MIMIKA – Di tengah masifnya isu deforestasi dan eksploitasi hutan, sebuah film bertema lingkungan hadir sebagai pengingat yang menggugah.
Film Teman Tegar Maira – Whisper From Papua resmi diperkenalkan kepada publik Mimika melalui gala premier di Studio 1 XXI Diana Mall Timika, Jumat (16/1/2026).
Ratusan penonton yang memadati studio tampak larut sejak menit awal pemutaran. Hamparan lanskap alam Papua yang ditampilkan berpadu dengan suara alam, menciptakan suasana tenang sekaligus reflektif tentang relasi manusia dan lingkungan.
Film ini digarap oleh entitas kreatif asal Bandung, Aksa Bumi Langit, dengan Anggi Frisca sebagai sutradara. Dua pemeran utama, Elisabet Sisauta dan Muhamad Alfidi Tegarajasa, tampil membawakan karakter yang menjadi jembatan emosional dalam cerita.
Teman Tegar Maira mengajak penonton menyelami Papua melalui sudut pandang yang personal dan humanis. Cerita bergerak perlahan, menampilkan keindahan alam, kehidupan masyarakat adat, serta nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Tema besar pelestarian hutan dan keberlangsungan ekosistem menjadi benang merah film ini. Isu lingkungan disampaikan dengan pendekatan naratif yang lembut, tanpa kesan menggurui, sehingga pesan yang dibawa terasa dekat dan relevan bagi penonton dari berbagai latar belakang.
Film ditutup dengan nuansa kontemplatif yang mengajak penonton merenung tentang hubungan manusia dengan alam—sebuah pesan yang menjadi semakin penting di tengah tekanan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam.
Proses Panjang dan Pelibatan Masyarakat Lokal
Sutradara Anggi Frisca mengungkapkan bahwa proses pembuatan Teman Tegar Maira memakan waktu cukup panjang, yakni sekitar dua setengah tahun, mulai dari riset hingga syuting.

Menurut Anggi, tahapan paling menantang adalah menemukan ide cerita yang tepat, menentukan lokasi, serta memahami kebiasaan dan kehidupan masyarakat adat Papua.
“Sementara untuk proses casting ini mungkin tidak terlalu cepat, tapi yang lama itu mungkin adalah proses pelatihannya, karena kami ingin melibatkan masyarakat lokal yang sepenuhnya untuk menjadi voice of narasi di film ini,” ujarnya.
Kehadiran Anggi dan tim di Mimika merupakan bagian dari rangkaian menuju penayangan resmi film ini secara nasional pada 5 Februari 2026 mendatang. Ia menyebut, proses produksi film ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Papua dan masyarakatnya.
“Saya juga banyak belajar dari masyarakat adat bagaimana Papua dengan kekuatan seninya sungguh sangat luar biasa. Karena bisa dibilang seni yang hadir di sini itu adalah suara-suara dari teman-teman Papua,” tuturnya.
Melalui film ini, Anggi berharap terbangun kembali koneksi antara manusia dan alam, serta tumbuh kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.
Sebab, menurutnya, kerusakan alam bukan hanya soal hilangnya hutan, tetapi juga tentang masa depan manusia itu sendiri.










