih aman. Penyaluran obat juga semakin diperketat dan dicatat berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Moses mengatakan pasien yang tidak membawa identitas masih menjadi salah satu kendala administrasi, meskipun pelayanan tetap diberikan. Menurut dia, jumlah pasien malaria yang datang tanpa membawa KTP kini sekitar 20 persen.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kabut Asap Picu Kenaikan Kasus ISPA di Mimika, Dinkes Catat Lebih dari 63 Ribu Penderita
Dinas Kesehatan Mimika Bekali Kader Posyandu Deteksi Dini Penyakit Balita
Dinkes Mimika Genjot Kapasitas Nakes Tekan Kasus Campak dan PD3I
LKC Dompet Dhuafa Papua Akhiri Program Kesehatan Empat Tahun di Holtekamp
67 Kasus Kusta Ditemukan di Mimika hingga Agustus 2026
Menahan Gelombang Malaria di Mimika
Pemkab Mimika Siapkan Tim Percepatan Penanggulangan TBC
Hampir 1 Juta Orang Dites, 116.606 Kasus Malaria Ditemukan di Mimika

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 16:58 WIT

Kabut Asap Picu Kenaikan Kasus ISPA di Mimika, Dinkes Catat Lebih dari 63 Ribu Penderita

Rabu, 30 September 2026 - 16:02 WIT

Kasus Malaria Puskesmas Timika Naik 6,4 Persen, Pemeriksaan Diperluas

Senin, 28 September 2026 - 20:05 WIT

Dinkes Mimika Genjot Kapasitas Nakes Tekan Kasus Campak dan PD3I

Kamis, 24 September 2026 - 12:34 WIT

LKC Dompet Dhuafa Papua Akhiri Program Kesehatan Empat Tahun di Holtekamp

Rabu, 23 September 2026 - 15:11 WIT

67 Kasus Kusta Ditemukan di Mimika hingga Agustus 2026

Berita Terbaru