JAYAWIJAYA — Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, memberikan pernyataan mengejutkan terkait kepemilikan kebun ganja oleh Egianus Kogoya, pimpinan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma.
Dalam rekaman suara yang diterima Galeripapua.com pada Kamis (12/6/2025) malam, Sebby menyebutkan kepemilikan dan penjualan ganja oleh pasukan TPNPB sebagai hal yang sah, selama tidak diedarkan di kalangan masyarakat sipil Papua.
“Kalau ganja itu dijual ke luar, tukar dengan senjata, kami tidak persoalkan. Tapi kalau dijual kepada orang asli Papua, itu bagian dari mendukung program genosida. Pejuang sejati tidak boleh menjual ganja kepada rakyatnya sendiri,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebby menambahkan bahwa menjual ganja ke masyarakat sipil hanya akan merusak generasi muda Papua, karena konsumsi berlebihan dapat menyebabkan kerusakan saraf, penurunan fungsi otak, hingga menjadi pemalas.
Dia pun sempat menyinggung kasus pribadi teman kuliahnya yang diduga mengalami gangguan jiwa akibat konsumsi ganja jangka panjang.
Namun demikian, dia menilai penjualan ganja dalam skala besar untuk tujuan mendapatkan senjata sebagai bagian dari strategi perjuangan bersenjata yang dianggap sah oleh TPNPB.
“Kalau pejuang tanam ganja untuk dijual ke negara lain dan tukar dengan senjata, itu baru kami dukung,” ujar Sebby dalam pernyataannya.
Untuk diketahui, pernyataan Sebby ini menanggapi temuan Satgas Operasi Damai Cartenz-2025, yang telah mengamankan sebuah ponsel milik Egianus Kogoya dalam peristiwa kontak tembak di Kampung Pugima, Jayawijaya, yang menewaskan Pionus Gwijangge alias Perampok Gwijangge, anak buah Egianus Kogoya.
Dalam ponsel tersebut, ditemukan dokumentasi yang memperlihatkan Egianus berada di kebun ganja miliknya di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo.

“Ponsel itu berisi foto dan video yang memperlihatkan aktivitas Egianus di kebun ganja. Kebun ini diduga kuat menjadi sumber pendanaan kelompoknya,” ungkap Faizal, Kamis (12/6/2025).
Selain dokumentasi visual, aparat juga menemukan dua ons ganja kering serta 25 butir amunisi kaliber 9 mm di lokasi berbeda, memperkuat dugaan bahwa jaringan Egianus tidak hanya menjalankan aksi kekerasan, tetapi juga terlibat dalam aktivitas ilegal narkotika untuk mendukung operasi mereka.








