MIMIKA – Harga berbagai jenis plastik di Kabupaten Mimika melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dikeluhkan pedagang hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena berdampak langsung pada biaya operasional dan daya beli masyarakat.
Karyawan Toko Yuri Plastik, Andi, mengatakan kenaikan harga terjadi bertahap namun cukup drastis. Dalam waktu singkat, harga plastik bahkan meningkat hingga 70 persen.
“Awalnya naik sekitar 10 persen, lalu seminggu kemudian naik lagi sampai 30 persen. Setelah itu totalnya jadi 70 persen. Dari harga Rp6.000 sekarang bisa mencapai Rp17.000 sampai Rp18.000,” kata Andi saat ditemui pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Andi berkata, lonjakan harga mulai terasa setelah muncul kabar konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta insiden kebakaran pabrik plastik. Kenaikan harga dari distributor di Surabaya turut memperparah kondisi tersebut. Ia menyebutkan plastik kantong atau kresek menjadi jenis yang paling terdampak. “Yang paling parah kresek, naik sampai 70 persen. Kalau botol atau cup masih sekitar 30 sampai 40 persen,” ujarnya.
Kenaikan harga, kata Andi, berdampak pada penurunan jumlah pelanggan. Banyak pembeli memilih membatalkan transaksi setelah mengetahui harga terbaru. “Pelanggan berkurang. Banyak yang tanya harga, tapi tidak jadi beli,” katanya.
Pemilik Toko Sinar Sulawesi Plastik, Hani, menyampaikan hal serupa. Ia menyebut kenaikan harga bahkan mencapai 200 persen untuk beberapa jenis plastik.
“Awalnya naik 50 sampai 60 persen, sekarang sudah sampai 200 persen. Bahkan ada beberapa pabrik yang tutup,” ujarnya.
Hani menilai kelangkaan bahan baku akibat situasi global menjadi faktor utama lonjakan harga. Kondisi tersebut juga berdampak pada distribusi barang yang terhambat, sehingga stok di pasaran semakin terbatas. “Sekarang barang di jalan hampir tidak ada. Kita pesan pun belum tentu tersedia. Kalau stok habis, ya habis,” katanya.
Selain itu, biaya pengiriman juga mengalami kenaikan, meski tidak sebesar harga barang. Ongkos ekspedisi meningkat dari sekitar Rp25 juta menjadi Rp28 juta hingga Rp30 juta.
Sementara, pedagang pasar, Salman, mengatakan kenaikan harga plastik mulai dirasakan meski belum berdampak signifikan terhadap penjualan. Namun, ia mengaku harus mengurangi penggunaan kantong plastik untuk menekan biaya. “Kalau pembeli minta kantong, sekarang kita kurangi. Dulu bisa kasih lebih, sekarang harus hemat karena mahal. Harga kantong plastik kecil yang sebelumnya berkisar Rp15.000 hingga Rp16.000 kini naik menjadi Rp20.000 hingga Rp30.000, tergantung ukuran dan kualitas,” keluhnya.
Lonjakan harga plastik di Kabupaten Mimika tidak hanya membebani pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga berpotensi memicu tekanan inflasi di daerah. Kenaikan harga yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir disebut berkaitan erat dengan dinamika rantai pasok global hingga tingginya biaya distribusi ke wilayah timur Indonesia.
Kenaikan harga bahan baku plastik di Kabupaten Mimika dinilai tidak semata dipengaruhi faktor lokal, tetapi juga merupakan imbas tekanan ekonomi global yang merembet hingga ke daerah.
Dosen Ekonomi STIE JB Mimika, Tuti Fitriani, menilai lonjakan harga plastik yang mencapai sekitar 30 persen perlu dilihat dalam konteks rantai pasok global, fluktuasi harga minyak dunia, serta tingginya biaya distribusi ke wilayah timur Indonesia. “Kenaikan harga bahan baku plastik yang terjadi saat ini bukan semata persoalan lokal, tetapi bagian dari fenomena ekonomi yang lebih luas,” kata Tuti.
Tuti berkata, plastik merupakan produk turunan minyak bumi sehingga sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Setiap kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada biaya produksi plastik.
Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor di sektor petrokimia membuat harga plastik domestik rentan terhadap gangguan pasokan global, seperti konflik geopolitik, hambatan distribusi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.
Tuti menjelaskan kondisi tersebut dalam teori ekonomi dikenal sebagai cost-push inflation atau inflasi dorongan biaya, yakni kenaikan harga yang dipicu meningkatnya ongkos produksi. “Ketika biaya produksi naik, produsen akan menyesuaikan harga jual agar usaha tetap berjalan. Ini yang sekarang terjadi pada komoditas plastik,” ujarnya.
Dalam konteks Mimika, dampak kenaikan harga dinilai lebih besar karena faktor struktural daerah, terutama tingginya biaya logistik. Distribusi bahan baku dari pusat industri di wilayah barat Indonesia menuju Mimika membutuhkan ongkos transportasi besar. Akibatnya, kenaikan harga di tingkat nasional dapat memicu efek berlipat di daerah.
“Setiap kenaikan harga di pusat akan mengalami multiplier effect di Mimika karena struktur biaya logistiknya memang tinggi,” kata Tuti.
Tingginya ketergantungan UMKM, pedagang, dan rumah tangga terhadap penggunaan plastik membuat tekanan harga sulit mereda dalam waktu dekat. Meski harga naik, permintaan belum tentu turun signifikan karena belum tersedia alternatif kemasan yang efisien dan terjangkau.
“Kondisi ini akan menekan margin usaha, terutama UMKM. Dalam banyak kasus, pelaku usaha akhirnya meneruskan beban biaya itu kepada konsumen,” ujarnya.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama, Tuti memperingatkan dampaknya bisa meluas terhadap inflasi daerah dan penurunan daya beli masyarakat.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah segera mengambil langkah mitigasi, mulai dari memperkuat konektivitas distribusi, menekan biaya logistik, hingga memberikan dukungan kepada pelaku UMKM.
“Pemerintah bisa mempertimbangkan subsidi terbatas, fasilitasi alternatif kemasan, serta strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor,” kata dia.
Tuti menegaskan, pengelolaan dampak menjadi kunci agar kenaikan harga plastik tidak semakin membebani pelaku usaha dan masyarakat. “Yang harus dilakukan sekarang adalah mengelola dampaknya secara tepat agar tekanan ini tidak berlarut-larut,” ujarnya.


























